Senin, 13 Mei 2019

alva omega


Alva dan Omega

Catatan Pinggir Santiago

Ditengah penatnya otak karena tugas kampusku, A.? selalu memberikan kesegaran. Canda tawa senyumnya yang sulit aku lupakan, tetap bugar terrekam dalam benakku. A tetaplah gadis yang special buatku. A itu itimewa, bidadari nyata, peri hidup. Yah, itulah dirimu. Aku menyesal mengapa tidak mengenalnya lebih dalam. Tapi, walau sesingkat itu berhasil dia merasuk sampai ke sukmaku. Walau A jauh di sana, tapi wajahnya ada dalam hatiku. Hehehe
Satiago terus membolak-balik halaman buku Republik karya Plato yang sedang dibacanya. Ia hanya ingin mencari defenisi Cinta. Santiago yakin defenisi itu dapat menerangkan gejolak yang ada dalam dadanya. Banyak sumber yang dibacanya namun belum tepat menerangkan  apa itu Cinta, apa yang dirasakannya, apa yang membuat hatinya berejolak. Satiago rupanya lupa kalau hati itu punya alasan-alasan yang tidak dipahami ratio, kata Blaise Pascal. Mengapa harus satukan hati dan akal? Hati itu menyimpan rasa, akal itu memahami apa yang ada dalam hati, kata Santiago meyakinkan dirinya. Santiago mahasiswa tingkat akhir sedang sibuk menggarap skripsinya. Dia berusaha semaksimal mungkin agar bisa diwisudakan pada semester delapan. Sebab dia malu jika terlampau lama menghabiskan waktu dalam kampus. Dia malu dibilang tidak punya kontribusi untuk masyarakat. Aku buah yang belum ranum, katanya mebela. 
Catatan pinggir Santiago malam ini diberi judul "Untukmu yg berinisial A!!!!" Cinta itu menyusahkan, jika dihalang-halangi. Ia harus diberi ruang dan waktu untuk bereksprsi. Cinta itu bukan pribadi, tapi Ia merasuki pribadi. Cinta itu bisa membuat orang menjadi gila, di lain sisi bisa menjadi gembira. Bisa menjadi apa saja, sebab cinta itu adalah virus. Aku susah tak punya ruang, tapi kau merdeka sesukamu. Pertemuan yang tak pernah diagendakan, tapi efeknya mencengankan. Aku, kau telanjangi bulat, malu ditertawakanmu walau itu tidak kau lakukan, sebab aku butah dalam rasa, lama aku tak mengolahnya sebab pilihanku mebatasi itu. Apalagi kini kuharus berjumpa dengan faylasuf.
Benar katamu kalau aku terhipnotis Plato ke dalam khayalan yang tak ada akhir. Republik buku usang yang kubaca kau hina, walau aku terkadang ragu apa benar Plato tak berguna? Hidup yang nyata adalah hidup dalam dunia idea, itulah makanya aku terus tenggelam dalam idea tuk menemukan kenyataan itu. Yah, ini memang terdengar lucu bagimu seorang praktisi bukan bagiku. Aku hanya tak habis pikir hingga kini bagaimana jadinya jika Aku dan Kau bersatu. Idealisme dan realisme, kontemplatif dan praktis, woow itu sangat mengagumkan, perpaduan yang menggemparkan. Walau ini hanyalah imaginasi, ingatlah bahwa keberhasilan itu bermula dari imaginasi. 
Paragraf 2 Santiago mulai deskripsikannya. Dia gadis berinisial A, manis dan menggoda. Hahaha, Santiago memang suka untuk merahasiakan segala sesuatu termasuk gadis kesukaannya. Kalaupun teman-temnya bertanya, Santiago hanya memberikan nama inisial. Ini bukan semata karena Santiago takut dan malu nanti dibilang bermuka dua, tapi itulah karakter Santiago yang tenang dan tak tergesa-gesa serta tahu kapan dan dimana segalanya harus terjadi. Hmmm, A selalu Santiago kaitkan dengan Alva. Yah, Aku ingat apa Alva itu. Pada perayaan malam Paskah kemarin pastor sempat mengatakan tentang Alva. Yah, Alva (perempuan- sejarah) artinya bentuk Inggris dari nama tradisional Irlandia, Ailbhe, yang berasal dari bahasa Irlandia kuno albho ‘putih’. Alva artinya peri, berkulit cerah, agung mahamulia, keteguhan, kebijaksanaan, pengaruh dan kekuasaan, jujur dan bersih. Arti kata Alva sangat menggambarkan sosknya. Gadis berinisial A. kau adalah apa yang baru didefenisikan. Dia gadis yang punya pengaruh dalam relasi sosialnya kali ini sangat diperhitungkan, bukan karena dia calon sarjana tapi karena jaringan pertemanan yang dia bangun itu sangat luas dan kren. Jujuf dan bersih itu nyata dalam setiap perjuangannya menanggapi fenomena sosial. Pokonya A itu cocok sekali disebut Alva. Aku hanya mengafirmasi saja, siapakah aku  ini, hingga bisa mengatakan sedalam-dalamnya.
            Hmmm, Santiago ternyata salah mendefensiskan Alva. Pastor jelaskan di malam paskah itu buka Alva tapi Alfa, perbedaan huruf V dan F ditengah kata. Alfa adalah huruf pertama dari bahasa Yunani, yang selalu dipadukan dengan Omega huruf terakhir. Alfa dan Omega artinya awal dan akhir. Ternyata dalam tradisi kekristenan kata ini merujuk pada Yesus Kristus sebagai pribadi yang awal dan yang akhir. Hmm, Santiago terobsesi dengan senyuman A, sehingga segala sesuatu menjadi lebih menyenangkan. Kata Santiago, aku selalu mendefensiskan A sebaik mungkin, mendeskripsikan dia seindah mungkin dan mengimajinasinya secantik mungkin. Dialah juga Alfa, sebagai awal bagiku untuk berimajinasi. Entah Alva atau Alfa semuanya adalah dia.
            Ini hanya goresan kecil, catatan pinggir akhir hariku untukmu gadis berinisial A. Kapan kapan kita berjumpa lagi.? Rangakaikan kisah yang baru, aku ingin lebih erotis, dan puitis dalam ungkapan. Itu sangat menggairahkan, intelek, rasa, dan kehendak berjalan seiring. Ingatlah bahwa kita pernah berbicara Sartre dan Simone. Aku bosan mencari teori cintanya Plato, aku malah lebih terpesona dengan kisah cinta kedua tokoh legendaris ini. Apakah mereka bisa menjadi ideal type antara aku dan dirimu? Hahaha..
            Selamat malam, Aku Santiago..
Penfui, Senin, 13, 5, 2019
Oleh Sintus Bezy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Perihal Hidup: Sejak awal 2023, saya sudah disibukkan dengan satu pekerjaan baru yakni penyelenggara Pemilu persisnya panwaslu desa (PKD...