Selasa, 31 Agustus 2021

Mulai.

 

MULAI

            Akhir-akhir ini saya sering menonton video-video motivasi di Youtube. Ada berbagai tema motivasi baik itu tentang semangat belajar, tentang kesuksesan, semuanya bisa terjadi jika seseorang tetap pada konsistensi untuk melakukan hal yang sama demi tercapai kesuksesannya dan tidak pernah menyerah untuk berjuang, di samping itu juga dituntut disiplin tinggi yakni dengan membatasi diri  berbuat hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan cita-cita utama kita, fokuskan saja pada diri kita.

            Saya lalu mencari motivasi dari para tokoh legedaris pesepak bola saat ini seperti Messi, Ronaldo, dan Neymar. Ternyata mereka adalah orang-orang biasa yang berubah menjadi luar biasa. Mengapa mereka menjadi luar biasa? Tidak ada hal lain selain latihan-latihan dan terus melatih. Melatih diri untuk menjadi professional dengan bidangnya, cita-cita atau hobinya. Bakat atau kemampuan 1 persen adalah bawaan individu tersebut namun 99 persen adalah latihan. Latihan bukanlah sesuatu yang sangat sulit, hanya dibutuhkan komitmen dan siap mengorbankan hal lain demi tujuan yang akan kita gapai. Para pemain bola ini, mereka tidak hebat berpidato, mereka tidak hebat bermusik tetapi mereka hebat dalam mengotak-atik bola kaki. Janganlah berpikir bahwa kita harus bisa melakukan segala hal dengan baik, mungkin saja kita bisa melakukannya tetapi tidak mungkin dengan hasil yang sangat sempurna. Fokuskanlah satu hal dan jadilah professional dengan bidang yang kamu geluti tersebut.

            Saya masuk ke kamarku dan mulai merenugkan fakta ini, bahwa tidak ada kesuksesan yang mudah digapai, tidak ada kehebatan tanpa usaha, semu butuh proses, semua butuh komitmen, butuh pengorbanan, butuh latihan yang lebih keras dan lebih keras serta berulang-ulang. Saya adalah seorang calon imam, apakah ada latihan untuk menjadi imam? Tidak!!! Menjadi imam itu sebenarnya sangatlah mudah, sebab peta atau jalurnya sudah diketahui,  tahap-tahapnyapun jelas tinggal dibutuhkan komitmen dan sedikit munafik untuk menjalani semua tahapan-tahapan tersebut. Saya merasa sangat hambar sebab tidak ada tantangan yang sangat besar, tidak dituntut pengorbanan yang besar. Namun disamping cita-citaku menjadi seorang imam, saya juga diberikan Tuhan beberapa hobby atau talenta seperti bermusik, membaca dan menulis serta belajar Bahasa asing. Tapi hingga kini semua hobby itu belom dikelola secara baik dalam artian belom professional dengan talenta dan bakat saya. Bermusikpun hasilnya tidak sempurna, belum sangat baik. Dalam bidang membaca juga, saya kehilangan hasrat dan metode membaca yang baik untuk mendapatkan suatu hal baru, okelah saya memang membaca banyak buku tetapi bacaan saya adalah buku-buku biasa yang tidak terlalu menantang otak dan hal ini membuat saya cepat bosan dengan buku bacaan saya sehingga terkadang saya tidak menyelesaikannya. Dalam bidang menulis, saya memang pernah membuat suatu blog pribadi yang kusus memuat semua karya tulis saya entah itu ilmiah ataupun sederhana. Namun beberapa bulan terakhir ini vakum, blog saya tidak terisi lagi dengan tulisan saya. Saya hanya ingin suatu media yang lebih menantang untuk tulisan saya tetapi kapan saya harus mulai, motovasi inilah yang hilang dari saya.

            Di samping beberapa talenta yang saya sebutkan di atas, adapun harapan saya untuk menguasai beberapa Bahasa asingpun belom diaplikasikan secara paripurna, dalam artian bahwa ada fakta dimana saya sangat suka belajar bahawa asing seperti Bahasa Inggris yang justeru menjadi kewajiban tetapi disamping itu juga Bahasa Spanyol dan akan belajar Bahasa jerman. Bagi saya belajar Bahasa asing bukanlah suatu tunttutan yang sangat besar tetapi itu hanya untuk melayani hoby sekedar senang-senang dengan tidak memiliki motivasi apapun. Saya tidak bermotivasi untuk ke luar negeri maka saya belajar. Semua berjalan atas kesenangan dan hobby saja. Tanpa perlu dihindari bahwa filsafat yang menjadi pelajaran wajib kami para calon imam kini sudah menjadi favorite saya, apapun yng terjadi saya harus tetap mengembangkan pengetahuan saya dalam bidang filsafat, sebab mungkin tidak akan mendapatkan sesuatu dari belajar filsafat tetapi saya akan merasa sangat gembira hati jika menguasai filsafat secara baik.

            Inilah fakta saya terkini. Ideo-video motivasi itu sangat mnggugah kenyamanan saya, hhidup itu berjalan terus aakah saya harus tetap ditempat? Apakah saya cukup dengan hasil saya selama ini? Apakah pengetahuan saya sudah memadahi? Tidak! Tidak! Hidup terus berubah sayapun berubah, maka belajar adaah keharusan, tidak hanya belajar. Belajar untuk menjadi professional. Ini saatnya menyeleksi kemampuan dan tetntukan bidang apa yang mesti diberi perhatian secara serius untuk dikembangkan. Tidak perlu harus tahhu semua, fokuslah pada satu hal dan jailaah professional pada hal tersebut. Relalah untuk mengrbaankan berbagai hal lain demi memfokuskan diri pada bidang anda. Setelah menetukan bidang apa yang mesti dikembagkan secara serius, tahap dua mulailah berlatih, beri porsi waktu yang banyak pada bidang tersebut. Pangkaslah waktu-waktu lain yang tida berguna dan berikan untuk bidang yang disukai itu. Tahap tiga adalah konsistensi dimana saya harus tetap setia melakukan hal yang sama dengan tida bosan-bosan, tidak lelah dan tidak terpengaruh oleh godaan murahan yang hanya menghabiskan waktu saja. Harus keras dengan diri sendii, jangan biarkan kesengan menyetir diri anda. Andalah sopir pengendali diri sendiri bukan orang lain. Ingat kesusksesan itu tidak mudah didapatkan tetapi tidak sulit untuk mendapatkannya. Sekaranglang waktunya jangan siasiakan.

