Minggu, 03 Maret 2019

Proposal Pii Pato


FILSAFAT NAMA MENURUT PI’I PATO’ PADA KEBUDAYAAN MARONGGELA, RIUNG BARAT, KAB. NGADA
Proposal Penelitian
(Diajukan Kepada Fakultas Filsafat
Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Guna Memperoleh Izin Menulis Skripsi)

https://www.unwira.ac.id/templates/newunwira/images/logo2.pngOleh
KRISANTUS YUSTUS
NOREG : 611 15 005


FAKULTAS FILSAFAT
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
KUPANG
2019

DAFTAR ISI
Halaman Judul............................................................................................................... i
Halaman Pengesahan.................................................................................................... ii
Daftar Isi....................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. 1
1.1  Latar Belakang........................................................................................................ 1
1.2 Perumusan Masalah................................................................................................ 5
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................... 5
1.4 Keguaan Penulisan.................................................................................................. 5
BAB II KAJIAN KONSEP............................................................................................ 7
2.1 Filsafat..................................................................................................................... 7
2.1.1 Filsafat Sebagai Karya Reflektif......................................................................... 8
2.1.2 Filsafat Mengungkapkan Makna Terdalam Dari Realitas.................................. 8
2.2 Nama....................................................................................................................... 9
2.2.1 Nama Religius ..................................................................................................... 9
2.2.2 Nama Marga........................................................................................................ 10
2.3 Filsafat Nama......................................................................................................... 10
2.3.1 Nama Dalam Filsafat Cina (Pembetulan Nama (cheng-ming)) ........................ 11
2.3.2 Nama Dalam Tradisi Kristen ............................................................................. 12
2.3.3 Nama Dalam Budaya Maronggela...................................................................... 12
2.4 Budaya Maronggela............................................................................................... 14
2.4.1 Religiositas.......................................................................................................... 15
2.4.2 Bahasa Maronggela............................................................................................. 15
2.4.3 Struktur Sosial..................................................................................................... 17
2.4.4 Sistem Perkawin.................................................................................................. 18
2.5 Makna Filosofis Pii Pato (Pemberian Nama)....................................................... 18
2.5.1 Arti Pii Pato........................................................................................................ 18
2.5.2 Makna Pii Pato................................................................................................... 20
BAB III METODOLOGI PENELITIAN....................................................................... 21
3.1 Rancangan Penelitian............................................................................................. 21
3.2 Lokasi Penelitian.................................................................................................... 21
3.3 Ruang Lingkup Penelitian...................................................................................... 22
3.4 Jenis Dan Sumber Data.......................................................................................... 22
3.5 Teknik Penentuan Imformen.................................................................................. 23
3.6 Instrumen Penelitian.............................................................................................. 23
3.7 Teknik Pengumpulan Data..................................................................................... 24
3.8 Teknik Analisa Data............................................................................................... 24
3.8.1 Interpretasi.......................................................................................................... 25
3.8.2 Koherensi Intern.................................................................................................. 25
3.8.3 Deskripsi............................................................................................................. 25
3.8.4 Holistik................................................................................................................ 25
3.9 Teknik Menyajikan Hasil Analisis Data................................................................ 25
3.10 Jadwal Kegiatan................................................................................................... 26
Daftar Pustaka.............................................................................................................. 28

Daftar Questioner......................................................................................................... 29


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Pengantar
Oleh proses globalisasi, bola bumi (globe) kita menjadi kecil, jarak mendekat dan hubungan dipermudah dan dipererat. Sekarang ini (bila tersedia uang), dengan berbagai alat trasnportasi kita dapat pergi mengunjungi dan berpindah dari satu ujung bumi ke ujung bumi yang lain dengan cepat dan nyaman. Oleh berbagai alat media massa, radio, televisi, surat kabar, majalah, peristiwa yang terjadi di satu sudut dunia dengan segera dapat diketahui oleh orang-orang di berbagai sudut dunia yang lain. Pemikiran dan penemuan ilmu teknologi tersebar ke seluruh dunia dan berbagai ideologi entah secara jelas atau tersamar, masuk dan beroperasi di setiap ruang di atas bumi.[1]
Dunia kini semacam global-village, tak ada jarak dan tak ada pembatas. Globalisasi dalam bidang kebudayaan juga sangat terasa. Tergantung kebudayaan mana yang lebih kuat pengaruhnya, itulah yang akan diiukuti oleh seluruh penghuni global- village ini. Dari fakta yang ada umumnya kebudayaan Barat lebih kuat pengaruhnya bagi dunia. Masuk dan mengggerus kebudayaan-kebudayaan lokal. Orang-orang di desa-desapun jika ingin eksis, harus ikut tren, mode terbaru, merubah gaya hidup (life style). Hal ini disebut Westernisasi (West = Barat. Western=orang Barat), membaratkan budaya local.
Westernisasi mempengaruhi kebudayaan lokal, merubah cara pandang tentang makna kehidupan, konsekwensinya tampak dalam gaya hidup yang serba modern. Unsur primordial dari individu tertantang dengan tawaran-tawan kebudayaan Barat. Primordialisme agama dan budaya diwesternisasi. Salah satu betuk primordial dari individu ialah nama diri. Nama diri adalah ekspresi primordial bahwa dia berasal dari kebudayaa tertentu dan beragama tertentu. Seharusnya unsur primordialis ini tetap terpelihara sebab tidak dapat dipungkiri seseorang terlahir dalam kebudayaan dan kepercayaan tertentu.
Problem weternisasi nama muncul ketika banyak orang tua yang tidak memahami apa arti sebuah nama, sehingga dalam pemberian nama kepada anaknya gagal merefleksikan makna terdalam dari nama tersebut tetapi tergantung penuh pada selera yang bersangkutan. Nama yang diberi misalnya diambil dari nama bintang film  atau pesepak bola dunia bahkan nama artis papan atas idola orang tua. Hal ini membawa dampak di kemudian hari, ketika anak bertumbuh tidak sesuai namanya maka ia lalu tidak menghargai lagi nama yang diberikan oleh orang tuanya, anak tidak bisa bertumbuh seperti bintang film atau pesepak bola atau artis idola orang tua, sehingga sebebasnya anak-anak menyamarkan nama mereka.
Problem di atas juga akhir-akhir ini terjadi pada masyarakat Maronggela, suatu kampung di Kabupaten Ngada. Kekurang perhatian terhadap makna sebuah nama di masyarakat Maronggela berdampak pada relativisme nilai, anak-anak menjadi tidak hormat lagi kepada orang tua padahal dari namanya saja dia adalah anak-anak. Atau beberapa kepala suku serta orang-orang yang mempunyai wibawa dalam masyarakat menjadi bingung dengan perannya, padahal nama itu jelas mempertegas peran yang harus dijalani. Atau kasus lain ketika anak tidak bertumbuh sesuai nama yang diberikan. Sebab hidup tidak sesuai nama akan terjadi kontradiksi, ketidakharmonisan.[2]
Sebagai bentuk perhatin penulis terhadap masalah westernisasi nama pada kebudayaan Maronggela maka penulis berusaha untuk meneliti secara mendalam ritual pemberian nama serta menemukan makna filosofis dari nama. Asumsi penulis, kebudayaan Maronggela seperti kebudayan-kebudayaan lokal lainya meyakini bahwa nama mengandung arti yang penting. Banyak suku mempertahankan sebagian tradisi dengan salah satunya melalui nama-nama yang diberikan pada anggota keluarga, bahkan pemberian nama selalu disertai dengan kegiatan ritual baik bersifat agamis maupun bersifat kultural. Tujuannya adalah untuk keselamatan jiwa si pemilik nama. Tidak jarang pula ketika nama yang diberikan kepada seseorang tidak cocok, nama itu membawa malapetaka, misalnya pemilik nama sakit-sakitan. Tidak hanya dalam konteks budaya nama memilki arti yang penting. Hubungan sang pencipta dengan manusia  dan sebaliknya terjadi dengan nama sebagaimana dialami oleh Musa, YHWH menyebut diri-Nya sebagai AKU adalah AKU.
Bertolak dari hasil pengamatan sementara, di Maronggela masih mempraktekkan ritual pemberian nama kepada bayi yang baru lahir. Ritual itu disebut Pi’i Pato’ (pemberian nama). Makna nama bagi masyarakat Maronggela justeru dibentuk dari bagaimana mereka menjalani Pi’i Pato’. Namun juga makna sebuah nama itu didapatkan dari menfsir kata-kata atau analisis kata. Setiap nama pasti memiliki arti tertentu. Nama itu menggambarkan seseorang yang berwatak tertentu.  Kata bagaimana yang harus ditekan di sini, itu artinya metode penetuan sebuah nama bagi Masyarakat Maronggela itu sangat penting. Ada persyaratan-persyaratan tertentu yang harus digenapi dan tidak boleh dilanggat. Sebab jika dilanggar maka akan mendapatkan konsekwensi yang tidak diinginkan, seperti sakit-sakitan dan bahkan kematian.
Masyarakat dari kebudayaan Maronggela sebenarnya memiliki filsafat hidup/ padangan hidup (way of life) sebagai pegangan dan noma tingkah laku. Berkaitan dengan nama, masyarakat kebudayaan Maronggela juga mayakini bahwa nama itu berdimensi masa lalu dan masa depan. Masa lalu berarti nama memang diambil dari nama kakek atau nenek sang bayi sebagai kenangan terhadap mereka, dan dimensi masa depan berbarti ada harapan agar sang bayi bertumbuh sesuai nama yang diberikan kepadanya. Ketika bertanya “apalah arti sebuah nama” namun nama mempunyai makna terhadap setiap pribadi. Setiap orang memiliki nama. Nama merupakan perwujutan, pengejawantahan sekaligus menjadi identitas pribadi seseorang. Seseorang dipanggil dengan namanya, menyebut nama tidak saja hanya mengeluarkan bunyi melalui huruf-huruf yang tersusun, melainkan mengandung makna pengakuan terhadap eksistensi pemilik nama. Pengakuan ini bersifat utuh, artinya menyebut nama seseorang dengan baik adalah mengakui eksistensi orang bersangkutan, sebaliknya melecehkan nama seseorang sama dengan melecehkan pribadi pemilik nama. [3]
 Bertolak dari problem di atas penulis dalam penelitian ini ingin mengulas tuntas tentang filsafat nama yang tersirat di balik tradisi Pii Pato. Bahwa nama tidak asal-asalan saja tetapi adalah suatu tanda pribadi, suatu pengenal yang membedakan dirinya dari yang lain. Suatu keunikkan yang untuk orang lain tidak ada. Nama itu penting. Fokus penelitian penulis adalah di kampung Maronggela. Karena Pada prinsipnya orang Maronggela masih sangat menjunjung tinggi filsafat nama, walau terdapat juga ketidaksesuaian. Arti sebuah nama sangat penting bagi orang Maronggela, dimana nama seorang anak yang baru lahir diberi sesuai nama orang dari dalam anggota suku tersebut dan yang lazimnya nama itu adalah turunan dari nama kakek atau nenek si bayi.
Peneliti melalui tulisan ini akan memepertanggungjawabkan bagaiaman praktek pemberian nama pada kebudayaan Maronggela di satu sisi, yaitu mulai dari mekanismenya sampai pada struktur acara dan di sisi lain juga akan dipaparkan bagamana nilai dan makna serta filsafat nama, sehingga sebagai judul umum penelitian ini penulis merampungnya menjadi Filsafat Nama Menurut Pii Pato (pemberian nama) pada Kebudayaan Maronggela, Kab. Ngada.
1.2  Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang di atas maka beberapa rumusan masalah yang terungkap dalam bentuk pertanyaan berikut menjadi penuntun dalam proposal penelitian ini. Adapun hal-hal yang dipermasalhkan ialah :
1)     Siapa itu orang Maronggela ?
2)     Bagaimana praktik ritual Pii Pato (pemberian nama) ?
3)     Apa  makna filosofis dari nama dalam ritual Pii Pato pada masyarakat Maronggela?
1.3  Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah dan latar belakang yang telah dibahas di atas maka penyusunan proposal  ini dibuat dengan tujuannya ialah sebagai berikut:
1)  Mengetahui siapa itu orang Maronggela.
2)  Mengetahui sedetail mungkin ritual Pii Pato pada masyarakat Maronggela.
3)  Mengetahui filsafat  nama menurut Pii Pato pada  masyarakat Maronggela.
1.4  Manfaat Penelitian
1)     Sebagai sumbangan bagi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang pada umumnya dan Fakultas Filsafat pada khususnya dalam konteks mengenal budaya asli orang Maronggela teristimewa ritual Pii Pato, sekaligus menggugah hati para mahasiswa untuk menggali budaya yang terdapat di daerahnya masing-masing dan menelaahnya menurut disiplin ilmu yang didapatkannya. (bagi FFA)
2)     Para seminaris atau para calon imam boleh mendapatkan sekedar inspirasi dari penelitian ini, demi persiapan diri menjadi pemimpin iman yang mengenal keunikan dan latar belakang  umat teristimewa aspek bahasa karena itu yang menentukan siapa mereka. (bagi para seminaris)
3)     Sebagai sumbangan bagi orang Maronggela, agar mereka semakin cinta akan bahasa daerahnya yang ternyata mengandung berbagai makna dan nilai, baik nilai religius maupun nilai sosialdan juga sebagai simbol interaksi baik yang vertikal, dengan yang Transenden maupun yang horizontal, dengan sesama manusia.
4)     Dapat membantu peneliti sendiri untuk semakin mengenal warisan budaya masyarakat Maronggela serta melatih diri untuk merefleksi fenomen-fenomen kemasyarakatan secara ilmiah.

