Naskah Actus Paskah 202
HARAPAN TIDAK PERNAH MATI
ADEGAN I
NARATOR:
Dengarlah, hai sekalian manusia yang hidup di atas bumi ini. Pada zaman ketika langit masih tampak begitu jauh dan bumi masih penuh misteri: ada seorang yang datang bukan demi takhta, bukan untuk menguasai dunia, tetapi untuk membawa cahaya pada kegelapan yang menyelimuti kita semua. Di kota Yerusalem yang penuh dengan kebisingan dan keramaian, pada hari yang panas menyengat tahun keempat puluh setelah kelahiran dunia yang baru, Yesus dari Nazaret dibawa keluar dari penjara bawah tanah. Ia telah ditahan karena tuduhan yang tidak pernah Ia akui, namun kini harus menghadapi pengadilan yang akan menentukan nasibnya selamanya. Setelah melalui tangan-tangan kasar penjaga dan ditelantarkan oleh teman-temannya sendiri, Ia kini berdiri di hadapan dunia yang telah menjatuhkannya. Ini adalah hari yang telah ditentukan jauh sebelum Ia lahir, hari di mana kasih akan diuji dengan ujian paling berat yang pernah ada.
(Tirai masih tertutup. Suara orang ramai terdengar dari balik tirai – suara teriakan, ejekan, dan suara kaki yang menginjak tanah keras)
SUARA PILATUS (Dari balik tirai)
SUARA RAKYAT (Serentak)
(Tirai terbuka perlahan. Latar menunjukkan halaman depan Istana Pilatus – tembok batu besar, pintu kayu berat, taman kecil dengan rerumputan di sisi kiri panggung)
(salah satu orang banyak lalu naik menuju anak tangga pertama di istana Pilatus sambil melemparkan tuduhan kepada Yesus dengan penuh kebencian)
Perwakilan orang banyak: Tuan, orang ini mengaku sebagai anak Allah, DIA HARUS DIBUNUH!!!!
Orang banyak menyahut sambil berteriak: BUNUH DIA, SALIBKAN DIA, SALIBKAN DIA!!!
PILATUS (Duduk di kursi tinggi kayu dan besi di tengah panggung, menghadap penonton)
Prajurit, bawa dia kemari!
(setelah itu, prajurit menyeret yesus ke panggung utama )
PILATUS : Imam besar, kemarilah,
(imam besar naik ke panggung dengan angkuh dan arogan)
Aku telah mendengar tuduhan-tuduhan terhadap lelaki ini. Ia mengaku sebagai Anak Allah,
(orang banyak semakin tidak terkendali, dan kembali berteriak bunuh dia, bunuh dia, salibkan dia!!!!!)
IMAM BESAR (Berdiri di sisi kanan Pilatus)
(orang banyak berteriak kembali sambil mengacungkan obor dan lilin, salibkan dia, salibkan dia, salibkan dia)
(Para penjaga membawa Yesus masuk dari sisi kiri panggung. Ia berjalan dengan langkah goyah, tubuhnya ditutupi selimut kain tipis, tapi tetap berdiri tegak)
YESUS (setelah teriakan orang banyak berhenti, yesus Berkata lembut)
PILATUS (Menoleh ke Imam Besar)
IMAM BESAR (Mengangkat suara)
(orang banhyak berteriak bunuh dia, bunuh dia, bunuh dia!!!)
PILATUS (Kepada Yesus)
YESUS (Menatap mata Pilatus)
(Suara orang ramai luar semakin keras – mereka menyerukan hukuman mati) salibkan dia salibkan dia, salibkan dia!!!
PILATUS (Menoleh ke prajurit)
(Para penjaga mengambil cambuk bertulang baja, mulai memukul punggung dan kaki Yesus. Darah mulai merembes dari tubuhnya)
(orang banyak kembbali berteriak, bunuh dia, bunuh dia, salibkan dia !!!!)
