Senin, 13 Mei 2019

alva omega


Alva dan Omega

Catatan Pinggir Santiago

Ditengah penatnya otak karena tugas kampusku, A.? selalu memberikan kesegaran. Canda tawa senyumnya yang sulit aku lupakan, tetap bugar terrekam dalam benakku. A tetaplah gadis yang special buatku. A itu itimewa, bidadari nyata, peri hidup. Yah, itulah dirimu. Aku menyesal mengapa tidak mengenalnya lebih dalam. Tapi, walau sesingkat itu berhasil dia merasuk sampai ke sukmaku. Walau A jauh di sana, tapi wajahnya ada dalam hatiku. Hehehe
Satiago terus membolak-balik halaman buku Republik karya Plato yang sedang dibacanya. Ia hanya ingin mencari defenisi Cinta. Santiago yakin defenisi itu dapat menerangkan gejolak yang ada dalam dadanya. Banyak sumber yang dibacanya namun belum tepat menerangkan  apa itu Cinta, apa yang dirasakannya, apa yang membuat hatinya berejolak. Satiago rupanya lupa kalau hati itu punya alasan-alasan yang tidak dipahami ratio, kata Blaise Pascal. Mengapa harus satukan hati dan akal? Hati itu menyimpan rasa, akal itu memahami apa yang ada dalam hati, kata Santiago meyakinkan dirinya. Santiago mahasiswa tingkat akhir sedang sibuk menggarap skripsinya. Dia berusaha semaksimal mungkin agar bisa diwisudakan pada semester delapan. Sebab dia malu jika terlampau lama menghabiskan waktu dalam kampus. Dia malu dibilang tidak punya kontribusi untuk masyarakat. Aku buah yang belum ranum, katanya mebela. 
Catatan pinggir Santiago malam ini diberi judul "Untukmu yg berinisial A!!!!" Cinta itu menyusahkan, jika dihalang-halangi. Ia harus diberi ruang dan waktu untuk bereksprsi. Cinta itu bukan pribadi, tapi Ia merasuki pribadi. Cinta itu bisa membuat orang menjadi gila, di lain sisi bisa menjadi gembira. Bisa menjadi apa saja, sebab cinta itu adalah virus. Aku susah tak punya ruang, tapi kau merdeka sesukamu. Pertemuan yang tak pernah diagendakan, tapi efeknya mencengankan. Aku, kau telanjangi bulat, malu ditertawakanmu walau itu tidak kau lakukan, sebab aku butah dalam rasa, lama aku tak mengolahnya sebab pilihanku mebatasi itu. Apalagi kini kuharus berjumpa dengan faylasuf.
Benar katamu kalau aku terhipnotis Plato ke dalam khayalan yang tak ada akhir. Republik buku usang yang kubaca kau hina, walau aku terkadang ragu apa benar Plato tak berguna? Hidup yang nyata adalah hidup dalam dunia idea, itulah makanya aku terus tenggelam dalam idea tuk menemukan kenyataan itu. Yah, ini memang terdengar lucu bagimu seorang praktisi bukan bagiku. Aku hanya tak habis pikir hingga kini bagaimana jadinya jika Aku dan Kau bersatu. Idealisme dan realisme, kontemplatif dan praktis, woow itu sangat mengagumkan, perpaduan yang menggemparkan. Walau ini hanyalah imaginasi, ingatlah bahwa keberhasilan itu bermula dari imaginasi. 