BAB II
KAJIAN KONSEP
2.1 Filsafat
            Filsafat dari bahasa Yunani philosophia (cinta akan kebijaksanaan), dari kata philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Filsafat berarti cinta akan kebijaksanaan. Dari sini kita merefleksikan bahwa kebijaksanaan itu adalah sesuatu yang menjadi ideal manusia, bukan milik manusia sehingga manusia terus menerus mencari dan mencari serta menemukan jawaban teristimewa dasar-dasar terakhir segala sesuatu tetapi lebih penting dari itu ialah tentang asal, eksistensi dan tujuan manusia.[4]
Tentu ada distingsi antara filsafat barat dan filsafat Timur. Setelah agama-agama wahyu masuk ke dunia barat maka sebagian dari peran filsafat dijawab oleh agama wahyu misalnya dari mana manusia berasal, kemana ia akan pergi, bagaimana proses terjadinya alam semesta, serta berbagai nilai ultim pencarian manusia bisa dijawab oleh pemikiran-pemikiran agama wahyu. Hal tersebutlah yang terberbedakan dengan filsafat Timur. Filsafat Timur tetap menjaga perannya, sebagai pandangan hidup (way of life). Hal ini terbukti bahwa dalam filsafat Timurtidak terdapat kritik, dimana pemikiran sebelumnya dikritik oleh pemikiran saat ini dan  konsep yang kita terima saat ini akan dikritik oleh pemikiran yang akan datang seperti dalam tradisi Barat pada umumnya.
            Filsafat dalam tulisan ini lebih menonjol ke filsafat Timur, bagaimana cara pandang orang tentang hidup serta realitas yang dialami. Cara pandang itu telah menjadi warisan yang dihidupi secara turun-temurun dan menjadi pedoman tingkah laku serta pemahaman atas sesuatu hal tertentu. Filsafat timur bukan suatu pemikiran sistematis hasil analisis rational, namun lebih pada pandangan akan suatu hal secara logis serta memiliki nilai yang mendalam, nilai inilah diterima serta dihidupi.
2.1.1 Filsafat Sebagai Karya Reflektif
            Filsafat adalah hasil refleksi manusia tentang berbagai realitas yang dihadapinya. Lebih dari itu filsafat juga adalah suatu kegiatan refleksi dimana orang terus mencari dan berusaha menemukan jawaban-jawaban akhir atas pertanyaan mengapa? Mengapa orang Maronggela harus menjalani ritual Pii Pato (pemberian nama), apakah nama itu begitu penting bagi masyarakat Maronggela? Sebab sebagai binatang berakal budi manusia tidak akan mengkianati kodratnya. Berpikir tidak hanya bagi orang yang mengenyam pendidikan secara formal, tetapi bagi siapa saja, para tua-tua adat juga dapat berfilsafat serta menemukan alasan-alasan mendalam dari segala realita. Mereka bahkan menemukan alasan-alasan filosfis yang mendalam serta menjadi landasan bagi mereka mengapa sesuatu harus dilakukan dan bukan tidak.
            Jadi filsafat sebagai refleksi pada tulisan ini ialah suatu kegiatan dan suatu hasil pemikiran atas pertanyaan-pertanyaan mengapa suatau kegiatan harus dilakukan dan bukan tidak. Dalam kaitannya dengan nama, para tua adat sudah memiliki filsafat atau pendangan tertentu hasil refeleksi mereka tentang apa arti sebuah nama, sehingga nama itu memang benar dihargai.
2.1.2 Filsafat Mengungkapkan Makna Terdalam Dari Realitas
            Filsafat sebagai suatu kebijaksanaan hidup, suatu pandangan hidup tentang suatu hal atau pegangan hidup serta cita-cita yang harus digapai dalam hidup karena hal tersebut memiliki makna terdalam. Sebab orang hanya akan melakukan suatau hal secara tau dan mau karena hal tersebut itu bermakna.  Makna adalah suatu kualitas yang terdapat dari barang atau hal tertentu. Filsafat mampu menemukan makna terdalam dari realitas tertentu. Dalam ritual Pii Pato (pemberian nama), terdapat makna serta nilai yang tersirat. Makna tersebut itulah hasil olah budi dan itulah filsafat.
            Segala warisan budaya termasuk ritual Pii Pato selalu memiliki makna terdalam. Selale memiliki filsafat tersendiri. Pemberian nama mengapa harus tetap dipelihara di kebudayaan Maronggela, karena memilki makna terdalam. Makna terdalam itulah ekspresi filsafat.
2.2 Nama
            Nama dalam bahasa Latin disebut nomen, dan dalam bahasa Inggris disebut name. dalam logika nama adalah suatu ungkapan yang menunjukan sebuah objek dalam arti luas, sebagai segala sesuatu yang dapat kita sebut dan bukan hanya sebagai suatu obyek material.
Semantika logis umumnya menggeluti apa yang disebut segitiga semantic a) nama; b)obyek yang ditunjukan oleh nama (denotat atau designatum); c) arti nama.[5] Nama itu sebagai ekspresi dari unsur primordial seseorang. Unsur primordial yaitu unsur yang melekat pada seseorang sejak lahinya. Misalnya dia tidak bisa menyangkai bahwa dirinya orang Maronggela sebab bapaknya berasal dari Maronggela, atau dia beragama Katolik sebab sudah sipermandikan. Nama dalam tulisan ini terbagi menjadi beberapa yaitu:
2.2.1 Nama Religius
            Nama religious ialah nama yang diberikan oleh agama kepada pribadi tertentu. Dari nama religiusnya kita bisa mengetahui seseoran beragama apa. Sebab religiusitas juga adalah unsure primodiali yang tidak bisa ditolak. Misalnya nama Paulus atau Petrus pasti orang tersebut beragama Kristen, dibedakan dari nama Muhamad atau Ibrahim tentu langsug diketahui bahwa orang itu beragama Islam. Tentu nama-nama ini diambil dari nama tokoh orang kudus tertentu dalam agama tersebut, hal ini nyata dalam Kristianitas dimana nama Baptis selslu diambil dari nama orang kudus tertentu, dengan harapan bahwa sang anak akan bertumbuh dan minghidupi spiritualitas namanya.
2.2.2 Nama Marga
            Nama marga atau fam ialah nama yang menandakan bahwa seseorang  berasal dari suku tertentu.  Orag dapat mengenal jika mendengar apa nama fam dari seseorang, dan langsung mengasosiasikan dari suku mana serta dari keturunan yang mana? Biasanya cara mendapatkannya melalui berbagai ritual adat.
            Dalam kebudayaan Maronggela juga memiliki ritual pemberian nama yang disebut Pii Pato. Melalui ritual inilah seorang bayi akan mendapatkan nama marganya atau fam. Nama marga ini sangat penting sebagai pengenal siapa orang tersebut. Ritual Pii Pato sebagai sarana bagi orang Maronggela untuk memastikan siapa nama yang cocok bagi seorang bayi yang baru lahir. Ritual ini bahkan membutuhkan partisipasi dari masyarakat adat, dibutuhkan binatang korban, babi dan ayam sehingga nama menjadi sangat sakral.
2.3 Filsafat Nama
            Filsafat nama dalam hal ini berarti suatu pemikiran reflektif dan sistematis serta analitis kritis tentang apa itu nama. Pentingnya suatu nama, mengapa harus ada nama? terlebih lagi ditinjau dari ritual pemberian nama yang khas. Baik nama untuk Yang Ilahi, nama untuk menyebut hal-hal yang terdapaat di Kosmos ini serta nama bagi pribadi-privadi tertentu. Dengan mengobservasi serta menganalisis ritual pemberian nama dalam budaya-budaya, kita dapat menemukan makna dari nama seseorang bagi pribadinya juga tentu bagi lingkungan budaya di mana dia hidup.
            Sebab nama Nama itu unik bukan hanya sebagai tanda pengenal, tetapi nama adalah lambang pribadi, totalitas atau karakteristik dari orang bersangkutan sesuai dengan namanya. Misalnya nama Batu, dia akan menjadi pribadi yang mencontohi sifat-sifat batu seperti kerasa dalam pendirian, tahan banting, kuat walau diterpa bencana. Itu makna dari nama Batu.
Beberapa kebudayaan sangat menjunjung tinggi ritual pemberian nama ini, sebagai salah satu ritual inisiasi wajib. Inisiasi yaitu peralihan dari bayi yang terlahir tanpa nama diberikan nama tertentu sihingga ditertima dalam lingkungan budaya dimana dia hidup. Berbagai bentuk sesuai kekhasan budaya masing-masing.
2.3.1 Nama Dalam Filsafat Cina (pembetulan nama (cheng-ming))
Satu dari kunci untuk mengelolah kebajikan dasar manusia yang ditekankan oleh konghucu adalah pemakaian yang benar kata-kata (cheng-min) yang biasanya merujuk pada “pembetulan nama”. Pemekaian yang benar berarti kata harus sesaui dengan realitas yang dinamai. Meskipun pemakaian yang benar kata-kata dapat dikenakan kepada semua pemakaian bahasa, tetapi dalam konghucuisme pemakain yang benar pertama-tama dikenakan pada tindakan-tindakan dan hubungan manusia. Jadi ketika Pemimpin Agung Ching bertanya kepada Konghucu tentang pemeritahan, Konghucu menjawab, “Biarkanlah penguasa adalah seorang penguasa, bawahan seorang bawahan, ayah seoragn ayah, putera seoragn putera”. Hal ini berarti penguasa harus memerintah secara benar, yaitu tindakannya harus sesuai dengan tujuan tindakan yang mencerminkan makna kata penguasa. Demikian pula, hal itu serupa dengan menjadi seorang ayah secara benar. Ayah harus membangun reasi denga putera-puterinya dengan cara-cara ideal yang sedungguhnya merupakan bagian dari makna kata ayah.
Jadi membetulkan nama berarti bukan memilih kata-kata yang tepat untuk melukiskan sesuatu, tetapi menyesuaikan karakter dan tindakan seseorang dengan cita-cita normative yang terkandung dalam nama-nama relasi fundamental manusia. Bagi seorang putra yang harus menjadi seorang putra secara benar, hubungannya dengan oran tua harus memenuhi cita-cita hsiao. Bagi seorang sahabat yang menjadi seorang sahabat secara benar, harus relasinya memenuhi ideas kesetiaan. Jadi, ketika nama dibetulkan, semua hubungan manusia akan sejalan dengan ideal yang terkandung dalam nama itu. Inilah sebabnya mengapa masyarakat akan harmonis dan rakyat akan bahagia menurut Konghucuisme, ketika nama-nama dibetulkan.[6]
2.3.2 Nama Dalam Tradisi Kristen
            Dalam tradisi Kristen nama itu sangat berarti. Karena diambil dari nama orang-orang kudus, yaitu para leluhur yang telah meninggal dunia namun yang telah menunjukan kualitas hidup yang patut dicontohi. Bagi orang Kristen mereka ini adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan dibuktikan dalam kata-kata dan perbuatan mereka. Oleh karena itulah mereka pantas disebut suci atau kudus dan layak ditiru perbuatannya. Dengan mengambil nama orang-orang kudus melalui upacara permandian maka anak yang akan menjadi dewasa itu diharapkan untuk hidup seturut teladan para kudus tersebut.
2.3.3 Nama Dalam Budaya Maronggela
Orang Maronggela juga sangat menghargai nama dan berusaha hidup sesuai nama. Nama justeru sangat penting sebagai gambaran siapa diri seseorang dan apa statusnya dalam suku Maronggela. Nama bagi Orang Maronggela (Riung) berdimensi dua, yakni dimensi masa lalu dan masa depan. Nama memiliki dimenci masa lalu artinya nama, mengenangkan sesuatu atau seseorang dari masa lalu. Sehingga dalam ritual Pii Pato, orang Maronggela selalu member nama anak mereka dengan menggunakan nama orang tua mereka.  Tidak dapat dipungkiri bahwa ini juga akan mempegaruhi bahasa, harian orang Maronggela, anak laki-laki akan dipanggil Ema’ (yaitu bapak), dan anak perempuan dipanggil Nde’ (artinya: ibu).[7]
 Seperti tradisi orang Ngadha sesuai ulasan Paul Arndt, SVD bahwa menfitnah seseorang atau merusak nama baik seseorang adalah suatu perbuatan yang rendah. Jika terjadi pemfinahan maka melalui doa-doa diharapakan agar para leluhur menghukum orang-orang tersebut agar bibir mereka yang beracun dirobek dan lidah mereka yang tajam dibelah![8]