YESUS (Menunduk, tapi tetap berdiri)
Penjaga 1: saudaraku, bawalah salib itu kemari (berteriak kepada penjaga 2)
(penjaga 2 turun dari panggung, membawa salib kayu dari belakang panggung dan meletakannya di dekat Yesus)
Penjaga 2: ini adalah raja orang yahudi, marilah kita berikan mahkota yang layak baginya (sambil memakaikan mahkota duri di kepala Yesus)
(orang banyak kembali berteriak salibkan dia , salibkan dia, salibkan dia!!!)
YESUS (Berkata dengan suara yang hampir tak terdengar)
Penjaga 1: banyak omong kamu, pikul salib ini (emosi sambil mencambuk Yesus)
PILATUS (Berdiri dan berdiri menghadap orang banyak)
Prosesi salib Yesus dimulai (Layar ditutup perlahan)
Suasana panggung berubah menjadi Yesus yang tergantung di kayu salib
Layar dibuka,
puisi dibacakan sementara backgroundnya yesus yang tergantung di kayu salib.
Narrator: Setelah melalui segala penderitaan dan tuduhan yang tidak adil, Yesus kini terpaku pada kayu salib. Dunia melihatnya sebagai seorang yang berdosa, tapi hanya Dia yang tahu: semuanya dilakukan karena kasih yang tak terbatas. (layar mulai menutup perlahan. Suara musik khas Yerusalem terdengar lembut. Panggung redup total)
ADEGAN II : Kisah Keluarga Stefanus
Latar: Panggung tunggal dengan dekorasi rumah bambu sederhana, tungku tanah di sudut
kiri, meja kayu kecil di tengah, alas jerami di bagian depan
NARATOR
(Adegan Berlanjut di meja makan– Semua karakter berada di panggung )
MARIANNA (Sedang mengoleskan sedikit garam pada nasi yang ada di atas daun pisang)
STEFANUS (Duduk di atas alas jerami, mengambil sedikit nasi dengan jari)
(JERRY dan AVILLA keluar dari kamar kecil di belakang panggung, masih menggosok mata)
JERY:
Mama, saya tidak usah sekolah saja e…? Saya bisa bantu bapa kerja di sawah, cari uang sendiri daripada saya buat susah kalian.
Marianna: (Menarik tangannya perlahan, sapuan sedikit pada pipinya)
Avilla (Melihat teman-teman di luar pagar rumah dari kejauhan)
STEFANUS (Menghela nafas panjang)
Marianna (air mata jatuh perlahan)
Iya saya tahu, tapi bagaimana kalau kita tidak bisa lagi membiayai anak-anak? Sudah tiga musim panen kita gagal, tambah lagi kau yang suka utang sana-sini. Kau enak, ongkang-ongkang, (suara Marianna meninggi dan berdiri seolah menantang stefanus)
Stefanus:
Ongkang-ongkang kau bilang? Supaya kau tau e Marianna, saya utang tuh untuk kita semua. Untuk kebutuhan rumah tangga dan uang sekolah anak-anak. Baru sekarang kau gampang saja omong saya hanya mau yang enak, tolong Marianna ubah cara pikir tuh. ( suara meninggi dan emosi sambil menolak kepala Marianna )
Jerry (Melihat orang tuanya dengan wajah khawatir)
Bapa-mama, kalau memang tidak mampu, saya bisa berhenti sekolah saja. Bantu kalian di sawah atau cari pekerjaan lain.
STEFANUS (Menepuk pundaknya suaranya mulai tenang)
Jerry: Baiklah kalau begitu. Bapa mama Kami berangkat dulu ke sekolah.
(Keduanya bergegas keluar tanpa mengenakan sepatu sekolah.)
ADEGAN III
NARATOR:
Setelah tiga musim berturut-turut mengalami kegagalan panen, keluarga Bapak Stefanus harus menghadapi kenyataan yang pahit. Hanya sedikit padi yang bisa diselamatkan dari serangan hama yang melanda. Hari ini, mereka akan menjemur hasil panen yang sedikit itu, sebagai harapan terakhir untuk hidup.
(ADEGAN BERLANJUT, Marianna membersihkan kotoran di padi yang sedang dijemur)
Marianna (Sedang menata beberapa karung kecil berisi gabah)
STEFANUS (membantu Marianna merapikan padi yang sedang dijemur)
Setelah tiga tahun, saya benar-benar putus asa. Tapi, yah.. mau bagaimana lagi. kita tidak bisa menyerah begitu saja. Tapi…..Kita harus kuat. Anak-anak masih membutuhkan kita.
