"BACA TIDAK SELALU BUKU?"
Saya
harus membaca buku, membaca adalah cara mengetahui banyak hal, buku adalah
jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Siang ini ketika sedang berada di
ruangan bersama Pak PHU Ngada, kami bercerita tentang kondisi Kampung di Alor,
saya mendengarkan cerita Pak PHU. Sebab Alor adalah kampung asal beliu.
Di ruangan PTSP, Pak Naris sedang melayani
para guru Agama Katolik Non PNS untuk verifikasi berkas sebagai persyaratan
penerimaan insentif. Saya pagi tadi sempat membantu kerjaan Pak Naris walau sebentar saja. Saya sampe
saat ini masih bekerja di urusan PHU hingga PHU benar benar memiliki kantor
sendiri, dan terpisah dari Kemenag Ngada, sesuai arahan Pak Kakan Kemenag Ngada.
Tadi malam kami membaca KMA
(Keputusan Menteri Agama) tentang pengalihan Pegawai Kemenag ke Kementerian
Haji, teman seruangan saya Ibu Pertiwi akhirnya di panggil ke Kemenhaj. Kanwil
NTT di Kupang, tentu kabar gembira, dan pagi tadi saya menyampaikan proficiat
terhadap beliau.
Hari ini cuaca agak baik, saya
sempatkan diri makan siang bersama Pak Sensis guru SMP Teding di warung sambil
menunggu kehadiran Pak Antris Paku yang masih mengurus berkasnya di BRI. Mereka
berdua datang ke Kemenag untuk mengurus insentif guru, saya bertemu juga Pak
Jois guru dari Aimere, Pak OSS Ceme guru dari SDI Ngedukelu, dan Pak Agung guru
dari Aimere. Kami sempat foto bersama di luar ruangan, sebelum mereka mengurus berkasnya.
Saat saya kembali ke Kantor saya coba
mencari buku-buku filsafat saya yang saya copy dari Bapak Uskup Atambua
beberapa tahun lalu di Fakultas Filsafat Unwira, selama ini saya berpikir bahwa
buku-buku itu telah hilang. Setelah scroll Laptop akhirnya saya menemukan
ratusan buku tersebut di file yang memang agak susah saya temukan jika dicari
secara manual. Wah saya menjadi gembira sebab saya menemukan semua buku tersebut
dalam keadaan utuh, masih banyak dan tentu tidak ada yang saya hapus.
Dalam
hati saya berjanji untuk memburu, membaca semua buku ini sebagai balasan atas
S2 saya yang tertunda atau belum sempat. Selama ini saya selalu mendaftar
beawaiswa LPDP untuk bisa mendapatkan kesempatan lanjut S2 tetapi tiga kali
saya daftar semuanya gagal total. Panitia tentu tidak mengijinkan orang lanjut
s2 Filsafat seperti persis yang saya daftar, saya hanya ingin melanjut S2 saya ke Filsafat, ini pemikiran saya saat masih idealis, sekarang saya masih ingin S2 tetapi lebih realistis, s2 untuk kerja, membantu peningkatan kualitas diri dan lainnya, tidak harus Filsafat lagi.
Gagal dapatkan beasiswa s2 lewat
jalur LPDP tetapi jangan menyerah mencari ilmu. Baca adalah kuncinya. Saya memiliki
banyak waktu luang ketika pulang kantor, apalagi masa puasa, kami pulang jam tiga
sore, dan saya berkesempatan membaca buku sebanyak-banyaknya. Yeah minimal satu jam sehari di waktu sore dan satu jam sehari di waktu pagi, jikapun lebih banyak membaca lebih baik.
BACA
BUKU!. Baca tidak untuk pintar, tau banyak tetapi agar saya bijak, saya menjadi
filsuf, bisa menepis banyak krikikan orang, bisa memahami hidup secara lebih
baik, bisa membantu orang memahami, bisa mengatasi persoalan dengan baik. Baca buku
agar saya paham cara kerja dunia ini, cara kerja instansi, agar saya berisi,
tidak mudah dibodohi, tidak mudah dikelabui, biar orang jangan menyepelehkan
saya, baca biar isi kepala saya penuh dan siap untuk kondisi apapun ke depannya,
mungkin saja saya berkesempatan sekolah lagi, mungkin saya bisa menjadi
pemimpin, dan banyak hal, semua bisa jika saya memilik pemahaman yang luas,
pengetahuan yang mendalam. Baca buku.
Membaca
tidak selalu buku, tetapi yang saya maksudkan adalah baca buku. Saya memiliki
koleksi buku filsafat hampir 300 judul. Saya harus menghabiskanya dengan
membaca. Walau sebagian besar dalam bahasa Inggris, tetapi saya tidak takut,
saya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, saya bisa membaca buku dalam
bahasa Inggris.
Setiap
pulang kantor saya harus baca buku. Baca saja, mulai saja, perlahan menjadi
kebiasaan dan hoby. Saya memiliki hoby menulis, maka menulis tanpa membaca
isinya cuman hayalan, saya bosan membaca opini para DPRD Ngada, opini di Ngada
Bangkit yang tidak berisi, tidak puas untuk saya baca, tidak mendalam, tidak
memiliki dasar. Saya ingin bacaan yang berat, yang menantang otak dan pemikiran
saya.
Revew
buku, beberapa minggu lalu saya baru menyelesaikan bacaan
suatu buku berjudul psychology of money, bagaiamana sang penulis mengarahkan
agar uang itu diatur, kita hanya tau mencari uang tetapi kadang tidak tau
mengaturnya, tidak tau memanajemennya, kehabisan uang kadang dipengaruhi oleh
emosi, oleh keinginan yang tidak dikontrol secara baik. Saya sempat membaca
buku berjudul seni bersikap bodoh amat, tetapi baru di halaman awal saya tinggalkan
itu sebab saya tertarik dan mulai membacanya satu buku ini yang berjudul
Filofofi Teras.
Filosofi
Teras, judul ini ternyata adalah terjemahan
dari bahasa Yunani yang mau menjelaskan bagaiamana para penggagasnya awal
memperkenalkan filsafat ini bukan di ruang-ruang umum, tetapi di pinggiran, di
teras pasar, di luar Athena. Filosofi teras mengulas tantang stoik atau
stoisisme, yakni suatu ajaran filsafat Praktis yang mengajarkan tentang
bagaiman hidup, mengontrol diri, bahwasannya, kita tidak bis mengontrol apa
yang orang lain piker dan katakana tentang saya tetapi kita bisa mengontrol
reaksi kita terhadapnya.
So,
baca buku.
Bajawa,
11/03/2026
bezy_sintuz,
ruangan PHU Ngada
.jpeg)