Misalnya Ga’en Wongko’ (Tua adat, orang yang sangat dihargai dalam kampung karena memiliki wibawa dalam beberapa aspek kehidupan berbudaya). Nama Ga’en Wongko ini hanya dialamatkan kepada orang-orang tua yang memang sudah sampai pada tahap tertentu. Tidak semua orang yang sudah tua disbut Gaen Wongko.
Dalam memperoleh nama orang Maronggela harus melewati ritual inisiasi yang disebut Pii Pato. Setelah Pii Pato maka nama itu secara defenitif melekat pada sang bayi sampai akir hayatnya. Kecuali san bayi mengalami sakit. Ketika nama yang diberikan tidak sesuai biasanya sang bayi akan menangis terus menerus, dan orang tua atau  orang Maronggela pada umumnya akan mengetahui baha nama yang diberikan tidak sesuai, atau seharusnya sang bayi tidak diberikan nama seperti yang baru diberikan. Namanya akan diganti,sang bayi akan berhenti menagis ketika nama yang baru tersebut cocok dengannya.
2.4 Budaya Maronggela
Maronggela secara etimologis adalah komposisi antara kata Maro yang berarti tempat istirahat dan Nggela yaitu nama dari seseorang. Jadi Maronggela adalah tempat istirahat seseorang yang bernama Nggela.[9] Koentjaraningrat menulis orang-orang Flores itu gabungan dari 8 suku yang terbentang sepanjang pualu tersebut. Saat ini suku-suku tersebut mudah kita kenal karena umumnya satu suku akan menjadi satu kabupaten. Setiap kabupaten umumnya penduduk mayoritas dari suku tertentu. Maka ada terbagi menjadi 1) orang Manggarai, 2) Orang Riung, 3) Orang Ngada/Bajawa, 4) Orang Nagekeo, 5) Orang Ende, 6) Orang Lio, 7) Orang Sikka dan 8) Larantuka.[10]
Budaya jika ditambah awalan ke- dan akhiran –an, menjadi kebudayaan. Kata kebudayaan berasalh dari bahasa Sanskerta budhayah sebagai jamak dari budhi yang berarti akal budi. Budaya berarti daya dari budi, yang merupakan cipta, rasa, karsa dan rasa. Kebudayaan berarti hasil dari cipta, rasa, karsa.[11] Kebudayaan lalu  diartikan sebagai keseluruhan proses dan hasil perkembangan manusia yang disampaikan dari generasi ke generasi untuk kehidupan manusiawi yang lebih baik. Dari sini didapatkan tiga point penting: 1) Kebudayaan adalah segala perkembangan dan kemajuan masyarakat, 2) Kebudayaan adalah hasil bersama, dan 3) Kebudayaan adalah hhumanisasi yaitu proses peningkatan hidup yang lebih baik dalam lingkungan masyarakat manusiawi.[12]
            Kebudayaan Maronggela menandakan segala perkembagan hasil bersama yang telah ada dan diturunkan kepada generasi penerus, berupa sastra seni, hasil-hasil ekonomi, teknik sosial serta gagasan dan nilai yang terdapat dalam diri manusia Maronggela. Pii Pato juga termasuk dalam warisan yang tetap terpelihara dan diharapkan akan terus dijaga sebagai suatu asset penting bagi orang Maronggela, teristimewa dalam hal bagaimana memahami nama.
2.4.1 Religiositas
            Masyarakat dari kebudayaan Maronggela sudah memiliki kepercayaan terhadap wujud tertinggi. Mereka temukan itu dalam pohon-pohon besar atau dalam hal lain yang berbau gaib. Ini bisa disebut sebagai animism. Adapun nama-nama untuk menyebut wujud tertinggi seperti Mbo Muri (secara hurufiah diterjemahkan sebagai mbo=nenek atau kakek yang sudah tua, muri= yaitu Tuhan), tapi kata ini selalu diterjemahkan dengan Tuhan Allah. Selain nama Mbo Muri ada juga sapaa lain untuk wujud tertinggi seperti Poso Wongko.s
            Masyarakat Maronggela melalui syair-syair adat atau melalui Pintu Pazir (doa adat), sering menyebut nama wujud tertinggi ini. Selain penyembahan terhadap wujud tertinggi masyarakat Maronggela juga percaya pada arwah nenek moyang, mereka lalu member sesajian kepada nenek moyang. Sebab bagi orang Maronggela nenek moyang walaupun mati secara fisik tetapi tetap hidup dan nama meraka tetap dikenang, mereka ada di sekelilng dan sangat mengintervensi dinamika kehidupan masyarakat Maronggela.
2.4.2 Bahasa Maronggela
Menurut Andre Martinent “bahasa adalah sebuah alat komunikasi untuk menganalisis pengalaman manusia, secara berbeda di dalam setiap masyarakat, dalam satuan-satuan yang mengandung isi semantis dan pengungkapan bunyi, yaitu monem. Pengungkapan bunyi tersebut pada gilirannya diartukulasikan  dalam satuan-satuan pembeda dan berurutan, yaitu fonem, yang jumlahnya tertentu dalam setiap bahasa, yang kodrat maupun kesalingterkaitannya berbeda juga di dalam setiap bahasa.”[13]
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahasa diartikan sebagai “ suatu sistem lambang  bunyi  yang abitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.Bahasa Indonesia adalah gabungan dari berbagai bahasa daerah di seantero Nusantara ini, selain berasal dari bahasa Melayu dan bahasa Sansekerta.
Defenisi lain dari bahasa adalah sebagai sebuah sistem komunikasi yang membuat manusia dapat bekerja sama. Defenisi ini menekankan fungsi sosial dari bahasa, dan fakta bahwa manusia menggunakannya untuk mengekspresikan dirinya sendiri, dan untuk memanupulasi obeyk dalam lingkungannya. 
Ada dua bahasa yang digunakan dalam keseharian hidup orang Maronggela. Bahasa Indonesia dan bahasa Maronggela sendiri. Bahasa Indonesia dipakai untuk kepentingan komunikasi dengan orang dari luar etnis, juga dipakai pada saat-saat resmi. Sedangkan bahasa daerah digunakan bagi sesama anggota etnis, dalam komunikasi harian mereka maupun dalam ritus keagamaan serata upacara adat. BahasaMaronggela berfungsi sebagai alat ekspresi seni (pantun, peribahasa), sebagai bahasa adat dan sebagai  bahasa doa.
Bahasa Maronggela berbeda dialeknya dengankampung-kampung lain di daerah Riung Barat atau etnis Riung secara keseluruhannya.  Secara umum dapat dikelompokkan menjadi sepuluh daerah,  yang dapat ditemukn di etnis RIung; dialek Maronggela dan Muntin, Wate dan Ria, Teong dan Nampe, Terong dan Rawuk,  Wangka, Riung, Mbarungkeli,  Bekek, Lengkosambi, Mbazang dan Damu, dan Turaloa.
Bahasa Maronggela dengan dialek-dialeknya itu, selain digunakan sebagia bahasa pergaulan, juga sebagai simbol berupa pantun atau peribahasa, ada juga dalam bentuk kata-kata bijak tertentu berupa  puisi  yangsyarat makna dan hanya digunakan dalam seremonial adat atau ritus keagamaan. Adapun contoh kata-kata bijak seperti yang diterangkan oleh P. Bertolomeus Bolong dalam bukunya, Tuhan dalam Pintu Pazir.
2.4.3 Struktur Sosial
Struktur sosial yang dimaksud ialah struktur kekuasaan orang Maronggela. Pemegang kekuasaan tertinggi ialah UluGolo (Kepala suku, pemimpin tertinggi di kampung Maronggela), yang menempati tingkat ke dua ialah Ga’en Wongko’(pemuka masyarakat), satu tingkat di bawahnya ialah yang disebut Gelarang(wakil dari Ulu Golo)[14]. Adapun juru bicara dalam kampung Maronggela itu disebut Pabisara. Satu tingkat dibawah Pabisara disapa sebagai Dor (jabatan ini biasa dipegang oleh orang yang mengetahaui masalah pertanahan dan  memahami adat serta budaya dalam suku. Dorjuga yang bertugas untuk mengatur jadwal tahaunan di kampung Maronggela, misalnya kapan Ghan Weton[15], kapan Larik dan berbagai acara adat lainnya.
Ada pemegang kekuasaan di bawah tingkatan dor yaitu berambang, arti harafiahnya ialah dada. Dialah selaku badan keamanan kampung. Berambang kalau dalam Negara kita sama dengan polisi atau tentara. Kemudian ada tingkat berikut ialah tangan onar. Dia bertugas sebagai ahli nujum. Meramal tantang musim dengan melihat tanda-tanda bintang atau bulan. Ada paetugas kesehatan dalam eetnis Maronggela itu disebut sandi wne’- rbo. Tugasnya seperti dokter bisa mendetksi atau menganalisis sakit-sakit yang diderita oleh aggota suku. Dalam kegiatan kerja ada yang menjadi pembaginya dan juga pengamat serta vasilitataor pekerjaan itu yang dinamakan Punggawa. Dia tugasnay sebanding dengan ketua sub dalam proyek-proyek. Punggawadipilih bukan berdasarkan suatu musyawarah suku namun langsung ditentukan oleh kepala suku. Selain punggawa yang dipilih  langsung oleh ulu golo ada juga badan pengaman kampung yang lain yang disebut ngawas ata, dia semacam FBI dalam bangsa Amerika. Tugasnya sebagai suatu agen rahasia yang memata-matai musuh dari luar etnis.dan tingktana yang paling bawah dalam etnis Maronggela disebut woe golo/woe wongko. Mereka adalah rakyat jelata. Para pendatang dari luar etnis juga masuka dalam golonagan ini.
2.4.4  Sistem Perkawinan
Orang Maronggela mengenal sistem perkawinan patrilinear, artinya menurut garis keturunan bapa. Hal ini yang menyebabkan anak perempuan selalu dinomorduakan di Maronggela.Yang memegang hak dalam keluarga adalah anak laki-laki banyak peran yang dilakaukan oleh anak laki-laki, mulai dari kepemimipinan dalam suku, serta kepala keuarga dll.
2.5 Makna Filosofis Pii Pato (Pemberian Nama)
2.5.1 Arti Pii Pato
Secara etimologis Pii Pato terdiri dari dua kata, yakni Pii dan Pato. Pii artinya nama dan Pato artinya pemberian (nama). Kedua kata tersebut merupkan padanan mempertegas makna. Sedangkan Pintu Pazir Pii Pato merupakan jenis  Pintu Pazir yang didoakan pada ritus pemberian nama bagi seorang bayi.
Pii yang adalah nama, nama itu sangat penting sehingga cara mendapatkannya harus melalui ritual Pii Pato. Pmebahasan tentang apa itu nama sudah tertera dalam halaman sebelumnya. Bahwa nama mengandung dua dimensi masa lalu dan masa kini. Sebagai dimensi masa lalu, nama itu diambil dari nama nenek atau kakek (orang tua sang bayi, calon yang akan diberi nama). Ini mengingatkan bahwa leluhur tetap berpengaruh dalam kehidupan
Pii Pato adalah suatu ritus inisiasi pemberian nama kepada seorang bayi. Pemberian nama terhadap bayi terjadi lima hari setelah bayi dilahirkan. Dan mendapatkan nama menjadi hak bagi sang bayi sebagai penegasan bahwa dia memang berasal dari suku Maronggela. Setiap anak yang terlahir di Maronggela daan orang tua berasala dari Maronggela wajib diberi nama.
Konjaraningrat dalam penelitiannya tentang tradisi pemberian nama dalam budaya Orang Batak Toba dalam pemilihan nama memilih nama nenek moyang yang mempunyai keunggulan dan sifat kepahlawanan. Atau nama-nama tumbuhan atau tempat yang berari sangat baik, yang bisa mengangkat derajat si pemakai nama ke derajat yang lebih tinggi, menjadi pembesar, orang terkenal, orang kaya dan orang mempunyai banyak anak. Menurut mereka nama itu memilki arti yang menentukan nasib si pemilkinya di hari depan. Demikian menurut keyakinan dan pengalaman orang-orang tua sering nama itu sesuai sekali dengan pemilkinya, dengan melihat kehidupan sehari—hari atau sifat pengaharainya.[16]
Ritual serta makna suatu nama bagi masyarakat Toba di atas tersebut sebagin besar sama dengan dalam tradisi Maronggela. Adapun ritulanya terjadi lima hari setelah kelahiran sebab (mawa lima). Setelah kematian nanti, kenduri (buin bobok) akan dilakukan pada hari ke lima juga. Maka angka lima mengandung nilai tertentu bagi masyarakat suku Maronggela.