Tuhan, tolong ko…..berikan kami jalan keluar dari situasi sulit ini.
Mariana
Stefanus :
Mama, saya ke kebun dulu. Tolong jemur lagi padi yang ada nih sambil tunggu anak-anak pulang dari sekolah baru giling.
(stefanus mengambil parang dan pacul lalu berangkat ke kebun, sementara mariana merapikan padi yang sementara di jemur )
NARATOR
ADEGAN IV
NARATOR
Matahari sudah mulai menguning di ufuk tengah hari, menyinari tanah dan rerumputan yang kering. Anak-anak pulang sekolah dengan perut yang kosong, sementara di rumah tidak ada sedikit pun beras untuk dimasak. Setiap napas membawa rasa lapar yang menusuk.
(ADEGAN BERLANJUT)
Jerry dan Avilla
Marianna : siang juga anak-anak mama yang ganteng dan cantik nih.
(jerry dan avilla segera berjalan menuju meja makan)
Jerry: mama, Kami lapar sekali….
Avilla : iya mama lapaaaaaaarrrrr sekali kami, nih pengaruh tidak makan pagi
MARIANA (Istri stefanus sedang duduk menyortir biji padi yang menghitam)
Anak-anak e mama minta maaf… hari ini kita tidak punya beras untuk masak....kita jemur sedikit dulu baru kita giling.
(stefanus masuk ke panggung setelah meneyelesaikan pekerjannya di kebun, dia mendengar keluhan kedua anaknya tadi lalu menyahut panik)
STEFANUS : selamat siang……, mama kenapa nih? kamu semua macam tegang sekali?(Melihat anak-anak dengan wajah khawatir)
Marianna: siang juga bapa, aduh bapa kasian nih ko anak-anak lapar dari tadi pagi tuh belum makan.
Stefanus:
Jerry : baik bapa
(jerry dan avilla segera berdiri dan keluar dari panggung sambil memikul padi)
Layar ditutup (suasana panggung diganti menjadi seperti lokasi penggilingan padi)
Backsound mesin giling mulai dibunyikan, layar dibuka perlahan
Jerry : selamat sore om, bisa giling kami punya padi kah om?
ADEGAN V
OPERATOR 1(Operator mesin giling)
Jerry (Menunduk)
OPERATOR 2
Operator 1: (dengan nada kasar dan keras) Pulang sudah kamu, bikin beban giling saja.
Avilla (Anak bungsu, mulai terengah-engah)
( avilla terjatuh dan tergeletak di jalan tanah merah yang panas. Badannya gemetar, bola mata mulai memutih)
Jerry (Menangis meraih tangan adiknya)
Layar ditutup (latar panggung diubah menjadi puskesmas)
NARATOR
Setiap langkah pulang membawa beban yang sama beratnya dengan kayu salib yang Yesus sandang. Di tengah jalan yang panjang dan panas, harapan untuk makan malam perlahan sirna .
NARATOR
Layar dibuka perlahan
(ADEGAN BERLANJUT)
Jerry (Sambil sambil membopong avilla)
(Mereka sampai di puskesmas kecil: bangku kayu di depan pintu, beberapa rak obat di dinding belakang)
ADEGAN VI
PERAWAT (Menghampiri JERRY)
Jerry (Bibir menggigil karena lapar)
PERAWAT (Memeriksa kondisi avilla dengan cepat)
Jerry: baik ibu (sambil berlari ke samping panggung)
Perawat: makan dulu e ade, sebentar lagi pasti sudah aman.
(dari arah depan panggung, stefanus, Marianna, dan jery berlari cepat menuju puskesmas)
STEFANUS (Menuju ke arah avilla panik)
Marianna (Suara histeris)
(sambil menatap ke arah perawat harap-harap cemas)
PERAWAT
STEFANUS (Mnutup wajah dengan kedua tangan)
Perawat :
Tenang om Fanus, dia sudah baikan. Hari ini sudah boleh langsung pulang, dan tolong jangan paksakan dia untuk kerja berat di usia ini, karena sangat berisiko nanti.