            Saya mungkin akan mendapatkan berbagai tantangan dari dalam diri ataupun dari luar, teapi lawanlah itu teguh dalam pendirian dan gapailah mimpi. Tertawaan orang, cercaan, olok-olokan, sindiran dan keeragauan orang lain harus menjadi motivasiku. Poin terakhir yang harus saya renung dan lakukan adalah “jangan katakana kpeada orang apa yang engkau kerjakan tetapi tunjukanlah itu”. Buatlah orang bingungn dengan diammu, tetapi buatlah mereka kaget dengan hasilmu.

 

Gadingan Yogjakarta, Sabtu 22/08/2020

 

Sintuz Bezy                

 

 

 

           

Kutu Busuk

 

Buku

Baru-baru ini kami, teman seangkatan, sempat bersering ria soal dinamika kehidupan angkatan kami. Adapun beberapa hal yang kami bicarakan yakni soal keakraban kami dalam angkatan, cara memperlakukan teman, hingga pada urusan intelektual. Mereka menjagokan saya sebagai “beking” seangkatan itu, ujung tombak atau patokan, sebab mereka menilai bahwa saya menguasai filsafat lebih baik dari mereka. Padahal saya merasa bahwa saya itu biasa saja dan tidak ada apa-apanya selain keberanian. Okelah terlepas dari itu semua, saya lalu membagi pengalaman belajar saya kepada mereka.

            Sebenarnya satu hal yang bisa membuat kita maju dalam bidang ini yakni komitmen. Saya diberi talenta membaca, maka saya tetap berkomitmen untuk  mengembangkan talenta saya dengan terus membaca apa saja yang senang saya baca, hal inilah yang membantu saya untuk berkomunikasi dengan siapa saja, saya merasa sangat ‘nyambung’ dengan pembicaraan orang karena refrensi saya banyak. Mungkin benar pepatah Inggri itu “tell me who your friends are, and I will tell who you are” (Siapa temanmu, kamu akan cendrung seperti temanmu). Hahahaha apakah saya lalu disebut buku, karena saya sering berteman dengan buku?  Bukan itu pointnya! Kata Opa Allo, saat anda membaca, anda berdialog dengan penulis bukunya. Jadi itu yang benar, teman anda bukan bukunya tapi penulis buku tersebut.

            Ada satu keganjalan dalam sering kami malam itu, ada seorang teman yang mengungkapkan bahwa dia tidak punya hobby membaca, bagi dia baca hanyalah untuk memenuhi tuntutan misalnya akan ujian dan lain-lain.  Saya sempat kaget mana mungkin ada mahasiswa yang tidak hobby membaca? Lalu dari mana refrensi diskusinya nanti, bagaimana dia bisa mempertahankan argumem-argumennya ketika berdebat, apakah dia nanti hanya berbicara berdasarkan perasaan? Aku tidak mengerti. Tapi okelah saya maklum, bahwasannya membaca hanyalah salah satu metode belajar. Ada banyak cara belajar yang lainnya selain membaca, termmasuk dengan mendengar, melihat dan lain-lain. Mungkin dia memiliki cara belajar dengan menghayal yah????????? 😜😜🙍

            Terlepas dari isi sharing dan pengalaman belajar teman-teman di atas, saya lalu mengungkapan pengalaman saya, bagi saya membaca sama dengan makan. Makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh, membaca untuk memenuhi kebutuhan jiwa. Baca buku filsafat untuk meletih jiwa semakin kuat. Maka membacalah. Bagi saya tiada hari tanpa membaca. Buku adalah guru, teman, pemotivasi, pengkritik, buku bahkan mentor saya yang mengarahkan kepada kesuksesan. Pengetahuan itu mahal, mengapa saya mebuang banyak waktu dengan tidak membaca?

            Terserah, orang lain memiliki gaya belajarnya tesendiri, tetapi bgai seorang mahasiswa apalagi pelajar filsafat dan sastra, sebenarnya membaca adalah kewajiban. Apa untungnnya membaca, lagian orang yang rajin membacapun sama saja dengan orang yang tidak rajin membaca, mungkin demikian asumsi mereka. Itu pemikiran mereka. Saya hanya tetap dan akan selalu terus membaca buku di manpun dan kapanpun jika ada buku akan saya baca. Banyak tokoh hebat dunia atau nasional justeru adalah mereka yang tekun dan rajin membaca. Contoh Soekarno, anda tidak akan pernah bisa menghitung berapa banyak buku yang dia baca. Terlihat melalui pidato-pidatonya yang selalu punya refrensi yang kuat dan jelas. Dia bahkan menguasai beberapa Bahasa asing seperti Jerman, Belanda, Inggris, Prancis. Apakah beliau pernah sekolah sampai Doctor? Tidak!! Dia hanyalah seorang pemuda tamatan S1 ITB, dia bahkan tidak pernah sekolah di luar negeri. Tokoh saat ini yang fenomenal, Lihatlah Rocky Gerung. Yah, terlepas dia pada posisi politik yang berseberangan dengan pemerintah, namun bagi saya dia tetap sebagai inspirator dan bukti nyata dari kekuatan membaca. Itulah kekuatan membaca buku. Maka bacalah! Pola belajar saya justeru melalui cara membaca banyak. Itu kekuatan saya dan itulah kekuatan orang pada umumnya. Kamu mungkin jauh lebih rajin membaca dari saya. Buktikan!