2.5.2 Makna Pii Pato
            Pii Pato sangat bermakna bagi masyarakat Maronggela. Sebagai warisan leluhur yang kaya dan syarat nilai filosofisnya. Pii Pato atau pemberian nama itu berbati bahwa nama sangat berharga bagi masyarakat Maronggela, untuk mendapatkannya harus melalui ritual yang disebut Pii Pato ini. Nama itu begitu diluhurkan sebab dalam Pii Pato.
            Pii Pato yang adalah pemberian nama. Dari kata Pii yaitu nama dan Pato atau pemberian. Pertama tentang Pii. Nama dalam bahawa Maronggela disebut ngalit, sedangkan kata Pii lebih diartikan sebagai suatu kegiatan pemberian nama dimana dibtuhkan pinang muda yang dibelah dua, sebagai sarana pengesahan nama tersebut. Jadi Pii adalah pemberian nama melalui pinang.
Berbagai nilai bisa dipetik dengan menjalani ritual Pii Pato. Ada nilai sosoilogis sebab Pii Pato terlaksana dengan dihadiri banyak orang warga kampung adat dan tua-tua adat. Saat itulah nilai kekeluargaan, sosialitas dibangun. Kehadiran semua warga suku membuktikan bahwa ada nilai sosialnya.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Rancangan Penelitian
Peneliti menggunakan metode kualitataf, yaitu suatu metode yang berangkat dari realitas dan landasan teory untuk mendapat suatu pemahaman baru tetang fenomena yang sedang diteliti. Dengan langkah-langkah mendeskripsikan secara deskritif analitis sedalam-dalamnya, Bersifat deskriptif analitis, terlihat dari caranya mengumpulkan dan merekap data yang bukan dicatat dalam bentuk angka namun penjelasan sejelas-jelas dan sedalam-dalamnya.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualiatatif, dengan sasaran terbesar untuk memahami secara mendalam filsafat nama dalam suatu kehidupan bermasyarakat dan berbudaya, dengan fokus utama yakni tentang refeleksi filosofis dari ritual Pii Pato, serta filsafat  nama dalam budaya masyarakat Maronggela di Kabupaten Ngada. Peneliti berusaha untuk menggali sedalam-dalamnya tentang makna itu dengan berbasis pada informan serta dengan suatu pra-anggapan yang sudah peneliti dapatkan dari filsafat Cina. Makna nama yang dimaksud antara lain, makna sosiologis, menjawabi pertanyaan apa penting sebuah nama dalam kehidupan sosial seseorang dari suku Maronggela. Kedua makna historis, menjawabi pertanyaan  asal-usul nama orang Maronggela, serta ketepatan nama yang harus diberikan kepada seorang bayi calon anggota suku di Maronggela. Ketiga makna teologis, bagaimana pentingnya nama dalam keterhubungannya dengan Yang Ilahi.
3.2 Lokasi Penelitiann
            Penelitian terjadi di kampung Maronggela, salah satu kampung yang membentuk desa Wolomesze di Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada  provinsi NTT. Adapun alasan dasar menjawabai pertanyaan mengapa harus di kampong Maronggela, yaitu: 1). Tradisi pemberian nama yang unik seperti yang akan diuraikan hanya terdapat di sedikit kampung dan Maronggela salah satunya. 2). Banyak kekayaan lokal dari kampung Maronggela yang belum dieksplorasi kepada kalayak umum salah satunya tetang pentingnya nama . 3) sebagai aset atau infentarisasi data untuk generasi kemudian sehingga pengetahuan tentang makna nama itu tetap terpelihara. 4) alasan lain yaitu karena Maronggela adalah kampong asal peneliti, sehingga segala detail ritual pemberian nama kepada seorang anak peneliti tahu sacara baik walau tidak memahami makna dan bahasa adatnya.
3.3 Ruang Lingkup Penelitian
            Ruang lingkup penelitian adalah suatu batasan penelitian sehingga tidak menyebar terlalu luas dan, membantu peneliti untuk fokus hanya kepada batasan itu. Nah ruanglingkup penelitian ini sebenarnya sudah dirumuskan dalam pertanyaan dasar yaitu: 1) Bagaimana gambaran umum tentang Maronggela, terisitimewa dari aspek kebudayaannya. 2) apa makna ritual Pii Pato(pemberian nama) bagi masyarakat Maronggela, dalam bagian ini juga akan diuraikan bagaimana ritual tersebut dilakukan. 3) Apa bunyi filsafat nama bagi orang Maronggela?
            Berdasarkan data yang diperoleh dari informan dan juga input dari para pemikir, peneliti mencari benang merahnya, lalu dihubungkan dengan teori yang ada, sehingga bisa dipertanggungjwabkan secara rational.
3.4 Jenis dan Sumber Data
            Jenis dan sumber data dalam penelitina ini adalah berupa adalah data kualitatitif berupa informasi-informasi atau kata-kata dan kalimat-kalimat yang memuat hal-hal menyangkut Pii PatoData-data yang diperoleh ialah melalui wawancara dengan para tua adat yang diyakini memiliki wibawa dalam suku Maronggela atau mereka yang tahu pasti tetang budaya Maronggela secara eksplisit. Ini menjadi data primer.
Selain dari wawancara, data diperoleh juga melalui beberapa kajian pustaka dimana penjelasan tentang Maronggela sudah dijelaskan oleh penulis terdahulu. Dalam menjelaskan tetang nilai-nilai penulis juga tetap bertolak dari beberapa buku sumber yang membahas tetang topik yang sama. Ini menjadi data sekunder.
3.5 Teknik Penentuan Informan
         Informan adalah orang-orang tua yang sudah lama bergelut dengan dinamisme kebudayaan Maronggela, bahkan beberapa adalah pemimpin suku yang biasa melakukan ritual Pii Pato. Para informan tentu memiliki kredibilatas informasi serta wibawa episteme atas obyek yang sedang diteliti yaitu.
3.6 Instrumen Penelitian
         Instrumen utama penelitian kualitatif ini adalah manusia, yaitu peneliti sendiri. Dalam hal ini peneliti berdiskusi dengan informan kunci yang berpengetahuan luas. Peneliti melakukan pengamatan, wawancara dan diskusi. Instrumen pedoman wawancara, fasilitas perekaman, dan pencatatan data.
         Pedoman wawancara akan dilakukan dalam bahasa daerah setempat, dengan
menggunakan rincian-rincian pertanyaan yang memadai teristimewa dapat membantu peneliti dalam mengadakan wawancara. Peneliti telah mempersiapkan beberapa pertanyaan pokok dalam wawancara dan diskusi dengan para informan yang dianggap mempunyai integritas diri yang baik. Rincian-rincian itu masih bersifat alternatif dan sementara, karena disesuaikan dengan waktu, tempat, dan keadaan pada saat pelaksanaannya. 
3.7 Teknik Pengumpulan Data
         Data diperoleh melalului wawancara yang insentif dengan key informan. Hasil wawancara dicatat sebagai infentaris dalam menganalisa data nanti. Berbagai cara wawancara yang peneliti lakukakan, yaitu melalui wawancara langsung dan wawancara tidak langsung. Wawancara langsung yaitu peneliti bertemu dan berbicara serta memeberri berbagai pertanyaan di bawah epat mata. Tetepi juga wawancara tidak langsung yaitu melalui media sosial yang ada, seseprti via telpon, SMS, email Facebook dan Whats Upp. Dengan sasaran key informan atau darimana data itu didapat ilaha orang-orang yang punya kridibilitas. Adapun wawancara baik langsung maupun tidak langsung dilakukan dengan serius dan menggali informasi dengan berdiskusi lebih lanjut.
         Selain data yang didapat melalui wawancara langsung dan tidak langsung, data tentang Pii Pato juga didapatkan melalui berbagai buku serta jurnal yang berbicara tentang budaya Maronggela. Sumber pustaka dari peneliti terdahulu walau bukan berbicara secara spesifik topic yang sama, namun ada kemiripan secara garis besar.
Semua data yang diperoleh dikumpulkan dalam jurnal harian peneliti, dalam rekaman serta terjaga baik demi lancrnya penelitian.
3.8 Teknik Analisa Data
3.8.1 Interpretasi
         Dengan berpedoman pada bahan-bahan yang ada baik itu hasih wawancara, hasil pengamatan terlibat, kajian pustaka dan kajian-kajian yang lain yang telah mendukung tema yang telah digarap, maka penulis berusaha untuk mendalami ritus Pii Pato, serta merefleksikannya secara filosofis untuk menemukan filsafat nama yang dianut dalam Masyarakat Maronggela, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada.
3.8.2 Koherensi Intern
         Untuk mendapat suatu interpretasi yang tepat menganai topic yang diteliti, maka penulis akan memperhatikan secara akurat elemen-elemen yang terkait di dalamnya. Semuanya disusun dalam kerangka yang logis dan sistematis.
3.8.3 Deskripsi
         Penulis akan berusaha mendalami dan memahami konsep para ahli berhubungan dengan topik yang dipilih melalui kajian pustaka sebagai refrensi. Dengan itu penulis berusaha membahasakan topic yang digarap dengan bantuan pemikiran filsafat dalam hal ini filsafat Cina tentang nama, serta bantuan dari sumber-sumber buku lain atau kamus dan ensilklopedi.
3.8.4 Holistik
         Kajian ini dilihat secara menyeluruh adalah pembahasan tentang Filsafat Nama, yang terimplisit melalui ritus pemberia nama (Pii Pato), dalam Masyarakat Maronggela. Penulis yakin hal ini akan dibuktikan dalam penelitian lebih lanjut.
3.9 Teknik Menyajikan Hasil Analisis Data
         Penyajian hasil analisis data kualitatif ini akan dideskripsikan selain dalam bentuk naratif (informal), juga dengan cara menginterpretasi dan merefleksikan hasil penelitian.
3.10 Jadwal  Kegiatan:
         Kegiatan penelitian ini akan dilakukan selama enam bulan mulai dari tanggal 29 Oktober 2018 sampai taggal 28 Mei 2019, yang terbagi atas enma bagian:
Pertama, tahap persiapan
         Pada tahap ini penulis mempersiapkan daftar pertanyaan dan menentukan para informan yang akan diwawancarai. Tahap persiapan ini dimulai tanggal 29 Oktober 2018 sampai tanggal 2 Desember  2018, selama lima hari.
Kedua, tahap pelaksanaan:
         Tahap pelaksanaan yang dimaksud adalah tahap memulai wawancara. Pada tahap ini penulis memulai wawancara orang-orang yang memiliki pengetahuan yang memadai tentang tema yang digarap ini. Tahap pelaksanaan dimulai selama satu satu bulan atau lebih yang dimulai dari tanggal 3 Desember 2018 sampai tanggal 6 Januari 2018.
Ketiga, tahap penyusunan hasil penelitian sementara
         Pada tahap ini penulis mulai menyusun dan merangkum semua hasil penelitian ini dalam bentuk satu karya yang belum “finish”. Dengan cara ini penulis coba menemukan inti penelitian penulis yang kemudian akan diperkenalan kepada kalayak. Tahap ini terjadi dalam kurun waktu dua bulan yang dimulai tanggal 8 Januari sampai 14 Februari 2018.
Keempat, tahap laporan hasil penelitian
         Pada tahap ini penulis memaparkan hasil penelitian sementara dan penulis berusaha meyakinkan para pembimbing agar menerima hasil penelitian ini dan selanjutnya bersedia membimbing penulisan dalam proses penulisan skripsi. Tahap ini dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2019.
Kelima, Penyusunan Skripsi
         Setelah hasil penelitian sementara ini disetujui oleh penguji melalui seminar proposal, penulis mulai melangkah ke tahap berikut yaitu tahap penyusunan skripsi. Tahap ini terjadi selama dua bulan lebih, yang dimulai pada tanggal 1 Maret sampai pada tanggal 20 Mei.
Keenam tahap pemaparan hasil penyusunan skripsi
         Pada tanggal 30 Mei, semua hasil penelitian sudah rampung dan siap untuk diuji kebenarannya.