STEF (sedikit khawatir)
(mereka sekeluarga menuruni panggung, lalu jerry segera memikul karung padi yang ditainggalkan di lantai bawah tadi)
Jerry (Membawa setengah karung padi yang ditinggalkan di jalan tadi)
Mama, Bapa,,, ini karung saya bawa pulang. Biar kita pake tumbuk sendiri saja sampe di rumah.”
Mariana ( menganggukan kepala sambil memegang bahu jerry)
NARATOR
layar ditutup perlahan
(suasana panggung kembali ke suasana rumah)
ADEGAN VII
NARATOR
(layar dibuka)
(ADEGAN BERLANJUT)
(avilla duduk di kursi kayu kecil di depan rumah, badan masih sedikit bengkak karena pemulihan. Jerry berdiri di sisinya, sudah memutuskan tidak ke sekolah hari ini. Stefanus sedang merapikan ujung alas jemuran jerami yang sudah aus. Meri duduk di sisi alas jemuran tanpa berkata apa-apa)
STEFANUS (Merapikan ujung alas jemuran)
Jerry (Meratakan padi yang basah)
Baik bapa, ini mungkin bisa laku sedikit kalau sudah agak kering.
Mariana (Duduk sambil membantu merapikan padi yang sedang dijemur)
Iya, Semoga saja bisa terjual dengan harga yang layak.
(Suara angin bertiup kencang, menyapu sebagian padi yang terbawa angin)
STEFANUS
Tuhan e macam susah sekali saya punya hidup nih ko. (backsound motor koperasi dimainkan)
PETUGAS KOPERASI (Suara keras dan dan lantang)
Fanus!..... selamat siang.....(sambil menarik sisa rokok di tangannya) Kapan ko kamu mau
bayar utang nih. Sudah tiga bulan kau janji tapi sama saja, hanya mau beban Negara saja!
(avilla yang sedang duduk kaget dan ketakutan)
Avilla (berlari ke arah mamanya)
Mama, itu siapa? saya takut…
Mariana (sambil memeluk avilla)
Tidak apa-apa, mereka itu pegawai koperasi, tenang saja, ada mama di sini.
PETUGAS KOPERASI (Sikap kasar)
Kalian sudah pinjam banyak uang katanya mau beli obat dan pupuk, tapi hasilnya hanya begini?. Ini tidak bisa dapat uang untuk tutup utang kalian. Saya sudah beri waktu beberapa bulan, tapi hasilnya sama saja.
STEFANUS (sambil berjalan ke arah avilla yang menangis)
Saya akan jual padi ini untuk bayar utang kami, tapi tolong pak, kasi kami waktu (sambil menenangkan avilla)
PETUGAS KOPERASI (Sikap kasar)
Kalau tidak bisa bayar dalam seminggu lagi, kami akan ambil semua yang kalian punya sebagai pembayaran utang! Bahkan anak-anak ini bisa saja kami bawa dan akan lebih berguna di tangan kami.
(avilla tiba-tiba menangis dengan keras karena ketakutan)
Avilla (Menangis)
Mama, saya takut…
Mariana (Menghampiri anaknya) Tidak apa-apa, ada mama di sini. Mereka tidak mungkin bawa kalian.
(pegawai koperasi meninggalkan rumah itu sambil menatap tajam kea rah stefanus dan mariana)
(Petugas koperasi pergi dengan sikap kasar, kaki menginjak tanah keras hingga menggelegar. Suara mereka hilang di kejauhan, tapi ketakutan masih menyelimuti keluarga ini)
NARATOR
Setiap kata yang diucapkan membawa beban yang sama dengan apa yang Yesus rasakan. Namun dalam setiap kesusahan, ada kesabaran dan cinta yang tak terucapkan, seperti benang yang menghubungkan hati satu sama lain.
ADEGAN VIII
NARATOR
Udara terasa sangat berat walau matahari mulai mereda. Setiap hembusan angin membawa bayangan kesusahan yang menusuk tulang. Keluarga ini terjepit antara harapan yang sirna dan kenyataan yang menusuk seperti keris yang diasah tajam.
