Kamis, 26 Maret 2026

Aktus Paskah OMK Parma 2026

 Naskah Actus Paskah 202

                                       HARAPAN TIDAK PERNAH MATI

 

ADEGAN I

 Latar:  Panggung  tunggal  dengan  latar  belakang  kain  gambar  Istana  Pilatus,  Yerusalem kuno.

 

NARATOR:

Dengarlah, hai sekalian manusia yang hidup di atas bumi ini. Pada zaman ketika langit masih tampak begitu jauh dan bumi masih penuh misteri: ada seorang yang datang bukan demi takhta, bukan untuk menguasai dunia, tetapi untuk membawa cahaya pada kegelapan yang menyelimuti kita semua. Di kota Yerusalem yang penuh dengan kebisingan dan keramaian, pada hari yang panas menyengat tahun keempat puluh setelah kelahiran dunia yang baru, Yesus dari Nazaret dibawa keluar dari penjara bawah tanah. Ia telah ditahan karena tuduhan yang tidak pernah Ia akui, namun kini harus menghadapi pengadilan yang akan menentukan nasibnya selamanya. Setelah melalui tangan-tangan kasar penjaga dan ditelantarkan oleh teman-temannya sendiri, Ia kini berdiri di hadapan dunia yang telah menjatuhkannya. Ini adalah hari yang telah ditentukan jauh sebelum Ia lahir, hari di mana kasih akan diuji dengan ujian paling berat yang pernah ada.

 

(Tirai masih tertutup. Suara orang ramai terdengar dari balik tirai  suara teriakan, ejekan, dan suara kaki yang menginjak tanah keras)

 

SUARA PILATUS (Dari balik tirai)

 "Siapakah yang akan kamu pilih untuk lepaskan? Yesus dari Nazaret atau Barabbas yang telah membunuh orang banyak?" (tenang dan berwibawa)

 

SUARA RAKYAT (Serentak)

 "lepaskan Barabbas! Lepaskan Barabbas!"

 

(Tirai terbuka perlahan. Latar menunjukkan halaman depan Istana Pilatus  tembok batu besar, pintu kayu berat, taman kecil dengan rerumputan di sisi kiri panggung)

 (salah satu orang banyak lalu naik menuju anak tangga pertama di istana Pilatus sambil melemparkan tuduhan kepada Yesus dengan penuh kebencian)

 

Perwakilan orang banyak: Tuan, orang ini mengaku sebagai anak Allah, DIA HARUS DIBUNUH!!!!

Orang banyak menyahut sambil berteriak: BUNUH DIA, SALIBKAN DIA, SALIBKAN DIA!!!

 

PILATUS (Duduk di kursi tinggi kayu dan besi di tengah panggung, menghadap penonton)

Prajurit, bawa dia kemari!

(setelah itu, prajurit menyeret yesus ke panggung utama )


PILATUS : Imam besar, kemarilah,

(imam besar naik ke panggung dengan angkuh dan arogan)

Aku telah mendengar tuduhan-tuduhan terhadap lelaki ini. Ia mengaku sebagai Anak Allah,

(orang banyak semakin tidak terkendali, dan kembali berteriak bunuh dia, bunuh dia, salibkan dia!!!!!)

 

IMAM BESAR (Berdiri di sisi kanan Pilatus)

 Betul tuan Pilatus, orang ini mengaku sebagai anak Allah, Dia telah  menyimpang dari ajaran yang  benar  dan membuat orang sesat! dia harus dihukum mati! (sambil menatap yesus penuh kebencian dan rasa menang)

(orang banyak berteriak kembali sambil mengacungkan obor dan lilin,  salibkan dia, salibkan dia, salibkan dia)

(Para penjaga membawa Yesus masuk dari sisi kiri panggung. Ia berjalan dengan langkah goyah, tubuhnya ditutupi selimut kain tipis, tapi tetap berdiri tegak)

 

YESUS (setelah teriakan orang banyak berhenti, yesus Berkata lembut)

 Aku datang bukan untuk meraih kekuasaan, melainkan untuk memberikan hidup.

 

PILATUS (Menoleh ke Imam Besar)

 Lihatlah, aku tidak menemukan kesalahan pada orang ini, Apa yang harus kulakukan? Bukti tidak cukup untuk menghukumnya mati."

 

IMAM BESAR (Mengangkat suara)

 Tetapi tuahn Pilatus, kami semua tahu, bahwa Dia telah membuat orang banyak tersesat! Oleh karena itu, Dia harus dibunuh!"

(orang banhyak berteriak bunuh dia, bunuh dia, bunuh dia!!!)

 (Para penjaga menarik tangan Yesus, membuatnya berdiri tepat di depan kursi Pilatus)

 

PILATUS (Kepada Yesus)

 "Apakah Engkau benar-benar Anak Allah?"

 

 

YESUS (Menatap mata Pilatus)

 Engkau sendiri yang mengatakan!

 

(Suara orang ramai luar semakin keras – mereka menyerukan hukuman mati) salibkan dia salibkan dia, salibkan dia!!!

 

PILATUS (Menoleh ke prajurit)

 "Prajurit, cambuk dia!"

(Para penjaga mengambil cambuk bertulang baja, mulai memukul punggung dan kaki Yesus. Darah mulai merembes dari tubuhnya)

(orang banyak kembbali berteriak, bunuh dia, bunuh dia, salibkan dia !!!!)