DAFTAR PUSTAKA
Ø  Adams, Cindy., Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Terj. Syamsu Hudi, Jakarta: Yayasan Bung Karno, 2014 edisi revisi
Ø  Arndt, SVD, Paul., Agama Orang Ngadha; Dewa, Roh-roh, Manusia dan Dunia (vol. 1), (Paulus Sabon Nama, penerj.),  Maumere: Candraditya, 2005
Ø  Bagus, Lorens.,  Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 2000
Ø  Bolong, OCD, Bertolomeus dan Drs. Cyrilus Sungga S., Tuhan Dalam Pintu Pazir; Tinjaun Filosofis Tentang Tuhan Dalam Kepercayaan Asli Orang Riung, Flores, Ende: Nusa Indah, 1999
Ø  Jegalus, MA, Nobertus., Filsafat Kebudayaan (diktat),  Kupang: Fakultas Filsafat Unwira, 2007
Ø  Koentjaraningrat, Prof. Dr., Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1999
Ø  Koller, John M., Filsafat Asia, (Donatus Sermada pnej.),  Maumere: Ledalero, 2010
Ø  Setiawan, Hendro., Manusia Utuh, Sebuah Kajian Atas Pemikiran Abraham Maslow, Yogyakarta: Kanisius, 2014
Ø  Sihotang, Kasdin., Filsafat Manusia, upaya membangkitkan humansme, Yogyakarta: Kanisius, 2009, cet-8, 2017
Ø  Simandjuntak, B. A., Upacara Kelahiran Pada Orang Batak Toba, 49-70,  dalam Koentjaraningrat editor, Ritus Peralihan Di Indonesia,  Jakarta: PN Balai Pustaka, 1985
Ø  Sujarwa, M. Hum, Drs., Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010
Ø  (Wawancara, Minggu 11-11-2018, via telpon), Narasumber bapak : David No’
DAFTAR QUESTIONER
1.     Bagaimana asal-usul orang Maronggela?
2.     Bagaimana bahasa yang digunakan pada masyarakat Maronggela?
3.     Bagaimana struktur kepemimpinan pada budaya Marongggela?
4.     Bagaimana penghargaan terhadap Tuhan pada kebudayaan Maronggela?
5.     Bagaimana penghargaan terhadap sesama pada kebudayaan Maronggela?
6.     Apa itu ritus Pii Pato (pemberian nama)? Bagaiamana mekanisme ritual Pii Pato dilaksanakan?
7.     Siapa yang wajib mengikuti ritus Pii Pato ?
8.     Kapan  ritual Pii Pato terbeut dilaksanakan?
9.     Dimanakah tempat yang cocock untuk melakukan ritual Pii Pato?
10.  Apa saja hewan korban yang dibutuhkan?
11.  Apa makna nama bagi orang dari kebudayaan Maronggela?
12.  Bagaimaankah penghargaan terhadap sebuah nama pada masyarakat Maronggela?
13.  Apa makna religius dari nama?
14.  Apa makna sosial dari nama?
15.  Apa makna nama bagi pribadi bersangkutan?