(ADEGAN BERLANJUT)
(avilla masih menangis ketakutan di pelukan ibunya, tubuhnya bergoyang kaget. Stefanus berdiri dengan wajah penuh kemarahan dan kesusahan yang meluap-luap)
STEFANUS (Menatap jauh ke arah jalan yang sudah kosong)
Tuhan, beri kami kekuatan untuk hadapi semua ini.
STEFANUS (Menangis terdengar)
Saya sudah coba segala cara yang bisa saya lakukan, tapi hasilnya sama saja.
Mariana (Menangis sambil memeluk avilla, mariana tiba-tiba meledak emosinya, suara tinggi menggema di halaman rumah yang sunyi)
Ini hasil dari yang kau buat e fanus! Berani sakali pinjam uang banyak... padahal tahu hasil panen tidak akan cukup! Kau yang buat anak-anak kita kelaparan dan sakit! Kau yang buat kita semua terjebak dalam kesulitan!" ini semua ulah kau e fanus saya nih yang pusing tiap hari orang datang tagih kau punya utang. (nada suara mariana tinggi dan mukanya merah menahan emosi)
STEFANUS (Wajah merah memerah, tangan gemetar dengan nada membentak) Iya memang saya berani utang. Saya hanya ingin berikan yang terbaik untuk keluarga kita! Kau juga tahu kita susah sekali untuk dapatkan sesuatu bahkan untuk makan minum saja kita kewalahan. Iyu juga alas an kenapa kita harus utang, bukan hanya untuk kesenangan saya saja e rina supaya kau sadar ini. (stefanus menolak kepala Marianna sambil memukul meja)
(avilla mulai menangis dengan keras sementara jerry terduduk lesu dan tidak berdaya menatap ke tanah )
Mariana (Menangis keras, tubuh bergoyang)
Yang terbaik? Apanya yang terbaik? Anak-anak kita hampir mati kelaparan karena kau punya utang yang menumpuk! Hanya ada lima karung padi dari yang seharusnya ratusan! Itu juga ulah kamu! Dan fanuss yang kau ingat hanya utang, utang, dan utang! Kau tidak pernah pikir susahnya kami, susahnya kita semua
(intesitas suara tetap meninggi bahkan sedikit berteriak)
STEFANUS (Menerjang ke depan, suara menggema)
Saya sudah berusaha setiap hari! Pagi sampai malam saya kerja di sawah, tapi hama datang dan menghancurkan segalanya! Kau pikir itu semua ulah saya.... dan kau hanya duduk diam tidak buat apa-apa?
Mariana (Mengambil kantong kecil, bergegas pergi)
Tidak buat apa-apa kau bilang? Oke fanus kalau memang menurut kau begitu, saya memang tidak bisa buat apa-apa, lebih baik saya pergi saja dari ini rumah nih!
Jerry (Menangis melihat ibunya pergi)
Mama, tunggu dulu! Mamaaaa maamaaaaaa
Avillla (Menangis lebih keras)
Mama jangan pergi… saya takut…
STEFANUS Menangis
layar ditutup
seting panggung tidak diubah
ADEGAN IX
NARATOR (Suara penuh kesedihan)
Setiap kata yang terucapkan seperti batu yang dilempar dengan keras, menusuk hati seperti yang Yesus rasakan di kayu salib. Kesedihan dan rasa bersalah meluap seperti banjir yang tak terkendali, menyelimuti semua yang ada di sekitar mereka.
NARATOR
Setelah pertengkaran yang dahsyat dan kepergian Marianna , suasana rumah menjadi sepi seperti kuburan yang sunyi. Setiap bayangan yang muncul membawa beban yang sama dengan apa yang Yesus rasakan: penuh dengan penderitaan dan kesusahan yang tiada tara.
Layar dibuka
(ADEGAN BERLANJUT)
(Avilla masih menangis di lantai rumah, sementara Stefanus berdiri dengan wajah penuh kesusahan dan rasa bersalah yang mendalam. Udara mulai menjadi gelap, langit mendung seperti akan hujan)
STEFANUS (Menatap jauh ke arah jalan yang sudah kosong)
Tuhan ee… apa lagi yang harus saya lakukan?