1.      https://goo.gl/LtFxCv

2.      https://goo.gl/sy1Fkk

3.      https://www.marxists.org

4.      https://bukuprogresif.com

5.      https://encyclopedia.ushmm.org

6.      Journalphilosophy.com

7.      https://rumahfilsat.com

8.      z-library

Sabtu, 24 April 2021

My Vocation

 

PANGGILANKU

  


 2021 adalah tahun ke sembilan saya bergabung dengan OCD. Ini menandakan hampir sepertiga usia saya berada dalam biara. Tentu ini bukanlah durasi waktu yang singkat, di dalamnya telah saya ukir dengan berbagai kisah. Menjadi seorang biarawan tidak seindah seperti yang orang awam bayangkan tapi juga tidak serumit yang para biarawan pessimist cemaskan, saya sendiri mengalami pasang surut kehidupan membiara, ada waktunya bergembira, tertawa, bersukacita tapi juga ada waktunya bersedih, menangis dan merasa kesepian. Mungkin ungkapan Pengkotbah itu benar bahwa segala sesuatu ada waktunya. Oleh sebab itu pada saat-saat ketika down, selalu ada harapan akan hari esok yang cerah. Itulah hidup, dan saya biasanya mengeneralisir bahwa pengalaman saya pasti juga dialami oleh orang lain.

         Pada tanggal 1 Mey 2021 mendatang ini saya akan memperbaharui kembali kaul sementara saya yakni kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian. Pembaharuan kaul juga sebagai tanda komitmen saya untuk berlangkah setahun lagi menjadi seorang biarawan hingga jika saya sudah sangat siap dan konstitusipun mengaturnya, barulah saya bisa mengikrarkan kaul kekal saya. Sebelum sampai ke tanggal 1 Mey saya biasanya merefleksikan secara serius tentang kehidupan membiaraku. Berbagai hal yang saya pertimbangkan agar keputusanku tidak salah. Dalam permenugan saya, kadang saya tenggelam pada pertanyaan-pertanyaan klasik misalnya apakah Tuhan itu ada? Jika Dia ada mengapa saya harus mempercayainya? Apakah saya harus menjadi biarawan agar saya bisa melayani-Nya? Apakah menjadi biarawan OCD adalah pilihan satu-satunya? Di sisi lain sayapun sering bertanya dalam hati, jika saya bukan seorang Katolik apakah saya seorang biarawan seperti saat ini? Apakah saya masih memiliki iman atau masih bisa melayani Tuhan, jika saya bukan seorang biarawan? Itulah pertanyaan yang tidak pernah saya temukan jawaban akhir yang pasti, sebab jika ada jawaban, selalu juga disertai kontra refleksinya. Tapi itulah yang saya alami dan pasti teman-teman lain alami. Kadang saya menyerah dengan pertanyaan-pertanyaa klasik yang sangat menyita banyak waktu saya, dari pada memikirkan hal-hal ini mendingan saya melakuakan berbagai hal yang produktif seperti baca buku, latihan menulis, belajar bahasa asing dan mengasa bakat-bakat saya sebab hidup berjalan terus. Dan kadang saya berpikir mungkin inilah cara Tuhan bekerja.

           

Selama Sembilan tahun hidup membiara, saya telah mengalami banyak hal, ada yang pergi meninggalkan panggilannya dengan berbagai alasan, sebagain karena memang ingin benar-benar pergi, sebagian lagi harus pergi karena kesalahan-kesalahannya sendiri yang pasti selalu ada alasan mengapa mereka meninggalkan biara. Namun di sisi lain, tetap selalu ada yang bertahan, merekalah yang disebut orang-orang setia, tetap pada komitmen, lolos dari berbagai cobaan, orang-orang pilihan. Saya selalu berharap agar menjadi satu dari orang-orang pilihan ini apapun yang terjadi. Sebab ada kebanggaan tersediri di sana, saya akan merasakan perjuangan saya tidak sia-sia, orang yang mendukung sayapun tidak kecewa dan tentu para formator merasa didikan mereka berhasil. Tapi harapan saya selalu tidak sama persis dengan kenyataan apa yang saya rasakan. Saya mungkin bisa saja mengelabui orang dengan berpura-pura bahagia, namun ternyata saya tidak bisa menipu diri saya sendiri, maka pada akhirnya panggilan itu bersifat sangat personal, orang lain boleh mendukungnya tapi sayalah yang menjalani hidup ini. Kadang saya berpikir nakal, mungkinkah saya bisa membuat keputusan yang berbeda, bisakah saya mengundurkan diri, seberapa sakit hatinya orang-orang yang mendukung saya mengetahui ternyata saya mengecewakan mereka. Marakah para formator dan teman-teman saya yang selama ini sangat mengenal saya tapi akhirnya saya tidak menjalani hidup bersama mereka lagi? Saya tentu tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikir maupun katakan tentang saya tapi saya bisa mengontrol reaksi saya terhadap itu semua.

           


Banyak orang kudus Karmel tentu pernah mengalami hal-hal seperti yang saya rasakan bahkan lebih daripada sekedar ragu dengan panggilan dan bahkan ragu dengan Tuhan yang mereka imani dan layani. Jangankan para Kudus Karmel, para biarawan terdahulu, para pastor formator saya, senior-senior saya pasti dalam hidup panggilannya pernah melewati moment seperti yang saya alami ini, tapi mereka berhasil dan tetap bertahan dan saya sangat kagum atas sikap mereka. Saya kagum atas pastor-pastor tua yang masih tetap menjaga kaul kemurian, ketaatan, kemiskinan mereka untuk sekian puluh tahun masa  panggilannya, ini menandakan bahwa ada sesuatu nilai luhur yang mereka perjuangkan, ada iman yang kokoh dan harapan yang tidak pernah pupus. Tentu mereka selalu memiliki alasan untuk bertahan daripada meninggalkan panggilannya. Saya kagum dengan para biarawan yang sangat sukses dalam bidangnya dan menunjukan kualitas hidup membiara yang baik dalam hal doa, persaudaraan, dan pelayanan. Saya kagum dengan para senior saya yang tidak hanya bicara tapi menghasilkan sesuatu demi kebaikan bersama, yang kehadirannya selalu membawa sukacita Injil bagi sesama, merekalah orang-orang yang betul-betul mengena identitas dan panggilannya. Tentu saya tidak pernah mengabaikan aspek mansiawinya, bahwa di sana sini tetap ada kekurangan itulah manusia. Orang-orang seperti inilah yang nanti akan saya teladani di hari-hari mendatang. 