[1] A. Mangunhardjana, Isme-Isme Dalam Etika, dari A sampai Z, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm.5

[2] John M. Koller, Filsafat Asia, (Donatus Sermada pnej.), (Maumere: Ledalero, 2010), hlm.548-549
[3] Kasdin Sihotang, Filsafat Manusia, Upaya Membangkitkan Humansme, (Yogyakarta: Kanisius, 2009, cet-8, 2017), hlm. 45
[4] Lorens bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2000), hlm. 242-243
[5] Lorens bagus,  Op.Cit., hlm. 686


[6]John M. Koller, Loc.Cit.
[7] Bertolomeus Bolong, OCD dan Drs. Cyrilus Sungga S., Tuhan Dalam Pintu Pazir; Tinjaun Filosofis Tentang Tuhan Dalam Kepercayaan Asli Orang Riung, Flores, (Ende: Nusa Indah, 1999), hlm. 91-92
[8] Paul Arndt, SVD, Agama Orang Ngadha; Dewa, Roh-roh, Manusia dan Dunia (vol. 1), (Paulus Sabon Nama, penerj.), (Maumere: Candraditya, 2005), hlm. 80-81
[9] Menurut cerita rakyat yang berkembang di kalangan orang Maronggela, dahulu sebelum masyarakat sekarang berpindah ke lembah mereka masih menetap di kampong yang namanya Warukia. Ada tradisi berburu. Dari Warukia yang di ketinggian menuju lembah. Seseorang bernama Nggela sering setelah berburu istirahat di lembah bukit Poso itu, nah masyarakat karena tahu pasti bahwa Nggela setiap usai berburu selalu beristirahat di tempat tersebut mereka lalu membuat kesimpulan bahwa itu adalah tempat istirahatnya Nggela, yang dalam bahasa setempat disebut Maronggela. (Wawancara, Minggu 11-11-2018, via telpon), Narasumber bapak : David No’.
[10] Prof. Dr. Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1999), hlm. 190
[11] Nobertus Jegalus, MA, Filsafat Kebudayaan (diktat), (Kupang: Fakultas Filsafat Unwira, 2007), hlm. 11
[12] Ibid, hlm. 14
[13] Andre Martinent., Elements de Linguistique Generale  (Paris, Librairie Armand COLIN, 1980)., terjemahan Indonesia, Ilmu Bahasa Pengantar.,( Yogyakarta, Kanisius, 1987). hlm.32.
[14] Walau wakil Ulu Golo tetapi dari wibawanya tetap berada setelah Ga’en Wongko’.
[15] Ghan Weton adalah salah satu upacara di Maronggela.
[16] B.A Simandjuntak, Upacara Kelahiran Pada Orang Batak Toba, 49-70, dalam Koentjaraningrat editor, Ritus Peralihan Di Indonesia, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1985), hlm. 63-64

catatan: Proposal ini belum direvisi, 
Oleh Sintuz Bezy
Penfui- Kupang 03/03/2019


revolusi sampe mati



“REVOLUSI SAMPE MATI!!!!!”
Catatan:
1. Drama ini dipentaskan oleh para frater Filsafat, biarawan OCD Kupang, terinspirasi dari novel berjudul “belis imamat ”karya Inyo Soro, SVD dan diramu ulang oleh anggota Litbul, serta disusun kembali oleh Sintus. Dipentaskan pada tanggal 25 Januari 2019, di aula biara Karmel San Juan Kupang, dan mendapat pujian dari Pater Superior (P. Abdul).
2.    Nama-nama peserta, Litbul IV (Liturgi bulanan), bros. Sintus, Tony, Vian, Us Leu, Domi, Renol, Faris.
3.   Pemeran a) Pengusaha =Sintus. Pengawal= Tony dan Domy. Petani=Vian, Uss, Renol, Faris. Musisi=Renol, Uss, Faris. Pemuda=Vian. B) Puisi=Us Leu, Renol.
4. Isi: Drama ini menceritakan tentang system pemerintahan saat ini yang lebih memihak pada kaum kapitalis. Sehingga sulit terciptanya keadilan sosial. Dan menjadi tambah paradoksnya ketika para pemimpin agamapun terlibat dalam penindasan ini. Mereka yang seharusnya menjadi corong pejuang keadilan malah, suara mereka diredam oleh sogokan-sogokan kaum kaya. Ceritanya diramu ulang, terisitimawa kata-katanya diberi tambah konsep-konsep filsafat sejauh dengan pertimbangan bahwa audience adalah para pelajar filsafat.




“PENINDASAN PROLETARIAT, KRITIK AGAMA OLEH KARL MARX”
Pembukaan :
“Selamat malam para pemuda. Selamat malam pejuang keadilan. Selamat malam para faylasuf, foolofsophy, para pemikir. Selamat malam religious. Selamat malam untuk anda semua. Selamat datang di panggung teater kehidupan ini. Mari bermenung bersama tentang ketimpangan sosial yang memilukan. Tertawalah usaha politisasi identitas. Tak dapat dipungkiri bahwa sosialisme itu tetap utopis!!! Demokrasi kontemporerpun tak dapat menyelesaikan ketimpangan ini. Feodalisme, kapitalisme, bahkan klerikalisme, bukankah itu hidup sekarang?Fakta adalah fakta! Hingga kapan? Tidak pasti! Bahwa ada sebagian besar orang yang dirugikan dan segelintir lainya mendapat keuntungan. Bahwa ada segelintir yang mengendalikan kehidupan dan masyrakat kecil bak bebek yang digiring sekehendak tuannya. Bukankan ini pilu? Derita? Serta olok-olokan bagi humanisme, eksistensi Tuhan dipertanyakan. Itulah drama kehidupan, apakah tidak dapat dirubah? Bisa!! Lalu siapa? Kita, para pemikir, kaum muda, religious. Tidak harus menjadi Marxis dulu untuk revolusi. Perjuangan kita adalah, humanisme.“Liberte, Fraternite, Egalite.”
       Marilah melalui drama singkat berikut, bersama Litbul IV kita semua berefleksi tentang filsafat Marx teristimewa teori kelas dan kritiknya terhadap agama….. selamat menyaksikan.
(sebelum narrator selesai membacakan naskah, personel anggota litbul semua menuju panggung untuk menyanyikan lagu pembukaan).
Lagu :Do=A
Pusara tak Bernama
Dalam belaian angin gersang di atas bukit nan sepi
engkau terbaring dalam tidurmu yang gelap
dalam temaram senja kelabu, di sisi lorong yang sepi
engkau tertidur di kesunyian abadi
engkau tak dikenal namamu, di lembaran bunga bangsa
engkau dilupakan jasamu di lembaran sejarah
Reff: Pusara tak bernama
Kau ditinggal terlantar penuh debu
Pusara tak bernama
Siapa pemilikmu sejak itu
Pah…. La… wan
Intro…. Modulasi ke Bes
Dalam belaian angin gersang di atas bukit nan sepi
Engkau terbaring dalam tidurmu yang lelap
Dalam temaram senja kelabu di sisi lorong yang sepi
Engkau tertidur di kesunyian abadai
Engkau tak dikenal namamu di lembaran bunga bangsa
Engkau dilupakan jasamu di lembaran sejarah
Reff,
(Pembawa puisi maju selangkah kedepan dan mulai membacakannya sebelum lagu selesai dinyanyikan. Bacakan puisi penuh emosi. Ingin menentang tapi tidak mampu).
Puisi :“Tangisan Lilin Kecil”(Oleh Lorens Gabun).
“Tangisan Lilin Kecil”
Sebuah jeritanbagi para penambang

Di bayang kegelapan ini aku berdiri
Menerawang asa dengan berkas sinar yang rapuh
Menyendiri tanpa seorangpun peduli
Sedang musuh kegelapan mengerumuni aku
Mencengkram dan mencekik cahayaku.
Raga  merapuh
Tak sanggup bendingamuk kegelapan