Paragraf 2 Santiago mulai deskripsikannya. Dia gadis berinisial A, manis dan menggoda. Hahaha, Santiago memang suka untuk merahasiakan segala sesuatu termasuk gadis kesukaannya. Kalaupun teman-temnya bertanya, Santiago hanya memberikan nama inisial. Ini bukan semata karena Santiago takut dan malu nanti dibilang bermuka dua, tapi itulah karakter Santiago yang tenang dan tak tergesa-gesa serta tahu kapan dan dimana segalanya harus terjadi. Hmmm, A selalu Santiago kaitkan dengan Alva. Yah, Aku ingat apa Alva itu. Pada perayaan malam Paskah kemarin pastor sempat mengatakan tentang Alva. Yah, Alva (perempuan- sejarah) artinya bentuk Inggris dari nama tradisional Irlandia, Ailbhe, yang berasal dari bahasa Irlandia kuno albho ‘putih’. Alva artinya peri, berkulit cerah, agung mahamulia, keteguhan, kebijaksanaan, pengaruh dan kekuasaan, jujur dan bersih. Arti kata Alva sangat menggambarkan sosknya. Gadis berinisial A. kau adalah apa yang baru didefenisikan. Dia gadis yang punya pengaruh dalam relasi sosialnya kali ini sangat diperhitungkan, bukan karena dia calon sarjana tapi karena jaringan pertemanan yang dia bangun itu sangat luas dan kren. Jujuf dan bersih itu nyata dalam setiap perjuangannya menanggapi fenomena sosial. Pokonya A itu cocok sekali disebut Alva. Aku hanya mengafirmasi saja, siapakah aku  ini, hingga bisa mengatakan sedalam-dalamnya.
            Hmmm, Santiago ternyata salah mendefensiskan Alva. Pastor jelaskan di malam paskah itu buka Alva tapi Alfa, perbedaan huruf V dan F ditengah kata. Alfa adalah huruf pertama dari bahasa Yunani, yang selalu dipadukan dengan Omega huruf terakhir. Alfa dan Omega artinya awal dan akhir. Ternyata dalam tradisi kekristenan kata ini merujuk pada Yesus Kristus sebagai pribadi yang awal dan yang akhir. Hmm, Santiago terobsesi dengan senyuman A, sehingga segala sesuatu menjadi lebih menyenangkan. Kata Santiago, aku selalu mendefensiskan A sebaik mungkin, mendeskripsikan dia seindah mungkin dan mengimajinasinya secantik mungkin. Dialah juga Alfa, sebagai awal bagiku untuk berimajinasi. Entah Alva atau Alfa semuanya adalah dia.
            Ini hanya goresan kecil, catatan pinggir akhir hariku untukmu gadis berinisial A. Kapan kapan kita berjumpa lagi.? Rangakaikan kisah yang baru, aku ingin lebih erotis, dan puitis dalam ungkapan. Itu sangat menggairahkan, intelek, rasa, dan kehendak berjalan seiring. Ingatlah bahwa kita pernah berbicara Sartre dan Simone. Aku bosan mencari teori cintanya Plato, aku malah lebih terpesona dengan kisah cinta kedua tokoh legendaris ini. Apakah mereka bisa menjadi ideal type antara aku dan dirimu? Hahaha..
            Selamat malam, Aku Santiago..
Penfui, Senin, 13, 5, 2019
Oleh Sintus Bezy