            Inilah pengalaman manusiawi saya. Dari segi intelektual saya mungkin tergolong rata-rata tidak menonjol tapi juga tidak lemah. Dari segi emosional sayapun merasakan bahwa saya masih normal, marah ketika ada sesautu hal yang tidak sesuai dengan pikiran atau aturan, senang ketika keadaan memang harus menuntut saya senang, relasi dengan formator, teman-teman serta orang awam dan keluarga saya jalani seperti lazimnya. Kadang marah kadang baik, kadang merasa dekat namun kadang merasa jauh itulah dinamika kehidupan yang selalu bisa saya jalani. Sedangkan kehidupan rohani saya bertumbuh seperti teman-teman lain. Saya mungkin orang yang tidak terlalu sangat rohani, tapi intinya saya masih tetap percaya akan keberadan Tuhan meski pertanyaan konyol  tentang-Nya sering nongol dalam pikiran saya. Saya tetap percaya pada ajaran-ajaran Gereja Katolik Roma dan tentu kekayaan spiritualitas Karmel yang menjadi kebanggan saya. Walaupun semuanya masih dalam tahap perjuangan dalam mengimplementasikanya dalam keseharian hidup saya tapi secara teori, secara iman saya masih tetap seperti orang katolik pada umumnya dan seperti para biaraawan OCD pada khsusunya.   Tentu refleksi singkat ini tidak mewakili seratus persen perasaan saya tapi inilah serpihan kecil isi hati saya. Saya selalu percaya akan hari esok yang lebih baik maka mengakhiri refleksi ini saya bersyukur kepada Tuhan Yesus Yang Maha Rahim yang masih tetap meyakinkan saya akan pilihan hidup ini dan akan keputusan-keputusan saya untuk tetap bertahan. Sebab saya selalu percaya akan hari esok yang baik. Amin.


 

 

 

 

Biara St. Theresia Lisieux,

Kaliurang K. 10,9 Jogjakarta,

Jumad, 23 April 2021

 

 

 

 

(Bro. Krisantus Yustus

of Divine Mercy, OCD)

Senin, 12 April 2021

Cukup

 

CUKUP


Aku bukanlah seorang yang pandai merangakai kata. Tapi aku selalu mengekspresikan rasa melalui kata. Walau pada momen tertentu aku yakin bahwa kata tidak pernah cukup mewakili rasa. Masih sejuta yang tetap tersembunyi di balik dada ini. aku mungkin berusaha mengekspresikannya melalui music, cuman musikku pun seribu tingkat di bawah Mozart. Rasa ini tetaplah rasa, tidak seorangpun yang sungguh memahaminya selain diriku dan juga kadang-kadang Tuhan. Yah, aku mengatakannya kadanga-kadang sebab bagiku Tuhan tidak pernah sungguh peduli. Dia diam. Dia hanya ada kalau aku menganggapnya ada, dan akupun tidak pernah tahu apakah Dia masih tetap ada jika aku mengabaikannya.

Entah ada atau tidak, bagiku saat ini Tuhan absen. Mungkin ini terlalu naif untuk diungkapkan, tapi aku punya bukti kok. Tentu aku tidak mengikuti logika santo Thomas Aquias yang mengajukan lima jalan untuk mengerti Allah. Aku hanya punya satu bukti bahwa Tuhan itu diam. Apakah diam manandakan Dia tidak ada? Aku juga tidak tahu, namun diam juga bukan berarti Dia ada. Kesimpulan nakalku kadang menyamakan diam itu dengan ketiadaan. Yah, aku selalu berusaha merenungkannya tapi hingga kini hanyalah ketiadaan yang kutemukan. Para guruku sering bilang kalau Tuhan itu akan semakin sulit dipahami jika kita berusaha memahami-Nya. Lah, buat apa aku habiskan waktu mempelajari sesuatu yang akhirnya akupun tidak akan tahu? Katanya setelah kematian barulah kita paham semua yang menjadi misteri di dunia ini. kamu akan memahami neraka, surga, Tuhan, malaikat. Ternyata Tuhan hanya dipahami oleh orang yang sudah mati. Berati tidak relevan bagi kita yang masih hidup.

Merenungkan semua ini, mempertanyakan eksistensi Tuhan hingga menghantarkanku pada suatu titik keraguan akan keberadaannya. Keraguanku akan Tuhan ternyata membawa effek yang sangat besar bagi kehidupanku. Yah, Tuhan sebenarnya adalah inti dari kehidupanku, pusat dari panggilanku. Tuhan semestinya adalah penggerak yang menarikku ke dalam lingkaran Karmel ini. tuhan adalah alasan aku menjadi seorang biarawan hingga pada hari ini.   bayangkan seorang religious tanpa Tuhan, itu sama seperti teknologi tanpa sains, atau sama seperti marxisme tanpa Karl Marxs.

Hmmmm, kalau Tuhan memang bukan untuk dipahami, lantas apa manfaat akal? Bukankah iman tetap membutuhkan akal budi. Apakah tuhan yang berusaha aku pahami melalui akal akan berbeda dengan tuhan yang ada dalam hatiku? Simon Petrus L. Tjahjadi dalam bukunya tuhan para filsuf dan ilmuwan, menunjukan bahwa ada tuhan yang bisa ditemukan melalui akal. Namun tuhannya para filsuf dan ilmuwan ini kadang berbeda dengan Tuhan para agamawan. Para filsuf sering memahami tuhan sebagai sesuatu entitas yang di luar jangakauan nalar. Tuhan hanya direnugnkan ketika orang mencapai jalan buntu pikiran. Tuhan seolah tidak terlibat langsung dengan eksistensi manusia. Ada yang memahami Tuhan seperti pembuat arloji yang setelah menciptakan alam dan segala isinya lalu membiarkannya berjalan sendiri.