 

YESUS (Menunduk, tapi tetap berdiri)

 "Bapa jangan biarkan mereka tersesat…"

 (Para  penjaga  berhenti  memukul. Namun orang banyak berteriak semakin kuat sambil mengacungkan obor )

Penjaga 1: saudaraku, bawalah salib itu kemari (berteriak kepada penjaga 2)

(penjaga 2 turun dari panggung, membawa salib kayu dari belakang panggung dan meletakannya di dekat Yesus)

 

Penjaga  2:    ini adalah raja orang yahudi, marilah kita berikan mahkota yang layak baginya (sambil memakaikan mahkota duri di kepala Yesus)

 (orang banyak kembali berteriak salibkan dia , salibkan dia, salibkan dia!!!)

 

YESUS (Berkata dengan suara yang hampir tak terdengar)

 "Aku lakukan ini karena kasih-Ku pada kamu semua

 

Penjaga 1: banyak omong kamu, pikul salib ini (emosi sambil mencambuk Yesus)

 

PILATUS (Berdiri dan berdiri menghadap orang banyak)

 Hai kalian semua, ingatlah, Ini adalah hukuman untuk orang yang mengaku sebagai Raja!

 (Suara  guntur  terdengar  jauh.  Langit  yang  tadinya  cerah  menjadi  mendung.  Lampu panggung redup sedikit)

 

Prosesi salib Yesus dimulai (Layar ditutup perlahan)

 

Suasana panggung berubah menjadi Yesus yang tergantung di kayu salib

Layar dibuka, 

puisi dibacakan sementara backgroundnya yesus yang tergantung di kayu salib.

 

Narrator: Setelah melalui segala penderitaan dan tuduhan yang tidak adil, Yesus kini terpaku pada kayu salib. Dunia melihatnya sebagai seorang yang berdosa, tapi hanya Dia yang tahu: semuanya dilakukan karena kasih yang tak terbatas.  (layar mulai menutup perlahan. Suara musik khas Yerusalem terdengar lembut. Panggung redup total)


ADEGAN II : Kisah Keluarga Stefanus

Latar: Panggung tunggal dengan dekorasi rumah bambu sederhana,  tungku tanah di sudut

kiri, meja kayu kecil di tengah, alas jerami di bagian depan

 

NARATOR

 Di pagi hari yang masih dingin, sebelum sinar matahari benar-benar menyentuh tanah, ada sebuah rumah kecil yang telah lebih dahulu terjaga dari tidur malamnya. Di sanalah, bapaStefanus bersama istrinya, Meri, serta JERRY dan AVILLA anak-anaknya.... sudah terbangun untuk menghadapi hari yang penuh tantangan. Setiap sudut rumah menyimpan cerita tentang kekurangan yang mereka rasakan setiap hari.   Setiap pagi datang dengan beban yang sama beratnya, seperti beban kayu salib yang Yesus tanggung sendirian. Di rumah ini, setiap biji beras bernilai lebih dari emas, setiap tetes keringat bernilai lebih dari permata.

 

(Adegan Berlanjut di meja makan Semua karakter berada di panggung )

 

MARIANNA (Sedang mengoleskan sedikit garam pada nasi yang ada di atas daun pisang)

 Bapa mari...kita makan,... ini saja yang ada untuk sarapan pagi... hanya nasi dan sedikit air garam.

 

STEFANUS (Duduk di atas alas jerami, mengambil sedikit nasi dengan jari)

 Cukup sudah mama… kita harus berbagi yang ada. Anak-anak juga perlu makan sebelum pergi ke sekolah.

 

(JERRY dan AVILLA keluar dari kamar kecil di belakang panggung, masih menggosok mata)

 

JERY:

Mama, saya tidak usah sekolah saja e…? Saya bisa bantu bapa kerja di sawah, cari uang sendiri daripada saya buat susah kalian.

 

Marianna: (Menarik tangannya perlahan, sapuan sedikit pada pipinya)

 Tidak  boleh. Sekolah tu satu-satunya jalan keluar dari semua kesusahan. Bapak dan mama dulu tidak sekolah, akhirnya hidup susah terus begini.

 

Avilla  (Melihat teman-teman di luar pagar rumah dari kejauhan)

 Mama e, di sekolah tuh, teman-teman jajan setiap hari, hanya saya yang tidak. Boleh kah saya minta sedikit uang jajan?

 

STEFANUS (Menghela nafas panjang)

 Tidak perlu beli jajan, kita sudah susah untuk dapatkan uang. Kita semua tahu kalau uang tidak cukup untuk semua kebutuhan. Tapi kita harus tetap berusaha, untuk masa depan kalian berdua. (konflik ringan mulai terasa)

 

Marianna  (air mata jatuh perlahan)

Iya saya tahu, tapi bagaimana kalau kita tidak bisa lagi membiayai anak-anak? Sudah tiga musim panen kita gagal, tambah lagi kau yang suka utang sana-sini. Kau enak, ongkang-ongkang, (suara Marianna meninggi dan berdiri seolah menantang stefanus)

 

Stefanus:

Ongkang-ongkang kau bilang? Supaya kau tau e Marianna, saya utang tuh untuk kita semua. Untuk kebutuhan rumah tangga dan uang sekolah anak-anak. Baru sekarang kau gampang saja omong saya hanya mau yang enak, tolong Marianna ubah cara pikir tuh. ( suara meninggi dan emosi sambil menolak kepala Marianna )

 

Jerry  (Melihat orang tuanya dengan wajah khawatir) 

Bapa-mama, kalau memang tidak mampu, saya bisa berhenti sekolah saja. Bantu kalian di sawah atau cari pekerjaan lain.