Minggu, 28 April 2019

Yoman Rembung


“Namanya Rembung”

Refleksi singkat tentang nama Rembung,
 fam seorang sahabat yang bernama Yohanes Brahmans Rembung (Yoman).

            Di hari Minggu 31 Maret 2019, Santiago meluncur ke Kota Kupang. Apa yang akan terjadi, kemana secara spesifik sasaran kepergiannya? Semua tidak terkonsepkan, itulah yang selalu dilakukan oleh Santiago. Semua terjadi begitu saja, kemana dan apa yang akan terjadi mengalir begitu saja (pentha rei), anda tidak akan lewat di sungai degan air yang sama sebab air selalu mengalir. [1]Heraklitos menjadi filosof yang melandasi semua pemikiran dan gerak hidup Santiago, khususnya sehari itu. Walaupun segala sesuatu mengalir begitu saja, namun ke-mengaliran itu selalu mengandung makna, tergantung siapa yang ingin menggalinya. Makna tidak harus terdapat dari peristiwa yang indah dan amazing, segala peristiwa selalu mengandung makna dan nilai.
      Minggu ini Santiago meluncur ke suatu tempat di mana kampus STIKES MARANATHA berada. Santiago terpukau dengan para calon perawat yang koskosan sekitar STIKES, lebih dari itu begitu mengasykkan. Di Baumata Santiago berjumpa dengan Makarius teman sekampung dan seperjuangannya, mereka sebenarnya sudah berjanjian untuk bertemu, namun semua bersalahan sehingga perencanaan jadi buyar. Buyarnya perencanaan menjadikan Santiago tidak memiliki rencana baru lagi selain jalani dan jalani saja,  kemana dan bagaimana serta apa yang terjadi, semua diserahkan kepada kenyataan, satu hal yang pasti bahwa peristiwa baru akan terjadi.
    Marlin Manore artis Amerika yang pernah diisukan selingkuh dengan Soekarno bahkan menyatakan bahwa Ia menjadi terkenal hanya karena sering melakukan kesalahan, sebab baginya kesalahan menjadikan orang untuk mengetahui sesuatu yang baru dan berbeda. Thomas Alva Edison justerubersyukurdariseratus kali percobaan, pertama-tama bukan karena Ia menemukan sesuatu kebenaran yang Ia cari tetapi justeru karena Ia bisa mengetahui 99 kesalahan yang tidak perlu diulanginya lagi. Pengalaman itulah yang membuat Santiago tidak pernah takut berbuat salah, walau pergi ke Baumata ternyata adalah kesalahan, Santiago tidak takut sebab nantinya Ia akan tahu mana kebenarannya.
            Santiago sebenarnya adalah mahasiswa semester akhir di salah satu Universitas di kota Kupang yang sedang menggarap skripsinya, dengan judul Filsafat Nama Menurut Pi’i Pato’ Pada Kebudayaan Maronggela. Seperti kebanyakan kebudayaan lain yang ada di Indonesia begitupun Kebudayaan Maronggela, Desa Wolomeze, Kabupaten Ngada-NTT juga memiliki tradisi pemberian nama kepada calon anggota keluarga yaitu bayi yang baru lahir, tradisi itulah yang disebut P’i Pato’ atau pemberian nama dengan pinang muda yang dibelah dua sebagai sarana penentu apakah nenek moyang menyetujui nama yang ditawarkan atau tidak. Tradisi ini biasanya terjadi pada hari kelima setelah bayi lahir. Pemberian nama dilakukan oleh seorang kepala suku atau seseorang yang dituakan dalam keluarga dan semua anggota suku diharapkan hadir dalam acara “nampo’ ngalit/ pi’i pato’ tersebut. Alasan mendasar adalah karena sang bayi akan menjadi anggota resmi dari suku Maronggela maka dibutuhkan partisipasi seluruh anggota suku untuk menyambut kedatanngannya. Inilah unsur sosialitas dari pi’i pato’.
       Persoalan tentang mekanisme pemberian nama sudah bisa Santiago bayangkan dan pikirkan bagaiamana harus diatuliskan, bahkan Santiago telah melakukan semiar proposal dengan judul yang sama di atas dan diterima oleh dosen pembimbing serta diharapkan untuk melakukan penelitian yang lalu terdokumentasi dalam bentuk skripsi. Penelitian Santiago sebenarnya tidak hanya menyangku tmekanisme pi’i pato’! Bukan hanya untuk menjawabi pertanyaan bagaimana harus melakukan, kapan, siapa yang harus hadir serta apa bahan-bahan yang perlu dipersiapkan dalam acara pi’i pato’? Mengingat judul yang ditawarkan adalah menyangkut filsafat nama maka penelitian Santiago harus bisa menjawab persoalan apa filsafat nama menurut pi’i pato’? Santiago telah menghabiskan dua bulan berusaha menjawab pertanyaan itu dengan kemampuan serta pengetahuan yang ia miliki. Semua pertanyaan dasar sudah ia jawab perlahan tetap tidak memadahi. Pengetahuan yang Ia miliki tidak menjawab secara defenitif persoalan atau pertanyaan di atas, pengetahuan harus diakui datang dan bersumber dari orang lain, maka Santiago harus bertanya kepada orang yang lebih mengetahui jawaban dari pertanyaan apa filsafat nama menurut pi’ipato’.
            Pertanyaan telah coba Santiago tanyakan kepada orang-orang di kampung Maronggela sesuai 5w1h, namun jawaban yang sama selalu dilontarkan dari mulut tua-tua adat bahwa itu sudah tradisi dan kita generasi muda saat ini hanya melanjutkan. Itu sudah tradisi. Jawaban ini sungguh tidak memuaskan bagi Santiago dan tidak memenuhi dahaga inteleknya dan bahkan tidak memenuhi kriteria ujian skripsi. Santiago coba mewanwancarai orang-orang yang lebih tahu daripada tua-tua adat, misalnya mengapa harus pada hari kelima barulah pi’i pato’ bisa dilakukan? Mengapa harus gunakan pinang dan bukan gunakan hal lain? Santiago berusaha menjawabnya sendiri dan barulah ditanyakan kebenarannya kepada tua-tua adat, hanya saja itu pun belum memuaskan sehingga harus dibutuhkan input dari orang lain.
xxxxxxxxxxx
xxxxxx
xxx
x