(jerry datang dari panggung bagian depan setelah mengejar ibunya yang pergi. Napasnya terengah-engah, wajahnya penuh dengan kesusahan dan kekhawatiran)
Jerrry
Bapa… mama mau pergi kemana? Saya sudah kejar, tapi mama terus lari...
Stefanus
Jangan tinggalkan mama,... jerry ... kau ikut dengan mama, supaya dia tidak sendiri. (Menangis terdengar) Ini semua salah Bapa…bapa sudah buat mama tersinggung dan pergi seperti itu.
(avilla masih menangis di lantai rumah, tubuhnya bergoyang karena ketakutan yang belum hilang. Stefanus mendekat dan memeluknya dengan lembut)
STEFANUS
(berjalan ke arah avilla sambil membujuknya)
Tidak apa-apa avilla .…Bapa ada di sini.
(Langit mulai mendung, angin bertiup kencang menyapu halaman rumah. Padi yang sedang dijemur mulai terbawa angin ke segala arah. Stefanus bergegas mengangkat jemuran sambil memerintahkan avilla masuk ke rumah)
STEFANUS
Avilla... masuk saja dulu ke kamar, tunggu Bapa di dalam…..Bapa masih urus padi, sebentar
Baru bapa masuk)
(Setelah merapikan jemuran dan menyimpannya ke dalam rumah, Stefanus merasa sangat putus asa. Dia melihat tali yang ada di dapur, lalu mengambilnya dengan perlahan. Langkahnya berat menuju hutan belakang rumah yang sunyi dan sepi)
ADEGAN X
STEFANUS (Berlutut di bawah pohon, tali di tangan, suara pecah))
Ini mungkin akhir dari semua kesalahan dan kesusahan yang saya perbuat.
Tuhan,, saya sudah berusaha. Saya sudah kerja pagi sampai malam. Tapi kenapa anak-anak saya tetap lapar?....saya gagal sebagai suami....gagal sebagai bapa...kalau hidup saya hanya
membawa susah untuk mereka...mungkin lebih baik saya pergi...supaya beban ini berhenti di sini...
Tuhan....kalau Engku masih mendengarkan saya...maka maafkan saya...
(Dia berdiri perlahan dan mengikat tali pada dahan pohon yang kokoh. Dengan hati yang penuh keputusasaan, dia mulai mengangkat tubuhnya ke atas. Beberapa saat kemudian, tubuhnya menggantung di udara: tidak ada suara kecuali angin yang berhembus dan daun yang bergoyang)
NARATOR (Suara penuh kesedihan)
Setiap nyawa yang tergantung di udara membawa beban yang sama dengan apa yang Yesus rasakan di kayu salib. Kesedihan dan kehancuran melanda seperti banjir yang tak terkendali, menyelimuti segala yang ada di sekitar mereka.
NARATOR
Setelah pertengkaran yang dahsyat dan kepergian Mariana, suasana di rumah menjadi sepi seperti sore yang panjang. Udara mulai dingin, langit mendung seperti akan hujan. Stefanus tergantung beberapa menit di atas pohon di hutan belakang rumah, matanya sudah mulai menutup perlahan, tubuhnya tidak bergerak lagi......
Ketika Stefanus tergantung di atas pohon, dunia sekitarnya mulai pudar. Ia merasa seperti sedang terbang ke suatu tempat yang jauh, jauh dari semua kesusahan di dunia nyata. Langit tampak putih bersih,....
dan tiba-tiba ia menemukan diri berada di sebuah tempat yang sangat terang dan damai. Sempat ia bertanya, Dimanakah tempat ini?.....Namun, tiba-tiba beberapa sosok hitam muncul dari balik kabut dan siap menangkapnya.