 

STEFANUS (Menepuk pundaknya suaranya mulai tenang)

 Tidak  boleh  begitu.  Pokoknya, Kamu  berdua  harus  melanjutkan  sekolah.  Itu  harapan  bapak  dan mama.

 

Jerry: Baiklah kalau begitu. Bapa mama Kami berangkat dulu ke sekolah.

 (Keduanya bergegas keluar tanpa mengenakan sepatu sekolah.)


ADEGAN III

NARATOR:

Setelah tiga musim berturut-turut mengalami kegagalan panen, keluarga Bapak Stefanus harus menghadapi kenyataan yang pahit. Hanya sedikit padi yang bisa diselamatkan dari serangan hama yang melanda. Hari ini, mereka akan menjemur hasil panen yang sedikit itu, sebagai harapan terakhir untuk hidup.

 

(ADEGAN BERLANJUT, Marianna membersihkan kotoran di padi yang sedang dijemur)

 

Marianna  (Sedang menata beberapa karung kecil berisi gabah)

 Bapa, ini semua yang bisa kita simpan dari serangan hama tahun ini. Hanya lima karung saja.

 

STEFANUS (membantu Marianna merapikan padi yang sedang dijemur)

 Saya tahu mama, tapi kita harus tetap berusaha. Anak-anak kita masih sekolah, dan kita harus bisa memberi mereka harapan. (menatap ke atas dengan putus asa)

Setelah tiga tahun, saya benar-benar putus asa. Tapi, yah.. mau bagaimana lagi. kita tidak bisa menyerah begitu saja. Tapi…..Kita harus kuat. Anak-anak masih membutuhkan kita.

Tuhan, tolong ko…..berikan kami jalan keluar dari situasi sulit ini.

 

Mariana

 Saya tahu betapa beratnya beban yang kamu tanggung, tapi kita harus tetap kuat untuk anak-anak.

 

Stefanus :

Mama, saya ke kebun dulu. Tolong jemur lagi padi yang ada nih sambil tunggu anak-anak pulang dari sekolah baru giling.

(stefanus mengambil parang dan pacul lalu berangkat ke kebun, sementara mariana merapikan padi yang sementara di jemur )

 

NARATOR

 Setiap biji padi yang mereka jemur, adalah harapan untuk hari esok. Meskipun hanya sedikit, mereka tetap berusaha dengan sepenuh hati.

 


ADEGAN IV

 

NARATOR

Matahari sudah mulai menguning di ufuk tengah hari, menyinari tanah dan rerumputan yang kering. Anak-anak pulang sekolah dengan perut yang kosong, sementara di rumah tidak ada sedikit pun beras untuk dimasak. Setiap napas membawa rasa lapar yang menusuk.

 

(ADEGAN BERLANJUT)

 (jerry dan marianna berjalan masuk dari arah depan panggung, kaki mereka terengah-engah menginjak tanah merah yang panas. Tas sekolah mereka tergantung di pundak, wajah pucat karena lapar)

 

Jerry dan Avilla

 Mama, selamat siang kami sudah pulang.(sambil berjalan menuju kamar dan meletakkan tas, diikuti oleh avilla adiknya)

Marianna : siang juga anak-anak mama yang ganteng dan cantik nih.

(jerry dan avilla segera berjalan menuju meja makan)

Jerry: mama, Kami lapar sekali….

Avilla : iya mama lapaaaaaaarrrrr sekali kami, nih pengaruh tidak makan pagi

 

MARIANA (Istri stefanus sedang duduk menyortir biji padi yang menghitam)

Anak-anak e mama minta maaf hari ini kita tidak punya beras untuk masak....kita jemur sedikit dulu baru kita giling. 

 

(stefanus  masuk ke panggung setelah meneyelesaikan pekerjannya di kebun, dia mendengar keluhan kedua anaknya tadi lalu menyahut panik)

 

STEFANUS : selamat siang……, mama kenapa nih? kamu semua macam tegang sekali?(Melihat anak-anak dengan wajah khawatir)

 

Marianna: siang juga bapa, aduh bapa kasian  nih ko anak-anak lapar dari tadi pagi tuh belum makan.

Stefanus:

 Aduh anak-anak, kamu belum makan ternyata. Jerry,  ambil sedikit padi yang jemur tadi pagi tuh, bawa ke tempat giling supaya kita bisa dapat beras, biar sedikit.

Jerry : baik bapa

 

(jerry dan avilla segera berdiri dan keluar dari panggung sambil memikul padi)

 

Layar ditutup (suasana panggung diganti menjadi seperti lokasi penggilingan padi)

 

Backsound mesin giling mulai dibunyikan, layar dibuka perlahan

 

Jerry : selamat sore om, bisa giling kami punya padi kah om?

 


ADEGAN V

 

OPERATOR 1(Operator mesin giling)

 Jerry ! kasitau Bapak dengan mama, kami tidak bisa lagi layani kalian. Utang yang sebelum- sebelumnya masih banyak yang belum dibayar. Sudah tiga kali Om fanus janji untuk bayar, tapi sama saja, sampai detik ini juga belum bayar juga.