Itu semua pandangan mereka. Aku mungkin membacanya tapi tidak serta merta menerima sebagai keyakinan pribadiku. Dalam benakku tuhan tetap sebuah misteri, yang entah ada entah tidak. Kalau dia tidak ada mengapa begitu banyak yang mempercayanya ada?. Mengapa agama begitu yakin sebagai suatu institusi dengan Tuhan sebagai intinya. Apakah aku dikatakan  salah jika aku menentukan posisi yang tidak sesuai dengan pandangan agama? Apakah aku akan dikatakan pengkhianat agama jika aku berusaha mengimani Tuhan versiku? Lantas bukankah Tuhan versi agama-agama adalah juga hasil refleksi orang-orang terdahulu yang kemudia diwariskan lalu diterima.

          Satu hal yang masih tetap aku pikirkan ialah tentang bagaiaman aku harus mengatakannya kepada orang lain. Apa yang akan terjadi jika aku mengatakan kepada teman-temanku dan para pastor bahwa aku tidak menerima lagi cara memahami tuhan seprti yang kalian yakini. Bagaiamakah reaksi ibuku yang konservatif jika mengetahuai bahwa aku ragu akan tuhan? Mungkinkah mereka menganggapku aneh? Aku tidak peduli, sebab bagiku, kita boleh hidup di dunia yang sama tapi kita masing-masing bertanggung jawab dengen hidupnya, dengan apa yang dia Imani. Mungkin suatu saat aku akan sangat menyesal bahwa di masa lalu kehidupanku aku pernah meragukan Tuhan. Atau juga mungkin suatu saat aku malah bersyurkur terntaya aku tepat. Entahlah, itu masa depan yang tidak pernah aku tahu bagaiamana nantinya. Yang terpenting apa yang aku RASAKAN saat ini ialah (BEGINI). 

            … hey dear dy. Kamu tahu bahwa aku tidak pandai merengkai kata, maka mengertilah kalau aku tidak tahu bagaimana mengakhiri rangkain kalimat ini.

 

 

Jogja 11/04/2021

Sintus bezy.

           

Jumat, 12 Februari 2021

12022021

 

12022021

Angka unik dan terjadi hanya sekali dalam sejarah peradaban manusia yang hidup di tahun masehi ini. Aku mungkin tidak akan menafsirkan apa arti dari tanggal manis itu tetapi aku mesti menjadikan tanggal ini manis dengan suatu kenangan tertentu. Dua hari lagi perayaan Valentine Day, itu justeru tanggal manis yang disepakati dan menjadi hari kasih sayang. Tanggal hari ini tidak pernah disepekati untuk terjadi. Semuanya mengalir dan terjadi apa adanya sesuai dengan kalenderium masehi.

Anak-anak muda mungkin memilih hari ini sebagai hari tunangan atau hari jadi atau mungkin hari pernikahan sehingga kenangan akan tetap terpatri sampai akhir hayat mereka. Tanggal unik biasanya selalu diisi dengan peristiwa yang istimewa. Dan aku selalu mengininkannya walau itu tidak mungkin, sebab aku begitu jauh dari dunia. Semua pengalaman romantis yang seharusnya aku nikmati tidak akan pernah terjadi padaku. Bukan karena apa- apa tetapi itulah konsekwensi suatu pilihan hidup. Hingga saat ini aku malah menjadi tidak paham dengan pilihan ini. Mengapa mesti menghandiri hal-hal yang seharusnya aku alami? Masa remajaku habis dalam kehidupan yang serba terbatas ini, kehidupan layaknya anak remaja alami malah nyaris tidak pernah terjadi kepadaku. Apa maksud semua ini? Apa mungkin hingga  aku mencapai masa  tua dengan kenyataan ini? Apa aku harus mengunci semua hasratku, semua banalitasku, semua ekspektasiku tentang kehidupan ini yang sesungguhnya? Kehidupan yang penuh tantangan, darah dan keringat, tapi juga senyum dan tawa bahagia.  Hmmmm.

Rata-rata masa remaja untuk orang Indonesia dimulai sejak umur 17/18 tahun hingga 30 tahun. Selebihnya, orang tergolong ke fase berbeda yang disebut masa dewasa. Suatu pemahaman yang sama diterima di selurh pelosok Indonesia juga biasanya, remaja diidentik dengan belum menikah. Sehingga yang sudah menikah walau masih umur belasan tahun Ia sudah tergolong dewasa. Apa arti dewasa? Dewasa bagiku sederhana ialah suatu fase dimana orang sudah terkekang dengan berbagai hal. Terkekang dengan komitmen, cinta,  harga diri, harta kekayaan dan lain-lain. Pada masa ini orang menjadi sangat bertanggung jawab terhadap perbuatannya, keputusannya seta apa yang Ia miliki.  Sedangkan masa remaja adalah fase kemerdekaan, ruang pengekspresian diri sangat besar, masa mencoba-coba, pencarian jati diri, mengalami cinta, berbuat apa saja tanpa harus dibarengi dengan rasa tanggung jawab yang besar. Masa ketika seseorang belum terikat oleh hal-hal di atas.

            Hampir dipastikan bahwa semua orang ingin tetap terlihat sebagai remaja, sehingga darinya muncul istlah “peremajaan” atau dalam perkomputeran disebut refresh. Yah, remaja adalah masa fresh, segar dan ideal secara biologis. Banyak atlet mengalami masa kesuksesan justeru mereka yang berusia remaja, sebab remaja sebenarnya surga biologis. Tapi defenisi ini tidak mutlak sebab dalam realitas yang berbeda, remaja tidak selalu surga.  Bagi sebagian orang yang kebabalasan menerjemahkan arti remaja ini justeru tersiksa dan menderita oleh sebab keliru mengaktualisasikan remaja yang seharusnya. Bayangkan anak-anak yang hamil di masa mudanya oleh karena kebebasan, anak muda yang harus mengakhiri hidupnya hanya karena putus cinta, anak-anak muda yang terjebak dalam dunia narkotika dan seks bebas. Itu semua adalah akibat dari kebabalasan remaja.