(sosok hitam penari teatrikal naik ke panggung)
Sebagai proyeksi diri Stefanus yang berada di ambang Kematian
Aksi Teatrikal You Where There dipentaskan oleh Anak SMA/OMK
https://youtu.be/xrm6D49SnhQ?si=JocQB0xwMrhoeH8n
(setelah dipentaskan, Stefanus merasa tubuhnya terangkat perlahan, lalu merasa seperti jatuh dari ketinggian. Ketika dia membuka mata, dia sudah terbaring di bawah pohon, tali yang mengikatnya putus akibat berat tubuhnya, membuatnya jatuh ke tanah yang lembab)
ADEGAN XI
NARATOR
Setelah mendung yang mencekam, perlahan awan mulai menipis di langit dan matahari mulai bersinar lembut. Lalu, sebuah keajaiban terjadi: Stefanus tidak pergi meninggal dunia. Tubuhnya terjatuh dari pohon ketika tali putus akibat beban tubuhnya dan getaran yang terjadi. Ia terbaring di tanah basah, napasnya sesak tapi masih ada. Dunia sekitarnya tampak kabur, tapi rasa ingin hidup mulai muncul kembali seperti cahaya pagi yang menerangi kegelapan. Bukan hanya tali itu yang putus...Tetapi kuasa keputusasaan dipatahkan. Bukan hanya tubuhnya yang jatuh ke tanah...Tetapi maut gagal merenggut hidupnya. Sebab pada malam paskah, yang tergantung di Kayu Salib telah lebih dahulu mengalahkan kematian.
Stefanus terbaring di tanah hutan yang lembab, matanya perlahan terbuka. Cahaya matahari menyelinap melalui dedaunan pohon, menyinari wajahnya yang pucat. Dia merasakan rasa sakit yang menusuk di leher dan tubuhnya, tapi di dalam dada ada rasa ingin hidup yang semakin kuat
STEFANUS (Bibir bergetar, suara pelan)
Saya tidak akan menyerah lagi… saya harus kembali untuk anak-anak.
(Dia berusaha berdiri dengan susah payah, tubuhnya masih gemetar dan sakit. Langkahnya goyah saat berjalan keluar dari hutan menuju rumah. Di depan rumah, dia melihat avilla yang masih menangis di lantai, sedang menunggunya dengan penuh kekhawatiran)
Avilla (Melihat ayahnya datang)
Bapak… saya takut bapak tidak akan datang lagi.
STEFANUS (Mendekat dan memeluknya erat)
"Maafkan bapak… bapak tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi."
(Tiba-tiba suara kaki berlari terdengar dari kejauhan. Jerry datang berlari dengan wajah penuh harapan, di belakangnya Meri yang sudah tenang dan tidak menangis lagi)
Jerry (Menangis sambil berlari)
Bapa! Bapa baik-baik saja kah?"
Mariana (Mendekat dengan wajah penuh kesedihan dan rasa bersalah) bapa… maafkan saya… saya seharusnya tidak pergi tadi
STEFANUS (Menangis sambil memeluk istri dan anak-anaknya)
Kita semua harus bersama-sama menghadapi ini. Saya tidak akan pernah lagi melakukan hal yang bodoh seperti itu. Mari kita bereskan rumah ini dulu. Bersihkan patung dan gambar-gambar kudus yang kita punya dan disimpan di tempat yang layak. Siapkan juga altar hari ini sebenarnya ada misa KUB di rumah kita, ada romo yang datang misa.
Marianna: anak-anak bantu mama mau siap altar ee, jangan sedih lagi kita pasti baik-baik saja.
Jerry dan Avilla: Baik mama
Layar ditutup
(semua crew mulai membereskan panggung seolah anggota KUB , panggung dibagi menjadi dua lorong berhadapan , dengan altar tepat berada di tengah)
(semua crew langsung duduk di panggung untuk selanjutnya mengikuti potongan adegan perayaan ekaristi)
(layar dibuka perlahan)
ADEGAN XII
NARATOR
Setelah kejadian menegangkan yang dialami keluarga Stefanus, semua anggota KUB mulai berdatangan untuk menghadiri perayaan Ekaristi kunjungan KUB di rumah keluarga stefanus. Rumah yang sederhana namun penuh kehangatan sudah dipenuhi oleh umat yang datang dengan hati. (saat narrator membacakan bagian ini, romo memasuki panggung dari arah depan sambil menyapa dan menjabat tangan umat KUB yang menghadiri misa)
(ADEGAN BERLANJUT)
ROMO
Marilah kita mulai perayaan ini dengan membaca Bacaan Injil hari ini, yang diambil dari Markus 10:45: 'Sebab Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang’.