 

Jerry (Menunduk)

 Om, jangan marah, kami tidak tahu, kami juga belum sempat makan siang, hanya setengah karung saja ini kami tahan untuk malam. Bisakah Om kami bon lagi untuk kali ini saja?

 

OPERATOR 2

 Tidak bisa, anak. Kalian sudah banyak kali tidak bayar utang giling. Saya tidak bisa lagi membantu kali ini. Bayar dulu baru saya bisa layani.

 

Operator 1: (dengan nada kasar dan keras) Pulang sudah kamu, bikin beban giling saja.

 (jerry dan avilla berdiri dengan wajah pucat, tangan mereka menggenggam tali karung padi. Mereka berjalan kembali dengan hati yang hancur)

 

Avilla  (Anak bungsu, mulai terengah-engah)

 Jerry, saya tidak kuat lagidengan keringat begini, saya lemah sekali,…"

 

( avilla terjatuh dan tergeletak di jalan tanah merah yang panas. Badannya gemetar, bola mata mulai memutih)

 

Jerry  (Menangis meraih tangan adiknya)

 Avilla! Jangan begini dulu, kita belum sampai rumah, bangun dulu kita harus pulang ke rumah! (jerry membopong avilla keluar dari panggung )

 

Layar ditutup (latar panggung diubah menjadi puskesmas)

 

NARATOR

Setiap langkah pulang membawa beban yang sama beratnya dengan kayu salib yang Yesus sandang. Di tengah jalan yang panjang dan panas, harapan untuk makan malam perlahan sirna .

 

NARATOR

 Matahari  sudah mulai condong ke barat. Udara sore terasa lebih sejuk, tapi rasa lapar masih   menusuk   perut.   Jerry  meninggalkan   karung   padi   di   jalan   dan membongkok membawa avilla yang tidak sadarkan diri menuju puskesmas, setiap langkahnya berat karena kekurangan energi.

 

Layar dibuka perlahan

 

(ADEGAN BERLANJUT)

 

Jerry (Sambil sambil membopong avilla)

 Avilla, sadar sudah, kita sudah sampai Puskesmas.

 

(Mereka  sampai  di  puskesmas  kecil:  bangku  kayu  di  depan  pintu,  beberapa  rak  obat  di dinding belakang)

 


ADEGAN VI

 

PERAWAT (Menghampiri JERRY)

 Ini kau punya adik kenapa? Kenapa bisa jatuh pingsan di jalan? Kau pukul dia?

 

Jerry  (Bibir menggigil karena lapar)

 Ibu dia nih adik saya satu-satunya… saya tidak pernah pukul dia dan saya paling saying dia. Mungkin hanya karena belum makan saja. Bolehkah dia makan sedikit di sini bu?”

 

PERAWAT (Memeriksa kondisi avilla dengan cepat)

 Tidak apa-apa, mungkin hanya karena terlambat makan dan dia lapar. Biar ibu kasi dia makan dulu sedikit. Tapi, kau pulang dulu, kasih tau bapa mama di rumah e.

 

Jerry: baik ibu (sambil berlari ke samping panggung)

 

Perawat:  makan dulu e ade, sebentar lagi pasti sudah aman.

 (dari arah depan panggung, stefanus, Marianna, dan jery berlari cepat menuju puskesmas)

 

STEFANUS (Menuju ke arah avilla panik)

 Avilla   bagaimana?  Kenapa  bisa  pingsan?  Ini semua salah saya karena suruh mereka pergi giling tadi.

 

Marianna  (Suara histeris)

 Avilla  kenapa jadi begini? Mama sudah salah, mama minta maaf, ibu bagaimana sudah kondisi saya punya anak nih?

(sambil menatap ke arah perawat harap-harap cemas)

 

PERAWAT

 Tidak apa-apa tanta, dia hanya karena lapar dan sedikit kepanasan. Sudah saya suap bubur tadi dan nona sudah mulai sadar, tapi tanta dia nih ada riwayat asam lambung. 

 

STEFANUS (Mnutup wajah dengan kedua tangan)

 Ini semua saya punya salah saya kalau saja tidak suruh mereka pergi sendiri, pasti tidak mungkin begini.

Perawat :

Tenang om Fanus, dia sudah baikan. Hari ini sudah boleh langsung pulang, dan tolong  jangan paksakan dia untuk kerja berat di usia ini, karena sangat berisiko nanti.

 

STEF (sedikit khawatir)

 Baik ibu, terima kasih banyak, kami pamit…

 

(mereka sekeluarga menuruni panggung, lalu jerry segera memikul karung padi yang ditainggalkan di lantai bawah tadi)

 

Jerry (Membawa setengah karung padi yang ditinggalkan di jalan tadi)

 Mama, Bapa,,, ini karung saya bawa pulang. Biar kita pake tumbuk sendiri saja sampe di rumah.

 

Mariana  ( menganggukan kepala sambil memegang bahu jerry)

 


NARATOR

 Di akhir hari yang panjang dan penuh cobaan, mereka mulai menikmati sedikit kebahagiaan dari  hasil  usaha  bersama.  Setiap  biji nasi  yang  mereka  makan  selalu  membawa  rasa syukur yang sama dalamnya dengan apa yang Yesus berikan

 

layar ditutup perlahan

 

(suasana panggung kembali ke suasana rumah)

 

 

ADEGAN VII

 

NARATOR

 Hari setelah kejadian puskesmas, matahari mulai menyinari halaman rumah yang biasanya sepi. Padi yang sedikit tersisa dari serangan hama harus dijemur kembali: basah akibat embun dan sedikit hujan kemarin malam. Keluarga ini sedang berusaha dengan apa yang mereka  punya,  sementara  anak-anak mereka  masih  dalam  kondisi  yang  membutuhkan perhatian khusus.