            Fakta-fakta ini yang meyakinkanku bahwa pilihan hidupku sebenarnya sudah sangat tepat. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika aku tidak bergabung menjadi biarawan, apa aku masih menikmati masa remaja hingga saat ini? Atau jangan sampai aku sudah terjebak dalam narkotika, atau mungkin aku telah membangun suatu keluarga dengan pasangan yang ternyata tidak aku sukai lagi, tapi tetap harus mempertahankannya sebab itulah komitmen? Atau jangan sampai aku ternyata  sedang berada di bui oleh karena kasus pemerkosaan, pencurian? Aku tidak tahu! Denganya aku bersyukur sebab pilihanku tepat, bahwa aku tidak mengalami semua kejadian terburuk yang tidak pernah aku bayangkan. Pihak keluarga dan kenalan bahkan sangat men-support aku, bahwa setidaknya aku dididik di biara, tempat yang ideal dalam bayangan mereka, tempat seorang remaja tidak mungkin melakukan hal terburuk yang bisa dilakuakn oleh seorang remaja biasa.  Tapi apakah hidup membiaraku ini adalah pelarian dari realitas masa muda yang mungki saja  suram bagiku? Pada tataran ini akupun tidak tahu! Aku tahu bahwa aku tidak tahu.

            Hidup memang suatu misteri, orang bisa merencanakan tetapi Ia tidak dapat memastikan bahwa itu akan terjadi seratu persen. Aku mungkin beruntung memilih hidup membiara, terhindar dari segala kemungkinan buruk yang bisa aku lakukan jika aku tidak menjadi biarawan. Tapi dalam refleksiku, pencarianku dan permenungan yang terus menerus terkadang aku bertanya, apakah memang jika aku di luar maka segala hal buruk itu bisa terjadi padaku? Teryata itupun belum tentu pasti terjadi. Hari-hari ini aku semakin ragu dengan panggilanku ini. Benarkah pembentukan karakter seorang anak muda Khatolik yang paling tepat adalah di seminari? Belum tentu benar. Banyak orang-orang suskses yang tidak pernah mengalami masa formasi seminari. Tapi suteru banyak seminarian atau biarawan yang buruk dan bahkan lebih buruk dari kemungkinan buruk yang dapat orang luar lakukan. Fakta membuktikan bahwa pernah terjadi ada pastor yang membunuh suster karena ketahuan suster sudah hamil hasil dari hubungan gelap mereka berdua. Lalu Ia menguburkan suster itu secara diam-diam tanpa seorangpun yang tahu. Sedangkan pastor tersebut tetap menjalani tugas-tugas pastoralnya dengan santai, hhingga kasusnya diketahui publik barulah Ia mengakuinya. Bayangkan sekian lama pastor tersebut hidup dalam dua pribadi yang berbeda, sebagai orang baik dan suci sekaligus penjahat kemanusiaan kelas kakap. Padahal Ia tetap mengajaran umatnya tentang pentingnya kejujuran. Ada uskup yang memiliki isteri simpanan, ada banyak biarawana yang memiliki gaya hidup berbeda 180 derajat dari ajaran Yesus. Terkadang aku menyimpulkan secara naka “Menjadi seminarian atau biarawan tidak mutlak karakternya baik.”

            Selain kesimpulan kecil itu, aku juga mengafirmasi banyak hal lain, yang tentu akan aku bahas pada kesempatan berbeda, yakni “Menjadi kudus tidak harus masuk biara”. Menjadi orang baik tidak harus jadi seorang biarawan. Tanggal manis sebagai tahun baru Cina hari ini 12022021 meninggalkan kenangan serba absurd bagiku, sebab aku tidak memaknainya sebagai tanggal manis seperti anak-anak remaja seumuranku. Pada tanggal ini aku justeru memikirkan ulang panggilanku dan berniat untuk berbalik arah. Maaf ini bukan refleksi rohani, bukan analisis filosfis-teologis ini cuman ungkapan isi hati dari seorang musafir cinta yang terjebak dalam pilihannya untuk menemukan Sang Cinta Sejati dengan kehidupan membiara. Ini goresan akhir hari dariku di penjara suci ini yang merasa perlu untuk menguji kehidupan panggilanku. Sebab hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. (Platon)

 

Sintuz Bezy, Jumad 12022021

Biara Karmel Jogja.

Kamis, 11 Februari 2021

Peran Saksi Perkawina Katolik

 UPAYA PASTORAL MENINGKATKAN PERAN SAKSI PERKAWINAN

 DALAM HIDUP BERKELUARGA DI PAROKI

BAB I

PENDAHULAUN

            Dunia saat ini telah masuk ke suatu fase yang sangat menjunjung tinggi kebebasan individu. Atas nama kebebasan ini, orang bisa melakuan apa saja, yang penting tidak mencelakakan kebebasan orang lain. Dengan kebebasan juga masing-masing indiviu mendapatkan hak privilasenya termasuk hak untuk tidak boleh diganggu dan diatur oleh orang lain. Ini adalah fakta yang tidak bisa kita pungkiri.

            Gereja adala sekelompok umat beriman yang percaya kepada Yesus dan pewartaan-Nya. Gereja lalu membuat suatu institusi yang sangat teratur. Sebagai institusi besar maka aturan kehidupan bagi anggotanya mesti diperhatikan. Selama 2000 tahun gereja berdiri ternyata didapatkan banyak tantangan dari dalam tubuh Gereja itu sendiri, salah satunya adalah tentang masalah hidup perkawinan. Di masa modern ini justeru kasus-kasus kehidupan rumah tangga semakin marak. Banyak keluarga yang tidak dapat mempertahankan bahtera kehidupannya hingga akhir hayat. Kasus perceraian sering kita saksikan walau Gereja memakai istilah yang lebih halus yakni anulasi namun bagi saya faktanya tetap sama yakni memisahkan pasangan yang tidak saling cocok lagi.