Mereka berteriak-teriak tidak mengambil nyawaku
Demi sebuah pesta tanpa cahaya
Sebuah pesta dimana tawa geni torang rakus.
Bergemuru laksana laksana mesin bor
Merayap kedinding-dinding kehidupan
Dengan sobekan-sobekan yang besar
Kuingin membela amara kehidupan dalam ruang semesta ini
Melawan kegelapan berkas-berkas sinarku
Tapi apa dayaku…?
Aku hanya sebangsa lilin yang mudah leleh
Dan cahayaku cuman  beberapa senti sekelilingku
Sekali tiup akur oboh dan mati
Sedangkan kematianku tak satu pun ditangisi…..
Narator:
Pada hari itu, di suatu desa di kecamatan Riung, ketika para petani kecil, penjual sayur, pedagang kaki lima, kaum marhaen. Dari anak -anak hingga orang tua, lelaki maupun perempuan. Berkumpul di balai Desa untuk menyaksikan konser dari artis local. Sebagai hiburan satu-satunya selain seks. Bagi marhaen tidak ada yang lebih berarti dari hidup ini selain mendapatkan sesuap nasi. Bahkan konser malam itupun serasa surga. (para personel konser: Renol, Uss dan Faris masuk panggung dengan membawakan alat-alat musiknya)…. System terasa tidak bisa menolong marhaen untuk keluar dari keterpurukannya. Konser sebagai surga kecil di desa ini malah diakhiri dengan tangisan pilu. Kaum feodal, sekarang kapitalis terus menggerus dan menindas marhaen sekarang proletar, dalam berbagai cara dan kesempatan….
Suasan Konser :
(para petani, sedang berpesta kecil-kecilan. Seorang bermain gitar sambil menyanyikan lagu “Rame Rentok”. Bersamaan dengan itu mereka berbagi suka cita dengan menari bersama. Para petani tetap berpesta hingga  Polisi datang dan menghentikan pesta mereka).
Rame Rentok
Rame rentok mai rame ge…..
Patas golo rame, rame ge….
Buang suling, mai rame rame
Rame adat adat Riung eee..
Ooooo…. Oooooo. Ooooo.
More sama-sama, lako sama-sama
Rame adat-adat Riung eww.
Polisi :
(bunyi sirene – patroli). Seseorang mengeraskan suara sound, yang berbuyi sirene polisi).
Adegan  1.
(Ketika lagu sedang dinyanyikan oleh sekelompok musisi yang menghibur masyarakat, tiba-tiba terdengar bunyi sirene yang mengacaukan acara hiburan masyarakat di sebuah daerah. Belum kekacauan sepenuhnya terjadi para musisi berlari anter gopoh-gopoh mengangkat properti musik milik mereka). (catatan jadi yang sedang menyanyi di panggung adalah musisi. Mereka menghibur masyrakat. Andaikan bahwa penonton itu masyarakata).
Polisi :
“Tangkap Mereka!...... Tangkap!!!!!!!!!!” (Polisi yang teriak, bukan pengusaha, polisi menangkap musisi, serta mengkocar-kacir koser tersebut). “dasar bodoh… miskin… orang-orangkalah… mengapa kamu ingin menghibur petani-petani yang tidak mampu membayar suara-suara emasmu.? Mengapa kamu berani berkonser di atas tanah yang bukan milikmu lagi..? angkat tangan kalian!!!!! Jangan bodok! Petani-petani kecil itu tidak pantas mendengar suara kalian. Mereka hanyalah orang-orang malas yang terlalu nyaman dan gembira dengan kemiskinannya, sebab menurut mereka Surga itu ada, surga itu milik orang miskin. Bukankah ini kekeliruan besar?
Pengusaha :
(Sesudah itu terdengar suara gelak tawa dari bali panggung. Seorang pengusaha tambun berpenampilan rapi, berjas dan tertawa terbahak-bahak. Ia bekerja sama dengan pihak keamanan (polisi). Pada  awalnya ia tampil monolog).
“Hahahahahahhahhh………… tanah ini sekarang menjadi milikku. Tiada seorangpun yang dapat mengambilnya dari tanganku.!!!!!!! Di atas tanah ini akan kubangun menara pencakar langit yang tinggi dan kalau bentuk tingginya kurang artistik akan kuperlebar lagi dengan tanah di sekitarnya”.(sambil menunjuk ke arah penonton….)
“Hei anak-anak muda dan kamu anak kecil ingusan, jangan coba-coba berani melawan aku!!!!! Hahahahahhhahhah…………………………“
(ia menggumamkan banyak kata hinaan dan beraksi monolog ditemani beberapa petugas keamanan. setiap perkataannya disambut anggukan kepala dari pihak keamanan. Seorang yang bertindak sebagai tokoh antagonis tiba-tiba berteriak):
Pemuda:
“Puihhhh…… Enak Saja Kau!!! Kau memang kaya, bukan berarti kau mengendalikan kehidupanku”
(sang pengusaha menanggapainya dengan nada mengejek dan menyindir).
Pengusaha:
“Apa????? siapa yang berani-berani menantangaku????. Kamu anak muda????“. (sambil menatap dan menunjuk pemuda itu. selanjutnya sambil mengarahkan pandangan ke pada penonton).
“hai kamu orang-orang muda, ratapi diri kamu sendiri dan masa depan kamu. baru berani melawan aku. apa pentingnya kamu di mataku. sekolah saja tidak becusssss. pergi dari sini sekarang juga…”berusahalah untuk mengimangi diriku, barulah aku bisa mendengar suara kalian. Jadilah hebat baru aku perhitungkan kalian. hahaha
Adegan 2.
Narator:
(adegan ini adalah adegan penderitaan orang-orang yang tanahnya digusur) orang-orang miskin, petani, penjual sayur…mereka masuk ke panggung dengan wajah lesuh. mereka mengeluh lantaran rumah mereka, dan tanah pertanian mereka dirampas untuk dijadikan bangunan para pengusaha. mereka berdiri membentuk lingkaran dan berkeluh kesah).
“harta berharga satu-satunya dari para pertanian, dan penjual sayur adalah tanah mereka.  Tetapi harta itu justeru diambil, pengusaha bekerja sama dengan penguasa, menindas rakyat. Mereka merbut hak rakyat,. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Para marhaen itu hanya bisa mengeluh dan mengeluh.
Petani :
“kini aku tak dapat bekerja lagi karena sebagian ladangku telah dirampas”. Hmmm… Darwin benar, ramalanya tepat. Aku awalnya tidak peraya, tetapi sekarang baru aku rasakan. “Struggle for life, survival of the fittest.!” Spesies yang kuatlah yang bisa eksis dan terus eksis. Spesies manusiapun tidak semua bisa bertahan, hanya segelintir orang, pemilik modal, kapitalis dan mereka-mereka yang mengambil keputusan di pemerintahan. Hanya merkalah yang bisa tetap bertahan hidup, karena hidup berpihak kepada mereka. Sedangkan kita..?kita hanyalah sampah.
Penjual Sayur :
“di kebun sayurku sekarang telah didirikan sebuah mall dan kini aku tak dapat berjualan lagi untuk membiayai hidup kedua istriku dan anak-anakku. ”Nietzche benar, bahwa hanya Ubermanch/Manusia super yang bisa eksis. Kita adalah orang-orang terlahirdariras yang lemah, spesies terendah. Nasib, nasib. Padahal aku tidak pernah ingin untuk dilahirkan. Andaiakan aku diberi pilihan antara dilahirkan atau tidak, pasti aku memilih untuk tidak dilahirkan jika hidup adalah derita.
Seorang Lain :
“hei teman-teman, bukankah hidup itu absurd? Yah, Albert Camus sudah mengatakanya, memang hidup itu absurd, ketiadaan nilai. Bagaimana tidak absur, masih banyak yang menderita. Apakah Tuhan yang menyebabkan penderitaan? Karena manusia dari kodratnya tidak pernah ingin menderita. Lalu mengapa kita derita.? Mengapa Tuhan diam saja? Epikurus, bilang jangan sampai Tuhan mampu menghapus penderitaan tetapi Dia tidak mau, berarti dia jahat. Atau mungkin saja dia mau menghapus penderitaan tetapi dia tidak mampu, Tuhan macam apa yang lemah begini.? Atau mungkin dia mau dan mampu mengapa penderitaan, tetapi penderitaan tetap ada.? Dia lemah sekaligus jahat. Penderitaan kita alami tidak pernah dia perhatikan, berarti dia tidak ada, teman-teman. Percuma saja kita berdoa. Rumahku telah digusur. sejak kemarin aku dan istriku tidur di kolong jembatan. padahal kami baru menikah sebulan yang lalu. ”Apa arti semua ini.? TegakahTuhan mencobai aku hingga aku tidak kehilangan iman akan kemahakuasaannya?
Petani :
“Tuhan kepada siapakah kami akan pergi….kalau bukan kepadamu……semua orang yang berada di sekitar kami, bahkan mereka yang menjadi perpanjangan tangan kasihmu memandang kami bagaikan badut-badut yang lucu. Tetapi mengapa Engkau diam ya Tuhan? Mengapa Engkau tidak menjawab kami? Mengapa Engkau tidak menghiraukan kami? Apa arti semua ini Tuhan? Kami kehilangan tanah, kami takut juga kehilangan  diriMu Tuhan.
(panggung gelap)……..
Puisi :(puisi Ws Rendra-para petani dan orang miskin tetap berada di panggung), oleh Us Leu
ORANG-ORANG MISKIN

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandungbuahjalanraya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan  kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuhi gauan,
dan bahasa anak-anakmusukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang miskin berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang diri mukaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya terompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk kedalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bungaraya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor darijalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologi mu.
Gigi mereka yang kuning
akan  meringis di muka  agama mu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku program magedung kesenian.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau mereka
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim
Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
Adegan 3.
(kali ini sang pengusaha masuk lagi, diiring ioleh para pengawalnya sambil tertawa terbahak-bahak dan bergaya menyindir).
Pengusaha:
“hahhahahhahhahhaha………………. sekarang tanah ini menjadi milikku. dan aku hendak menjadikan sebagian dari tanah ini sebagai lokasi pertambangan. dan untuk menutupi semua ini, aku akan memberikan sumbanganku kepada gereja-gereja dan lembaga keagamaan lain. biar kelihatan dermawan dan saleh sekaligus untuk menyumbat suara-suara kebenaran yang diserukan oleh para pemimpin agama. Bukankah para pemimpin kita menjadi lamah di depan uang? Uang adalah dewa, bukan Tuhan lagi. Hehehe. Siapa yang memiliki banyak uang dialah yang bertahan hidup, dialah yang mengabil keputusan-keputusan besar. Apa arti seorang pemimpin saat ini, bukankah ia dikendalikan oleh pemodal?(sambil menunjuk ke arah pengawal)…panggil orang-orang miskin dan pinggiran itu..
(orang-orang miskin ditarik ketengah panggung, ditempatkan persis di hadapan sang pengusaha)
Pengusaha :
(sambil melempar sejumlah uang ke muka orang-orang miskin itu) ………hai orang-orang miskin………. ambil uang-uang itu dan pergi dari sini. cari tempat kalian yang baru. uang-uang itu lebih besar jumlahnya dari pada harga rumahmu…..tinggalkan tanah ini… biarkan aku yang mengolah tanah ini, sebab orang bodoh dan tak berpendidikan lagi  miskin seperti kalian, tidak tahu mengolahnya. pergi………!!!!!!!! Hidup berpihak kepadaku.
Pengusaha :
(sambil memandang ke arah pengawal dan membentak)….hei kalian, mengapa masih berdiri, usir mereka pergi dari sini dan bawauang-uang itu……
Lagu:
Revolusi/ Bangun Pemuda/i
       Revolusi!!!!! Revolusi!!!!! Revolusi Sampe Mati!!!!
          Revolusi!!! Revolusi!!!! Revolusi Sampe Mati!!!!
                    Bangun pemda/i Indonesia
                    Tangan Bajumu stisingsikan
                    Untuk Negara…
                    Masa yang akan datang
                    Menjadi tanggunan.
                    Menjadi tanggunngan
                    Mu terhadap Nusa, 2x.
Narator :
Tidak dapat menunggu lama lagi. Apa yang harus kita lakukan? Revolusi, apa yang harus direvolusi? System pemerintahan kita? Pola pikir kita? pendidikan kita. Yah, semuanya. Demokrasi harus menguntungkan masyrakat yang paling menderita. Itulah keadilan. Sebab semua orang tentu tidak ingin untuk hidup melarat. Tetapi mereka bahkan telah terlahir dari orang yang terlarat.
          Mari kita anak muda, para pemimpin masa depan, para religious jangan tinggal diam lagi saat kita tahu penderitaan ini.