 

(layar dibuka)

 

(ADEGAN BERLANJUT)

 

(avilla duduk di kursi kayu kecil di depan rumah, badan masih sedikit bengkak karena pemulihan. Jerry  berdiri di sisinya, sudah memutuskan tidak ke sekolah hari ini. Stefanus sedang merapikan ujung alas jemuran jerami yang sudah aus. Meri duduk di sisi alas jemuran tanpa berkata apa-apa)

 

STEFANUS (Merapikan ujung alas jemuran)

 Jerry, biar kita jemur saja padi yang basah ini. Supaya  bisa kita jual sedikit -sedikit.

 

Jerry  (Meratakan padi yang basah)

 

Baik bapa, ini mungkin bisa laku sedikit kalau sudah agak kering.

 

Mariana (Duduk sambil membantu merapikan padi yang sedang dijemur)

 

Iya, Semoga saja bisa terjual dengan harga yang layak.

 

(Suara angin bertiup kencang, menyapu sebagian padi yang terbawa angin)

 

STEFANUS

 

Tuhan e macam susah sekali saya punya hidup nih ko. (backsound motor koperasi dimainkan)

 PETUGAS KOPERASI (Suara keras dan dan lantang)

Fanus!..... selamat siang.....(sambil menarik sisa rokok di tangannya) Kapan ko kamu mau

bayar utang nih. Sudah tiga bulan kau janji tapi sama saja, hanya mau beban Negara saja!

 

(avilla yang sedang duduk kaget dan ketakutan)

 

Avilla (berlari ke arah mamanya)

 

Mama, itu siapa? saya takut

 

Mariana  (sambil memeluk avilla)

 

Tidak apa-apa, mereka itu pegawai koperasi, tenang saja, ada mama di sini.

 

PETUGAS KOPERASI (Sikap kasar)

 

Kalian  sudah  pinjam  banyak  uang  katanya mau beli  obat  dan  pupuk,  tapi  hasilnya  hanya begini?. Ini tidak bisa dapat uang  untuk tutup utang kalian. Saya sudah  beri waktu beberapa bulan, tapi hasilnya sama saja.

 

STEFANUS (sambil berjalan ke arah avilla yang menangis)

 

Saya akan jual padi ini untuk bayar utang kami, tapi tolong pak, kasi kami waktu (sambil menenangkan avilla)

 

PETUGAS KOPERASI (Sikap kasar)

 

Kalau tidak bisa bayar dalam seminggu lagi, kami akan ambil semua yang kalian punya sebagai pembayaran  utang!  Bahkan anak-anak ini bisa saja  kami bawa  dan akan lebih berguna di tangan kami.

 

(avilla tiba-tiba menangis dengan keras karena ketakutan)

 

Avilla  (Menangis)

 

Mama, saya takut

 

Mariana  (Menghampiri anaknya) Tidak apa-apa, ada mama di sini. Mereka tidak mungkin bawa kalian.

(pegawai koperasi meninggalkan rumah itu sambil menatap tajam kea rah stefanus dan mariana)

 (Petugas   koperasi   pergi   dengan   sikap   kasar,   kaki   menginjak   tanah   keras   hingga menggelegar. Suara mereka hilang di kejauhan, tapi ketakutan masih menyelimuti keluarga ini)

 

NARATOR

 

Setiap kata yang diucapkan membawa beban yang sama dengan apa yang Yesus rasakan. Namun  dalam  setiap  kesusahan,  ada  kesabaran  dan cinta  yang  tak terucapkan,  seperti benang yang menghubungkan hati satu sama lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

ADEGAN VIII

NARATOR

 

Udara terasa sangat berat walau matahari mulai mereda. Setiap hembusan angin membawa bayangan kesusahan yang menusuk tulang. Keluarga ini terjepit antara harapan yang sirna dan kenyataan yang menusuk seperti keris yang diasah tajam.

 

(ADEGAN BERLANJUT)

 

(avilla masih menangis ketakutan di pelukan ibunya, tubuhnya bergoyang kaget. Stefanus berdiri dengan wajah penuh kemarahan dan kesusahan yang meluap-luap)

 

STEFANUS (Menatap jauh ke arah jalan yang sudah kosong)

 

Tuhan, beri kami kekuatan untuk hadapi semua ini.

 

 

STEFANUS  (Menangis terdengar)

 

Saya sudah coba segala cara yang bisa saya lakukan, tapi hasilnya sama saja.