            Kesalahan yang terjadi hari ini justeru menemukan Santiago dengan sesorang bernama Yoman Rembung. Beliau adalah seorang mahasiwa di salah satu universitas yang ada di kota Kupang ini. Santiago tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa Ia akan berjumpa dengan orang yang menjadi sasaran wawancaranya (Narasumber), Yoman Rembung sapaan hariannya, namun Ia memiliki nama panjang ialah Yohanes Brahmans Rembung. Santiago lalu mewawancarainya bukan nama baptis tetapi tentang nama Rembung itu sendiri. Rembung dalam bahasa Maronggela (Nampe), diartikan sebagai tunas muda, atau rumput muda yang baru tumbuh dan masih hijau. Rembung biasanya sangat cocok untuk makanan hewan seperti kuda, kerbau dan sapi serta hewan-hewan mamalia lainnya.
            Filsafat nama untuk nama Rembung yang dimaksud di sini dipakai metodologi filsafat Timur bukan pemikiran analitis tapi suatu pandangan hidup atau (way of life), dibedakan dari filsafat Barat yang cendrung spekulatif, rational, serta sistematis. Maka filsafat nama adalah pandangan tentang nama atau apa makna sebuah nama. Filsafat nama Rembung berarti menjawabi persoalan apa arti kata Rembung, dan mengapa nama Rembung serta makna nama Rembung secara filosofis. Melanjutkan penjelasan di atas, Rembung secara harafiah berarti tunas muda. Nama Rembung diambil dari nama kakeknya atau ayah dari ayahnya, dengan harapan bahwa kelak si kecil Rembung ini akan bertumbuh menjadi seperti Rembung kakeknya. Nama pada tempat ini mengandung dua unsur yaitu masa lalu dan masa depan. Unsur masa lalu berati nama Rembung mengenang nama kakeknya yang hidup di masa lalu, maka Rembung dalam keluarga selalu dipanggil Ma’. Ma’ itu artinya bapa. Memanggil Rembung dengan sapaan Ma’ mengenang bapa dari ayahnya atau kakeknya pemilik nama Rembung yang sesungguhnya. Dalam tradisi Maronggela kakek selalu diceritakansebagaitokoh yang hebat, pernah mengalahkan beberapa orang dalam suatu pertempuran atau bahkan pernah membunuh orang dll.
       Dimensi masa depan dari nama Rembung mengandung harapan bahwa Rembung kecil bertumbuh seperti Rembung tua yang sarat akan prestasi dan kehebatan di masa lalu. Hal ini terbukti melalui kata-kata dalam do’a adat yang disebut Pintu Pazir Pi’i Pato. Refleksi sederhana dari Rembung, yang adalah tunas muda, yang hijau dan segar, indah dipandang dan menghiasi pemandangan, serta enak dinikmati, dan  juga makanan untuk hewan. Maka pribadi Rembung atau orang yang bernama Rembung ini pertama, segar dan muda, layaknya tunas muda dia adalah dan seharusnya menampilkan diri sebagai orang yang selalu segar dalam pemikiran, perkataan dan tindakan. Segar menandakan bahwa Ia selalu menyumbang pemikiran yang baru dan memperbaiki pemikiran yang lama, perkataannya selalu mendatangkan pengetahuan yang baru dan menyejukan serta menginspirasi orang yang mendengarnya, tindakannya juga diharapkan.………..