(Setelah membaca Bacaan Injil, Romo mulai memberikan renungan)
ROMO
Sauda-saudara sekalian, ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Yesus tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Dan Ia tdak menyelamatkan kita sendirian. Ia membentuk komunitas Gerejanya. Artinya, keselamatan bukan hanya tentang doa pribadi...tetepi soal kita saling memikul beban. Kalau ada satu keluarga lapar, seluruh Gereja sebenarnya sedang lapar. Kalau ada satu orang hampir menyerah, seluruh tubuh Kristus dipanggil untuk menopangnya. Kebangkitan bukan hanya mukjizat di kubur kosong. Kebangkitan terjadi ketika kita memutus rantai utang, ketika kita membuka tangan , ketika kita tidak membiarkan saudara kita tergantung sendirian.
Narrator: Umat mendengarkan dengan penuh perhatian, hati mereka terbuka untuk menerima pesan ini dan setelah pembacaan Injil dan renungan, setelah itu, Romo mengajak semua orang untuk saling berbagi dan membantu sesama. Setelah perayaan selesai, stefanus mendekati Romo untuk berbicara secara pribadi.
STEFANUS (Suara sedikit bergetar)
Romo… saya ingin cerita sedikit tentang semua hal yang saya alami. Dari utang yang menumpuk, hingga saat saya hampir mengakhiri hidup di hutan belakang rumah.
ROMO (sambli menunduk sedikit)
Baiklah, saya mendengarkan....
(Romo mendengarkan dengan penuh kasih semua hal yang diceritakan oleh Stefanus, kemudian menepuk bahu stefanus dengan lembut)
ROMO
Saudara stefanus, kamu telah melalui ujian yang lebih dari cukup. Tapi Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Kita akan bersama-sama menemukan jalan keluar untukmu dan keluarga. Yang terpenting bahawa anda terus memberi jalan yang benar bagi keluarga anda untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Tuhan tidak menyelamatkanmu dari pohon itu supaya kamu kembali memikul beban sendirian. Ia menyelamatkanmu supaya kamu belajar meminta tolong. Dan Gereja ini bukan tempat orang sempurna, tetapi tempat orang yang hampir hancur, lalu dipulihkan bersama.
Stefanus: romo, terima kasih atas nasihat dan penguatannya. Setelah ini romo saya mohon ijin untuk menyampaikan sedikit kesaksian dalam hidup saya, supaya semua tetangga saya anggota KUB, tidak mengikuti perbuatan saya dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Romo: oh boleh sekali om fanus, tapi saya setelah ini akan langsung ke KUB sebelah
(romo meninggalkan panggung, setelah berjabatan tangan dengan anggota KUB dan stefanus)
(ADEGAN BERLANJUT)
ADEGAN XIII (PENUTUP)
STEFANUS (maju ke ujung panggung Melihat ke arah semua orang sementara semua anggota KUB yang adalah crew aktus mendengarkan epilog om fanus)
Saudara-saudara sekalian, hari ini kita bisa merasakan hasil dari kerja sama yang kita bangun bersama. Semua ini karena kasih Tuhan yang selalu menyertai kita.
EPILOG:
(Dengan lantang)
Kita adalah mereka yang pernah tersesat… Kita adalah mereka yang pernah menyakiti… Kita adalah mereka yang pernah melukai....
Kita adalah mereka yang menyembunyikan kebenaran...
Kita adalah mereka yang pernah berdosa… Tetapi,.... adalah kasih-Nya yang menyinari... Kasih yang hidup dalam Yesus Kristus...
Yang mati demi kita semua..
3 hari kemudian Ia bangkit,,, hidup kembali!
Dan jika hari ini kita masih berdiri...itu karena Ia lebih dahulu bangkit untuk kita... Tubuh dan darah-Nya adalah keselamatan bagi kita
KEMULIAAN KEPADA BAPA DAN PUTRA DAN ROH KUDUS seperti pada permulaan……….
LAYAR DITUTUP PERLAHAN ACTUS SELESAI


Tidak ada komentar:
Posting Komentar