 

Mariana  (Menangis sambil memeluk avilla, mariana  tiba-tiba meledak emosinya, suara tinggi menggema di halaman rumah yang sunyi)

 

Ini hasil dari yang kau buat e fanus! Berani sakali pinjam uang banyak... padahal tahu hasil panen tidak akan cukup! Kau yang buat anak-anak kita kelaparan dan sakit! Kau yang buat kita semua terjebak dalam kesulitan!" ini semua ulah kau e fanus saya nih yang pusing tiap hari orang datang tagih kau punya utang. (nada suara mariana tinggi dan mukanya merah menahan emosi)

 

STEFANUS (Wajah merah memerah, tangan gemetar dengan nada membentak) Iya memang saya berani utang. Saya hanya ingin berikan yang terbaik untuk keluarga kita! Kau juga tahu kita susah sekali untuk dapatkan sesuatu bahkan untuk makan minum saja kita kewalahan. Iyu juga alas an kenapa kita harus utang, bukan hanya untuk kesenangan saya saja e rina supaya kau sadar ini. (stefanus menolak kepala Marianna sambil memukul meja)

(avilla mulai menangis dengan keras sementara jerry terduduk lesu dan tidak berdaya menatap ke tanah )

 

Mariana  (Menangis keras, tubuh bergoyang)

 

Yang  terbaik?  Apanya  yang  terbaik?  Anak-anak  kita  hampir  mati  kelaparan  karena kau punya utang yang menumpuk! Hanya ada lima karung padi dari yang seharusnya ratusan! Itu juga ulah kamu! Dan fanuss yang kau ingat hanya utang, utang, dan utang! Kau tidak pernah pikir susahnya kami, susahnya kita semua

(intesitas suara tetap meninggi bahkan sedikit berteriak)

 

STEFANUS (Menerjang ke depan, suara menggema)

 

Saya sudah berusaha setiap hari! Pagi sampai malam saya kerja di sawah, tapi hama datang dan menghancurkan segalanya! Kau pikir itu semua ulah saya.... dan kau hanya duduk diam tidak buat apa-apa?

 

Mariana  (Mengambil kantong kecil, bergegas pergi)

 

Tidak buat apa-apa kau bilang? Oke fanus kalau memang menurut kau begitu, saya memang tidak bisa buat apa-apa, lebih baik saya pergi saja dari ini rumah nih!

 

Jerry  (Menangis melihat ibunya pergi)

 

Mama, tunggu dulu! Mamaaaa maamaaaaaa

Avillla  (Menangis lebih keras)

 

Mama jangan pergi saya takut

 

STEFANUS Menangis

 

layar ditutup

seting  panggung tidak diubah

 

ADEGAN IX

 

NARATOR (Suara penuh kesedihan)

 

Setiap  kata  yang  terucapkan  seperti  batu  yang  dilempar  dengan  keras,  menusuk  hati seperti yang Yesus rasakan di kayu salib. Kesedihan dan rasa bersalah meluap seperti banjir yang tak terkendali, menyelimuti semua yang ada di sekitar mereka.

 

NARATOR

 

Setelah  pertengkaran  yang  dahsyat  dan  kepergian  Marianna ,  suasana  rumah  menjadi  sepi seperti kuburan yang sunyi. Setiap bayangan yang muncul membawa beban yang sama dengan apa yang Yesus rasakan: penuh dengan penderitaan dan kesusahan yang tiada tara.

 

Layar dibuka

 

(ADEGAN BERLANJUT)

 

(Avilla masih menangis di lantai rumah, sementara  Stefanus berdiri dengan wajah penuh kesusahan dan rasa bersalah yang mendalam. Udara mulai menjadi gelap, langit mendung seperti akan hujan)

 

STEFANUS (Menatap jauh ke arah jalan yang sudah kosong)

 

Tuhan ee apa lagi yang harus saya lakukan?

 

(jerry   datang  dari panggung bagian depan setelah  mengejar  ibunya  yang  pergi.  Napasnya terengah-engah, wajahnya penuh dengan kesusahan dan kekhawatiran)

 

Jerrry

 

Bapa mama mau pergi kemana? Saya sudah kejar, tapi mama terus lari...

 

Stefanus

 

Jangan tinggalkan  mama,...  jerry ... kau ikut dengan mama, supaya dia  tidak sendiri.  (Menangis terdengar) Ini semua salah Bapa…bapa sudah buat mama tersinggung dan pergi seperti itu.

 

(avilla  masih menangis di lantai rumah, tubuhnya bergoyang karena ketakutan yang belum hilang. Stefanus mendekat dan memeluknya dengan lembut)

 

STEFANUS

(berjalan ke arah avilla sambil membujuknya)

 

Tidak apa-apa avilla .Bapa ada di sini.

 

(Langit mulai mendung, angin bertiup kencang menyapu halaman rumah. Padi yang sedang dijemur mulai terbawa angin ke segala arah. Stefanus  bergegas mengangkat jemuran sambil memerintahkan avilla masuk ke rumah)

 

STEFANUS

 

Avilla... masuk saja dulu ke kamar, tunggu Bapa di dalam…..Bapa masih urus padi, sebentar

Baru bapa masuk)

 

(Setelah merapikan jemuran dan menyimpannya ke dalam rumah, Stefanus merasa sangat putus asa. Dia melihat tali yang ada di dapur, lalu mengambilnya dengan perlahan. Langkahnya berat menuju hutan belakang rumah yang sunyi dan sepi)

 

ADEGAN X

 

STEFANUS (Berlutut di bawah pohon, tali di tangan, suara pecah))

 

Ini mungkin akhir dari semua kesalahan dan kesusahan yang saya perbuat.

 

Tuhan,, saya sudah berusaha. Saya sudah kerja pagi sampai malam. Tapi kenapa anak-anak saya tetap lapar?....saya gagal sebagai suami....gagal sebagai bapa...kalau hidup saya hanya

membawa susah untuk mereka...mungkin lebih baik saya pergi...supaya beban ini berhenti di     sini...

 

Tuhan....kalau Engku masih mendengarkan saya...maka maafkan saya...