            Menghadapi kompleksitas persoalan seputaran perkawinan Katolik maka perlu yang namanya pembekalan-pembekalan teologis bagi pasangan yang hendak menikah. Namun kali ini fokus ulasan saya merujuk pada peran saksi perkawinan. Jika suatu pasangn dilihat semakin renggang dan jarang terjadi kontak personal seharusnya saat itu peran saksi menjadi penting. Saksi perkawinan adalah umat Allah atau segenap anggota Gereja yang hadir dalam upacara perkawinan itu, tapi secara spesifik saksi perkawinan biasanya adalah satu pasang suami isteri yang lebih tua dengan kriteria- kriteria rohani dan moral yang memadahi, misalnya keluarga tersebut tidak pernah malas berdoa, memiliki kehidupan yang baik di masyarakat, dan sebagainya. Sebab orang tua sasksi perkawinan ini akan menjadi panutan kehidupan berkeluarga bagi pasangan yang akan menikah. Sehingga jika terjadi persoalan dalam rumah tangga yang sulit dicari jalan keluar, orang tua saksi mestinya menjadi solutor terbaik.

 

 

BAB II

UPAYA PASTORAL MENINGKATKAN PERAN SAKSI PERKAWINAN DI PAROKI

2.1 Perkawinan

            Perkawinan adalah suatu sakramen yang mengikat pasangan suami isteri. Dalam ajaran Katolik upacara perkawinan ini biasanya dilakukan di Gereja atau tempat yang layak serta dihadiri oleh Imam sebagai perwakilan dan perestu  serta penyalur rahmat Kristus, juga umat beriman sebagai saksi. Perkawinan itu dikatakn sah adalah kesepakatan antara pihak laki-laki dan perempuan yang akan menjalani kehidupan bersama hingga akhir hayatnya.[1]

            Ciri-ciri perkawinan Katolik ialah satu dan tak terceraikan. Artinya seorang laki-laki hanya memperistrikan seorang perempuan dan tidak bisa lebih, begitupun sebaliknya, sekaligus tidak terceraikan hingga akhir hidupnya. Tujuan perkawinan adalah kebahagiaan pasangan tersebut serta melanjutkan keturunan, dan mendidik anak-anak yang dilahirkan.[2]

2.2 Saksi Nikah

            Secara sederhana saksi nikah sebenarnya merujuk pada orang yang menyaksikan secara langsung upacara pernikahan tersebut. Mereka yang menjadi penjamin dan informan kunci bahwasannya ada pernikahan yang mereka saksikan. Berangkat dari defenisi ini sebenarnya yang menjadi saksi nikah tentu ialah semua orang yang hadir pada upacara perkawinan itu, sebab mereka malihat secara langsung.[3]

            Dalam KHK (kitab hukum kanonik) dikatakan bahwa perkawinan itu sah juga bila ada saksi dua orang. Saksi inilah biasanya dipilih dari suatu keluarga tertentu. Mereka dimintai kesediaanya oleh pasangan yang akan menikah. Dua orang saksi ini sering disebut orang tua saksi atau bapa mama saksi. Ada beberapa hal penting seperti yang sudah dikatakan di atas bawasannya orang tua saksi ini akan menjadi panutan bagi keluarga baru. Panutan dalam hal kehidupan berumah tangga baik secara iman maupun secara moral.

2.3 Upaya Pastoral Meningkatkan Peran Saksi Perkawinan di Paroki.

            Upaya pastoral meningkatkan peran saksi perkawinan ini adalah suatu usaha dari pihak Gereja untuk memberi peneguhan atau imput-imput positif bagi para saksi perkawinan atau bapa mama saksi. Pihak Gereja merasa perlu meyakinkan para saksi ini bahwa peran mereka penting bagi suatu perkawinan Katolik. Berikut ini saya akan menampilkan hasil bacaan saya tentang betapa pentingnya peran saksi perkawinan bagi suatu keluarga baru apalagi di era yang sangat kompleks ini. Saya temukan tulisan ini dari internet judulnya ialah “Bapa mama saksi perkawinan tempat curhat saat mengalami masalah rumah tangga.”[4] Beberapa poin yang saya dapatkan ialah:

a.       Alasan pertama, bapa mama saksi itu sikapnya netral. Artinya, jika keluarga baru ini bercecok maka bapa mama saksi bukan menjadi pendukung salah satu pihak tetapi penengah dan penemu jalan keluar yang baik. Hal ini berbeda jika pasangan pergi ke orang tua kandungnya akan ada kecendrungan orang tua kandung pasti memihak anak mereka.

b.      Alasan kedua ialah cara hidup bapa mama saksi itu menjadi panutan bagi pasangan yang sedang bentrok ini. Alasan mereka dipilih menjadi bapa mama saksi tentu karena mereka memiliki kehidupan yang baik secara moral dan iman serta sudah teruji sekian lama. Bahtera kehidupan rumah tangga telah dikarungi berserta untung ruginya dan maju mundurnya. Paling tepat datang bertukar pikiran dengan bapa mama saksi perkawinan.

Ini adalah pengandaian terburuk. Maksud saya ialah seandainya keluarga baru mengalami persoalan dalam rumah tangganya maka solusi paling tepat datang ke bapa mama saksi perkawinan. Ini adalah pengandaian keburukan maka sebaliknya justeru jika perkawinan seuatu keluarga muda itu baik, bapa mama saksi merasa sukses dalam misi mereka. Upaya pastoral peningkatan peran saksi perkawinan di wilayah paroki yang paling tepat menurut saya adalah memberi penyadaran kepada bapa mama saksi ini tentang  betapa penting peran mereka bagi keluarga baru, sebagai pihak yang netral dan panutan hidup moral serta rohani.[5]

 

 

BAB III

PENUTUP

            Fakta bahwa perjalanan kehidupan perkawinan selalu mengalami maju mundur tidak bisa dipungkiri. Namun dalam semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Begitupun kompleksitas masalah perkawinan Katolik dewasa ini, suatu upaya agar perkawinan bisa diselamatkan dan terhindar dari ancaman “perceraian” (anulasi) maka pihak gereja melalui kegiatan pastroral selain selalu mendampingi pasangan bersangkutan tetapi membangkitkan semangat dan peran saksi perkawinan atau yang disebut sebgai orang tua saksi. Mereka bisa menjadi orang-orang andalan sebab mereka lebih paham kehidupan berkeluarga daripada pastor atau diakonnya.