Sekian dulu, nanti ada lanjutan



[1]Heraklitos seorang filosof Yunani Kuno mengungkapkan konsep “pantharei” segala sesuatu mengalir, segala sesuatu bergerak/berubah. Heraklitos bertentangan dengan Parmenides yang mengungkapkan bahwa segala sesuatu tidak bergerak, “ada” dan bukan “tiada”.

Sejarah suku Poso' (Maronggela).

Sejarah Suku Poso'   
oleh Sintus Bezy  
cerita ini  penulis baca dari buku kengan yang ditulis oleh mahasiwa Sebelas Maret
yang KKN di Maronggela.

      Sekilas kampung lama Warukia, terbentuk dari dua suku yatu suku Poso’ yang merupakan suku berasal dari Gowa di Sulawesi, karena perang mereka mengungsi ke Flores dan menetap di kampung Poso’. Pasangan keluarga itu adalah Bapak Ndeze’ dan Mama Lenang. Setelah Ndeze’ dan Lenang sampai di kampung Poso’ mereka membuka ladang serta membuat perkampungan bersama keluarganya. Beberapa tahun kemudian lahirlah seorang anak laki-laki dari keturunan Bapak Ndeze’ yang diberi nama Pu’un. Setelah besar Pu’un meminang seorang anak perempuan yang berasal dari kampung Namut. Perempuan tersebut adalah anak dari Dalu Namut. Setelah melewati adat pernikahan berdasarkan adat suku Poso’ akhirnya perempuan tersebut dibawah ke rumah sang suami di kampung Poso’. Kehidupan keluarga tersebut tidak berlangsung lama. Kehidupan keluarga tersebut tidak berlangsung lama, beberapa waktu setelah perkawinan terjadi perselisihan  yang menjadi awal dan penyebab bergabungya suku Poso’ dengan beberapa suku lainnya seperti retas sehingga membentuk Warukia.
        
         Ada beberapa peninggalan di Suku Poso' yaitu:
   1. Watu Landor: watu landor merupakan sebuah batu lonca yang digunakan suku Poso' untuk menentukan apakah seorang laki-laki dan perempuan diperbolehkan melakukan perkawinan. Watu Landor terdiri dari tiga batu yang memiliki fungsi yang berbeda-beda.  terdapat satu buah batu yang  paling tinggi kira-kira 1,5 meter yang akan dilompati oleh laki-laki dan batu yang berukuran sedang kira-kira 1 meter untuk dilompati perempuan sedangkan batu yang paling kecil digunakan untuk melakukan acara adat potong gigi (Rosong Ngis).
    2. Gumbang Zuma; merupakan situs bersejarah peninggalan Suku Poso' yang diwariskan untuk suku Warukia. Suku Poso' membuat Gumbang Zuma' dengan alasan bahwa dahulu warga Suku Poso' hidup di atas puncak gunu Poso' yang dipimpin oleh Gelarang Poso'. Mereka mengeluh akan susahnya mendapat air minum dimana tempat tersebut benar-benar tidak terdapat mata air. warga suku Poso' berhasil membuat dua buah lubang yang dilengkapi dengan tutup dan alu yang digunakan untuk mengetuk dasar lubang pada saat meminta air hujan kepada leluhur. Lubang pertama diberi nama Gumbans Zuma' Wina atau Gumbang Zuma' Perempuan yang digunakan warga Suku Poso' untuk cuci dan mandi. Lubang kedua diberi nama Gumbang Zuma Rana atau Gumbang Zuma Laki-laki yang digunakan untuk keperluan minum.

tulisan ini saya dapatkan dari buku kenangan
yg ditulis oleh masahiswa dari Universitas
Sebelas Maret. dengan judul Mronggela Miniatur 
Surga Di Timur Indonesia.