 

(Dia berdiri perlahan dan mengikat tali pada dahan pohon yang kokoh. Dengan hati yang penuh keputusasaan, dia mulai mengangkat tubuhnya ke atas. Beberapa saat kemudian, tubuhnya menggantung di udara: tidak ada suara kecuali angin yang berhembus dan daun yang bergoyang)

 

NARATOR (Suara penuh kesedihan)

 

Setiap nyawa yang tergantung di udara membawa beban yang sama dengan apa yang Yesus rasakan di kayu salib. Kesedihan dan kehancuran melanda seperti banjir yang tak terkendali, menyelimuti segala yang ada di sekitar mereka.

 

NARATOR

 

Setelah pertengkaran yang dahsyat dan kepergian Mariana, suasana di rumah menjadi sepi seperti sore yang panjang. Udara mulai dingin, langit mendung seperti akan hujan. Stefanus tergantung beberapa menit di atas pohon di hutan belakang rumah, matanya sudah mulai menutup perlahan, tubuhnya tidak bergerak lagi......

 

Ketika Stefanus tergantung di atas pohon, dunia sekitarnya mulai pudar. Ia merasa seperti sedang terbang ke suatu tempat yang jauh, jauh dari semua kesusahan di dunia nyata. Langit tampak putih bersih,....

 

dan tiba-tiba ia menemukan diri berada di sebuah tempat yang sangat terang dan damai. Sempat ia bertanya, Dimanakah tempat ini?.....Namun, tiba-tiba beberapa sosok hitam muncul dari balik kabut dan siap menangkapnya.

 

 

(sosok hitam penari teatrikal naik ke panggung)

 

 

Sebagai proyeksi diri Stefanus yang berada di ambang Kematian

 

Aksi Teatrikal You Where There dipentaskan oleh Anak SMA/OMK

 

https://youtu.be/xrm6D49SnhQ?si=JocQB0xwMrhoeH8n

 

(setelah  dipentaskan,  Stefanus merasa  tubuhnya  terangkat  perlahan,  lalu  merasa  seperti jatuh dari ketinggian. Ketika dia membuka mata, dia sudah terbaring di bawah pohon,  tali yang mengikatnya putus akibat berat tubuhnya, membuatnya jatuh ke tanah yang lembab)

 

ADEGAN XI

 

NARATOR

 

Setelah mendung yang mencekam, perlahan awan mulai menipis di langit dan matahari mulai bersinar lembut. Lalu, sebuah keajaiban terjadi: Stefanus tidak pergi  meninggal  dunia.  Tubuhnya  terjatuh  dari  pohon  ketika  tali  putus  akibat  beban tubuhnya dan getaran yang terjadi. Ia terbaring di tanah basah, napasnya sesak tapi masih ada. Dunia sekitarnya tampak kabur, tapi rasa ingin hidup mulai muncul kembali seperti cahaya pagi yang menerangi kegelapan. Bukan hanya tali itu yang putus...Tetapi kuasa keputusasaan dipatahkan. Bukan hanya tubuhnya yang jatuh ke tanah...Tetapi maut gagal merenggut hidupnya. Sebab pada malam paskah, yang tergantung di Kayu Salib telah lebih dahulu mengalahkan kematian.

Stefanus  terbaring  di  tanah  hutan  yang  lembab,  matanya  perlahan  terbuka.  Cahaya matahari menyelinap melalui dedaunan pohon, menyinari wajahnya yang pucat. Dia merasakan rasa sakit yang menusuk di leher dan tubuhnya, tapi di dalam dada ada rasa ingin hidup yang semakin kuat

 

STEFANUS (Bibir bergetar, suara pelan)

 

Saya tidak akan menyerah lagi saya harus kembali untuk anak-anak.

 

(Dia berusaha berdiri dengan susah payah, tubuhnya masih gemetar dan sakit. Langkahnya goyah saat berjalan keluar dari hutan menuju rumah. Di depan rumah, dia melihat avilla  yang masih menangis di lantai, sedang menunggunya dengan penuh kekhawatiran)

 

Avilla  (Melihat ayahnya datang)

 

Bapak saya takut bapak tidak akan datang lagi.

 

STEFANUS (Mendekat dan memeluknya erat)

 

"Maafkan bapak bapak tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi."

 

(Tiba-tiba suara kaki berlari terdengar dari kejauhan. Jerry datang berlari dengan wajah penuh harapan, di belakangnya Meri yang sudah tenang dan tidak menangis lagi)

 

Jerry  (Menangis sambil berlari)

 

Bapa! Bapa baik-baik saja kah?"

 

Mariana  (Mendekat dengan wajah penuh kesedihan dan rasa bersalah) bapa maafkan sayasaya seharusnya tidak pergi tadi

STEFANUS (Menangis sambil memeluk istri dan anak-anaknya)

Kita semua harus bersama-sama menghadapi ini. Saya tidak akan pernah lagi melakukan hal yang bodoh seperti itu. Mari kita bereskan rumah ini dulu. Bersihkan patung dan gambar-gambar kudus yang kita punya dan disimpan di tempat yang layak. Siapkan juga altar hari ini  sebenarnya ada misa KUB di rumah kita, ada romo yang datang misa.

Marianna: anak-anak bantu mama mau siap altar ee, jangan sedih lagi kita pasti baik-baik saja.