            Upaya pastoral untuk meningkatkan peran saksi perkawian paroki adalah suatu usaha yang baik demi memberi imput positing bagi para saksi bahwa mereka itu sangat penting perannya bagi suatu keluarga baru yang masih tertati-tati menata kehidupan rumah tangganya. Dua hal penting di atas yang menandakan saksi perkawinan itu sangat penting yakni a, mereka netral, b, mereka adalah panutan kehidupan keluarga baru. Dengan dua hal ini saja maka para saksi perkawinan bisa menjadi penyelamat bagi setiap kasus perkawinan yang terancam bubar.

 

 

SUMBER BACAAN

1.      https://www.kaj.or.id/dokumen/kursus-persiapan-perkawinan-2/hukum-gereja-mengenai-pernikahan-katolik.

2.      https://yrwidadaprayitna.wordpress.com/2015/10/11/saksi-nikah-apa-atau-siapa/.

3.       http://kompasiana.com/dosom/5e588bb7097f3658a54b5572/bapa-mama-saksi-perkawinan-tempat-curhat-saat-berhadapan-dengan-masalah-rumah-tangga. 



[1] https://www.kaj.or.id/dokumen/kursus-persiapan-perkawinan-2/hukum-gereja-mengenai-pernikahan-katolik. Diakses pada hari Kamis 11 Februari 2021, jam 11.00 pagi. File disimpan di catatan penulis.

[2] Ibid.

[3] https://yrwidadaprayitna.wordpress.com/2015/10/11/saksi-nikah-apa-atau-siapa/. Diakses pada hari Kamis 11 Februari 2021 jam 11.15 pagi. File disimpan di catatan penulis.

[4] http://kompasiana.com/dosom/5e588bb7097f3658a54b5572/bapa-mama-saksi-perkawinan-tempat-curhat-saat-berhadapan-dengan-masalah-rumah-tangga.  Diakses pada hari Kamis 11 Februari 2021, jam 11.30 pagi. File tersimpan pada catatan penulis.

[5] Ibid.

Jumat, 05 Februari 2021

Pesta St. Agata

Friday, Februari 5th 2021 (The feas of St Agata)

Fist Reading     : Ibrani 13: 1-8

Gospel Reading: Mark 6 : 14-29

Introduction

          Good morning everyone,

        Let us pause awhile and in the silence of put hearts, let us reflect together about the readings which we have just heard.  Today we are celebrating the feast of St. Agata. I think it is good for us to find out messages which can inspire us to imitate her virtues that will be benefit for our life. I would like share with you my reflection about those things. Brothers and sisters in Christ Jesus, there are three main points I want to talk to you. First is about the ambiguity of Jesus’ identity. Who is Jesus according to the people in His time? Second, I want to talk about the True Leaders and their characteristics than the third one I want to talk about St. Agata and her good testimony in being a follower of Jesus.

Content (Three important Points)

1.             The ambiguity of Jesus’ identity

        All the people who lived at Jesus’ time was confused about the identity of Jesus. Some said, He was a prophet, some said He was Elijah. King Herod also was confused when he heard about Jesus and he said that Jesus was John the baptized whom he has beheaded and now appeared to the people. Dear brothers and sisters, believe it or not you and I also still confuse about the true identity of Jesus. Many people does not believe that He is the Son of God. I remember one of the good novel wrote by a famous philosopher named Dolstsky, He argued and trying to proof the readers about why people are still confuse about Jesus’ Identity. He said that the big problem came from Jesus himself, do you remember the story of temptation. Satan tempted Jesus by saying, “If You are Son of God, jump down from this top of building and the angels will save You” but Jesus didn’t do it, so according to Dollstkey Jesus never show himself as the Son of God. That is why people still ambiguous to believe about Jesus’ identity. Some people like Karen Amstrong than decided to dedicate their life as a freelance, it means someone who just believe to God and never become the part of one religion. This became a big problem for us. The question is, are we also ambiguous with Jesus’ identity? I hope we are not. As a believer each and every one of us are called to believe in Jesus and His true identity.

2.     True Leader

         At the end of the first reading, we heard that we must follow our leaders who has preached the good news, look at their life and imitate their examples. Dear brothers from the Holy Gospel we found three characteristics of a leader. First from John the Baptist, he was a true leader because he preached the truth, Even though he has to pay it by his death. John was beheaded because He said the truth. So this is the leader whom we must imitate. Second King Herod, he was an antagonist person. He liked to hear John’s preaching and He also the person who decided to kill John. I believe that many of us here imitate the character of King Herod. The third is Herodias, she showed the bad attitude. She was angry with John who corrected her bad lifestyle. Many people around us, including each of us maybe do the same like Herodias. We tend to get upset and feel bad when someone corrected us. Often time we also like Herodias, we do not want to be corrected by other people and our tendency is to attack the people who we do not like the most. I would like to invite you all to always imitate attitudes of the true leader. Let us learn from John the Baptist, stand for the truth and ready to pay the cost of our action.

3.     Story of St Agata

        I believe that all of you are familiar with the story of St. Agatha. For me, she was a real and true follower of Jesus. She gave herself totally to Jesus, She refused worldly pleasures and she surrender her life to Jesus.

Conclusion

          One question for our reflection have we practice to give testimony about Jesus and preach the truth? Have we imitate the  good examples of true leader?


Jogja, 4 Februari 2021

Sintus Bezy (dikoreksi oleh sr Encyk dari Amerika).

  N a s kah   A ct u s   P a s kah   202                                                 H A R A P AN   T I D AK   PE R N AH   MATI   ADEGAN...