Sekian dan terimakasih
Sintuz Bezy

pemikir besar



PEMIKIR BESAR

Siapa itu pemikir besar? Mereka adalah orang yang selalu tidur larut malam. Mereka adalah orang yang tidak dapat tidur sebelum pikirannya tenang. Tidur bagi para pemikir besar adalah ketika tidak ada lagi hal yang harus dipikirkan.  Mengapa mereka menjadi besar? Itu bukan karena apa-apa tetapi karena pikiran mereka. Mereka memotong waktu tidur dengan menambah waktu berppikir. Lihatlah realitas, belajarlah dalam sejarah, ketahui siapa mereka.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa aku selalu kagum kepada para pemikir besar.  Yang aku kagumi ialah karena mereka selalu tidur larut malam. Karena bagiku seorang yang tidur lartu malam itu adalah para pemikir besar. Yang mengetahui apa yang sedang dia pikirkan dan yang menyadari apa yang sedang dia kerjakan. Coba belajar dari Rene Descartes, bapak filsafat modern. Hal pertama yang aku pelajari diri tokoh ini adalah bukan pemikiran rationalnya tetapi kepribadiannya. Siapa dirinyalah yang membentuk apa yang dia pikirkan. Entahlah, tetapi yang benar ialah apa yang dia pikirkan itulah yang membimbing dirinya membentuk siapa dia. Descartes, sebagai seorang Prancis yang hidup di era awal modernitas, selalu tidur keesokan harinya. Tidak pernah tidur mala mini. Selalu besok, artinya dia selalu tidur dini hari, ketika semua sudah tidur, ketika semua akan bangun lagi, ketika itulah dia tidur. Dan Descartes selalu bangun terlambat keesokan harinya. Pemikir berambut panjang ini hidup seolah-olah tidak mengikuti system, sesuka hati saja dia tidurm dan bangun semaunya. Inilah orang-orang contra-siciety. para pemikir besar sering berlawanan dengan masyrakat umum.
Pengalaman nyata dalam hidup. Pertama yang harus kita ketahui dari seorang pemikir besar ialah siapa mereka, bukan apa yang mereka pikirkan. Ketika kita sudah tahu siapa mereka barulah benang merah yang menunjukan apa yang mereka pikirkan itu kita ketahui. Kembali ke aku. Mengapa aku suka para pemikir besar, jawabanya karena mereka selalu tidur larut malam. Dan aku juga selalu tidur larut malam. Aku suka membaca. Dan bacaan yang aku suka adalah filsafat. Walau banyak yang melecehkan filsafat, yaitu dengan tidak serius mempelajarinya tetapi aku malah sangat tertarik untuk berpetualang dalam pikiran abstrak. Okelah, para praktisi, pragmatism, utilitarianisme, bertanya apa yang bisa para filsuf lakukan dalam kehidupan nyata? Apa pekerjaan yang bisa dibuat oleh seorang tamatan filsafat? Terkadang aku, terhentak dengan pertanyaan ini, lalu kemudian kembali dan bermenung, benar pertanyaan mereka. Tetapi mereka bertanya seperti itu? Tentang apa? Kata apa itu, adalah filsafat. Filsafat adalah apa itu? Bertanya tentang apa sajam realitas yang dihadapi. Dan bukan sekedar bertanya tetapi memahami secara mendalam. Bukan dalam hal praktis, tetapi konstruksi epistemis. Aku adalah apa yang aku pikirkan, maka olah pemikiranlah yang paling penting untuk membentuk siapa aku.
Para pemikir besar adalah para filsuf, dan mereka sangat termasyr. Sebut saja, Hegel, Marx, Habermas, Kant, Descartes, Sokrates, Platon, Aristoteles. Tidak berurutan tetapi aku tahu siapa mereka. Orang hebat yang pernah mengguncang dunia hanya dengan pikiran. Kekuatan pikiran memang sangat memukau. Aku sangat tertarik untuk memenuhi pikiranku dengan gagasan-gagasan besar seperti yang para filsuf miliki. Mungkin aku tidak akan sama seperti mereka tetapi paling tidak aku bisa mendekati mereka. Para filsuf ini kita kenal melalui karya tulis mereka. Karya tulis inilah adalah buah refleksi hidup mereka atau secara spesifik buah pikiran mereka. Ketenaran mereka dikenal oleh dunia melalui tulisan mereka.
Jjika aku mau menjadi seorang pemikir besar memang aku harus dikenal oleh orang banyak, dan pemikiran hanya disebarkan melalui tulisan. Maka aku putuskan untuk menjadi seorang penulis. Penulis apa saja, sebelum aku menemukan keahlianku yang khas. Menjadi hebat dalam menulis diperlukan latihan yang serius. Setiap hari dan selalu optimis serta berjiwa besar. Maka cita-cita akan tercapai. Sebab Pramodya Ananta Toer, pernah mengungkapkan bahwa, anda biar cerdas bagaimanapun selagi tidak menulis, lambat laun anda akan dilupakan oleh dunia.
Malam ini, seusai mengerjakan tugas filsafat Cina aku terinspirasi oleh ajaran-ajaran Konfusius. “jadilah dirimu besar”. Bukan supaya dunia mengenalmu, tetapi supaya mereka balajar daripadamu, tentang bagaiman harus hidup, dan apa arti kehidupan. Untuk mewujudkan cita-cita ini maka aku harus membedah diriku, banyak hal yang tidak terlalu penting harus aku tinggalkan. Pertama HP. Aku rela untuk tidak menggunakan HP lagi, karena menyita banyak waktu, hanya untuk berbasa-basi sesuatu yang tidak begitu penting untuk aku ketahui. Tetapi bukan secara radikal tidak menggunakan HP, sebab bagaimanapun aku tidak boleh lari dari kemajuan dunia. HP tetap dibutuhkan namun dibatasi, jangan pernah barang-barang ini mengontrol diriku, akulah tuan atas diriku. Kedua, memotong waktu yang aku gunakan untuk nonton film apalagi film biru.  Yah, sebagai pemuda normal, siapapun dia tidak terlepas dari kecendrungan bawah sadar ini untuk sekedar memenuhi hasratnya dengan menonton film biru. Ini khususnya unutk yang laki-laki. Karena aku masuk dalam kategori itu, yah aku hanya mengikuti dinamka pertumbuhan biologisku. Tetapi harus tegas, Film jika tidak mengajarkan moral yang baik, tidak wajib ditonton. Ketiga, kurangi dan bahkan berhenti singgah di kos. Kamar kecil 3x4 itu tidak boleh meremotiku. Seorang pribadi penghuni kos yang tidak terlalu diperhitungka dunia dan bahkan tidak memberi efek baik bagiku jangalah menjadi penjajahku, mengatur diriku, dan mempengaruhiku. Aku sesal denga waktu yang terbuang begitu banyak di kos, dan aku mau membayarnya dengan berhenti ke kos lagi. Kost, memang menarik, lebih menarik daripada tempat dimana aku tinggal. Tetapi aku yakin itu yang tertampak, dimana teman-teman yang tinggal di kos-kosan seolah-olah ramah, pdahala sakit hati. Seolah-olah senang padahal, berharap pengunjung cepat pulang. Hehe, itulah yang harus dirasakan.  Keempat, rokok. Hasil pabrik tembakau dan ganja yang mematikan itu tidak wajib diisap oelh semua laki-laki memang dia adalah pemberani jika mengisap sebatang rokok, tetapi lebih jentel sebenarnya, jika ia tidak menghisap rokok. Aku berusaha unutk berhenti merokok, karena tidak baik untuk kesehatan teapi juga, menyita banyak waktu. Dan tidak membuat diriku dewasa. Aku harus kucing-kucingan dengan pembesarku jika ingin merokok. Hahaha apakah ini dewasa?
Ternyata menjadi seorang pemikir besar harus menghindari banyak hal…. Tidak harus!!!! Menjadi pemikir besar hanya dibutuhkan bahwa seseorang menjadi dirinya sendiri dan mengembangkan semua potensialitas diri secara maksimal mungkin. Jujur aku hobby membaca, orang biasa menyebutnya kutu buku, kalau ada kata yang lebih dari kutu buku mungkin itulah yang cocok bagiku. Tetapi aku berdosa selama ini, membaca hanya sebagai bahan unutk merendahkan orang lain. Aku berjanji mulai hari ini, bahwa seorang pemikir besar ialah dia yang dibesarkan oleh pemikirannya bukan omongannya. Pemmikir besar berbeda dengan omong besar. Jadi pemikir besar berarti mengurangi bicara yang terlalu banyak. Aku hanya mau mempraktekkan filosofi padi, semakin berisi semakin merunduk………
Sintuz Bezy,
Penfui-Kupang, 17/12/2018

  N a s kah   A ct u s   P a s kah   202                                                 H A R A P AN   T I D AK   PE R N AH   MATI   ADEGAN...