Senin, 08 April 2019

Maria Menghadirkan TUHAN



Maria Menghadirkan TUHAN Bagi Siapa Saja Yang DijumpaiNya.

Oleh : Bro. Sintus, OCD

Dikatakan bahwa di bawah altar utama Basilika St Petrus tersimpan tulang belulang sang santo, sehingga banyak orang datang untuk berziarah ke kota Roma demi mendapat rahmat dari santo Petrus. Tradisi juga menceritakan bahwa St. Thomas rasul setelah mewartakan Injil di India mati  dan dikuburkan di sana, begitupun St. Yakobus yang kuburnya terdapat di Spanyol yakni di kota Santiago. Negara-negara baik Roma, India maupun Spanyol mengklaim bahwa ada relikwi St. Petrus, Thomas, dan Yakobus yang tersimpan di tempat mereka dan kemudian dijadikan obyek wisata.
 Pada abad-abad lalu dan bahkan sampai sekarang banyak peziarah Kristiani  dari belahan dunia datang mengunjungi tempat-tempat kudus tersebut. Pesrsoalah tentang apakah tulang-belulang itu betul-betul milik sang Santo atau cuman replikasi, itu persoalan kemudian tetapi yang pasti bagi kita bahwa ada negara tertentu yang mengklaim menjaga dan menyimpan tulang-belulang para Santo tersebut dan kita meyakininya. Namun tidak dengan Maria Ibu Yesus. Kita tidak pernah dengar satu kotapun yang mengklaim bahwa menyimpan tulang belulangnya. Dan jikapun di Efesus atau di Yerusalem tempat Maria mengakhiri hidupnya diklaim bahwa ada makam Maria tetapi tidak dapat dipercaya seratus persen, karena tidak ada orang yang berziarh ke sana.
Gereja tidak memberi defenisi yang pasti apakah Maria sempat mati atau tidak. Jika memang Maria pernah mati berarati Ia juga pernah dikuburkan dan klaim bahwa ada makam Maria bisa benar juga. Namun jika Maria tidak sempat mati, hal tersebutpun dapat dipercaya. Banyak teolog yang meyakini bahwa Maria memang pernah mati. Jika Yesus yang adalah Allah saja wafat, mengapa Maria tidak  mengalami kematian, itu argument mereka. Dalam sebuah refleksi di Katolik life, Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa "Bunda tidak lebih tinggi dari Putera". Pernyataannya itu memperkuat keyakinan bahwa Maria mengalami kematian jasmani. Karena Yesus sendiri harus wafat, maka logis sekali jika kita beranggapan bahwa Bunda Maria juga wafat secara fisik sebelum ia diangkat ke surga. Karena kita yakin bahwa Bunda Maria dikandung tanpa dosa dan tetap "penuh rahmat" sepanjang hidupnya di dunia, logis juga jika kita beranggapan bahwa tubuh jasmaninya dihindarkan dari kerusakan setelah kematiannya.
Tetapi  bisa benar juga kalau kita meyakini bahwa Mari tidak mati secara fisik.. Dogma Santa Perawan Maria diangkat ke surga dirayakan untuk menghormati suatu kebenaran, yaitu bahwa setelah akhir hidupnya di dunia, Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Dalam Kitab Kejadian 5:24 dan 2 Raja-raja 2:1-12 Kitab Suci menceritakan bagaimana tubuh Henokh dan Elia diangkat ke surga. Jadi hal diangkat ke surga bukanlah hal baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Walau  Gereja tidak pernah menegaskan secara resmi apakah Bunda Maria benar-benar meninggal secara jasmani, meskipun banyak ahli yang beranggapan demikian. Tetapi yang harus digaris bawahi di sini ialah bahwa Maria telah mengakhiri pesiarahanNya di dunia ini. Dia telah diangkat ke dalam kemuliaan Surga.