Jerry dan Avilla: Baik mama

 

Layar ditutup

 

(semua crew mulai membereskan panggung seolah anggota KUB  , panggung dibagi menjadi dua lorong berhadapan , dengan altar tepat berada di tengah)

(semua crew langsung duduk di panggung untuk selanjutnya mengikuti potongan adegan perayaan ekaristi)

 

(layar dibuka perlahan)

 

ADEGAN XII

NARATOR

 

Setelah kejadian menegangkan yang dialami keluarga Stefanus, semua anggota KUB mulai berdatangan untuk menghadiri perayaan Ekaristi kunjungan KUB di rumah keluarga stefanus. Rumah yang sederhana namun penuh kehangatan sudah dipenuhi oleh umat yang datang dengan hati. (saat narrator membacakan bagian ini, romo memasuki panggung dari arah depan sambil menyapa dan menjabat tangan umat KUB yang menghadiri misa)

 

(ADEGAN BERLANJUT)

 

 

ROMO

 

Marilah kita mulai perayaan ini dengan membaca Bacaan Injil hari ini, yang diambil dari Markus  10:45:  'Sebab  Anak  Manusia  tidak  datang  untuk  dilayani,  melainkan  untuk melayani dan untuk memberikan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang.

 

(Setelah membaca Bacaan Injil, Romo mulai memberikan renungan)

 

 

ROMO

 

Sauda-saudara sekalian, ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Yesus tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Dan Ia tdak menyelamatkan kita sendirian. Ia membentuk komunitas Gerejanya. Artinya, keselamatan bukan hanya tentang doa pribadi...tetepi soal kita saling memikul beban.  Kalau  ada  satu  keluarga  lapar,  seluruh  Gereja  sebenarnya  sedang  lapar. Kalau ada satu orang hampir menyerah, seluruh tubuh Kristus dipanggil untuk menopangnya. Kebangkitan bukan hanya mukjizat di kubur kosong. Kebangkitan terjadi ketika kita memutus rantai utang, ketika kita membuka tangan , ketika kita tidak membiarkan saudara kita tergantung sendirian.

 

Narrator: Umat mendengarkan dengan penuh perhatian, hati mereka terbuka untuk menerima pesan ini dan setelah pembacaan Injil dan renungan, setelah itu, Romo mengajak semua orang untuk saling berbagi dan membantu sesama. Setelah perayaan selesai, stefanus mendekati Romo untuk berbicara secara pribadi.

 

 

 

 

STEFANUS (Suara sedikit bergetar)

 

Romo… saya ingin cerita sedikit tentang semua hal yang saya alami. Dari utang yang menumpuk, hingga saat saya hampir mengakhiri hidup di hutan belakang rumah.

 

ROMO (sambli menunduk sedikit)

 

Baiklah, saya mendengarkan....

 

(Romo mendengarkan dengan penuh kasih semua hal yang diceritakan oleh Stefanus, kemudian menepuk bahu stefanus dengan lembut)

 

ROMO

 

Saudara stefanus, kamu telah melalui ujian yang lebih dari cukup. Tapi Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.   Kita   akan   bersama-sama   menemukan   jalan   keluar   untukmu   dan keluarga. Yang terpenting bahawa anda terus memberi jalan yang benar bagi keluarga anda untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Tuhan tidak menyelamatkanmu dari pohon itu supaya kamu kembali memikul beban sendirian. Ia menyelamatkanmu supaya kamu belajar meminta tolong. Dan Gereja ini bukan tempat orang sempurna, tetapi tempat orang yang hampir hancur, lalu dipulihkan bersama.

 

Stefanus: romo, terima kasih atas nasihat dan penguatannya. Setelah ini romo saya mohon ijin untuk menyampaikan sedikit kesaksian dalam hidup saya, supaya semua tetangga saya anggota KUB, tidak mengikuti perbuatan saya dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.

Romo: oh boleh sekali om fanus, tapi saya setelah ini akan langsung ke KUB sebelah

 (romo meninggalkan panggung, setelah berjabatan tangan dengan anggota KUB dan stefanus)

 (ADEGAN BERLANJUT)

ADEGAN XIII (PENUTUP)

 

STEFANUS (maju ke ujung panggung Melihat ke arah semua orang sementara semua anggota KUB yang adalah crew aktus mendengarkan epilog om fanus)

 

Saudara-saudara sekalian, hari ini kita bisa merasakan hasil dari kerja  sama yang kita bangun bersama. Semua ini karena kasih Tuhan yang selalu menyertai kita.

 

EPILOG:

 

 (Dengan lantang)

 

Kita adalah mereka yang pernah tersesatKita adalah mereka yang pernah menyakitiKita adalah mereka yang pernah melukai....

Kita adalah mereka yang menyembunyikan kebenaran...

 

Kita adalah mereka yang pernah berdosaTetapi,.... adalah kasih-Nya yang menyinari... Kasih yang hidup dalam Yesus Kristus...

Yang mati demi kita semua..

 

3 hari kemudian Ia bangkit,,, hidup kembali!

 

Dan jika hari ini kita masih berdiri...itu karena Ia lebih dahulu bangkit untuk kita... Tubuh dan darah-Nya adalah keselamatan bagi kita

KEMULIAAN KEPADA BAPA DAN PUTRA DAN ROH KUDUS seperti pada permulaan……….

 

LAYAR DITUTUP PERLAHAN ACTUS SELESAI




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  N a s kah   A ct u s   P a s kah   202                                                 H A R A P AN   T I D AK   PE R N AH   MATI   ADEGAN...