             Bukti lain tentang Maria diangkat ke Surga dengan jiwa dan badanya ialah bahwa Maria menampakan diri. Hanya orang yang telah mengakhiri peziarahan di dunia ini yang dapat menampakan diri. Henok setelah hidup bergaul dengan Allah, tidak ada lagi. Ia telah diangkat ke Surga. Ataupun Elia yang setelah selesai hidup di dunia ini dihantar dengan kereta kuda berapi menuju Surga dan disaksikan oleh Elisa muridnya. Elia memang tidak mengalami mati fisik, tetapi karena Ia telah hidup pada ratusan tahun sebelum Yesus dan pada zaman Yesus Ia menampakan diri. Ataupun juga tentang Musa. Musa mati sebelum memasuki Israel dan sampai sekarang para arkeolog mencoba untuk menemukan kuburnya tetapi tidak berhasil. Bisa disimpulkan bahwa Musa juga memang telah bangkit dengan jiwa dan raganya. Saya tegaskan lagi hanya mereka yang telah mengahiri peziarahan di dunia ini yang dapat menampakan diri. Pada pesta transfigurasi ada tokoh Musa dan Elia yang bercakap-cakap dengan-Nya. 2 nabi perjanjian lama ini menampakan diri. Yesus juga setelah bangkit, menampakan diri kepada murid-murid-Nya. Mariapun seperti itu. Kita tahu Maria menampakan diri di  berbagai tempat dan yang paling terkenal di Lourdes, Fatima dan juga di Gaudalupe. Jika Maria sempat mati fisik, berbarti dia telah dibangkitkan dan seperti Yesus atau Musa yang menampakan diri lagi. Dan jika Maria tidak mengalami mati fisik Dia sama seperti Elia yang menampakan diri lagi. Elia, Musa Yesus menjadi contoh dalam Kitab Suci dan karena Maria juga menampakan diri berarti memaang Maria telah diangkat ke surga jiwa dan raganya.
Berpedoman pada bukti di atas maka gereja Mendogmakan keyakinan Maria diangkat ke Surga dengan jiwa dan raganya, tetapi bukan ini satu-satunya ada alasan lain yang lebih spekulatif teologis untuk menjawabi mengapa Gereja menepatkan dogma Maria diangkat kesurga. Memang kata “Diangkat ke Surga” tidak ada dalam Kitab Suci. Sehingga banyak orang yang menafsir secara harafiah mengalami kesulitan dalam memamahami keyakina ini. Namun demikian, pertama-tama kita patut berdiam diri dan merenungkan peran Bunda Maria dalam Misteri keselamatan, sebab inilah yang menjdai dasar dari keyakinan Santa Perawan Maria diangkat ke Surga. Kita yakin bahwa sejak awal perkandungnya, karena kasih karunia dari Allah, Maria bebas dari segala noda dosa termasuk dosa asal. Malaikat Gabriel menyapanya sebagi penuh rahmat. Sementara Elisabet memujinya melebihi semua wanita yang ada di kolong langit ini. Maria telah dipilih untuk menjadi Bunda dari juruselamat kita. Dari kuasa Roh Kudus ia mengandung Yesus Kristus Putera Allah, melalui dirinyalah Allah merubah rupa seperti manusia. Maria kemudian disebut sebagai Theotokos (yang melahirkan Allah).
Ada seorang penulis mengungkapkan bahwa jika kita menelusuri hidupnya. Tokoh Maria memang betul-betul menghadirkan Tuhan kita kepada orang-orang yang dijumpainya. Seperti kepada Elisabet dan puteranya, sehingga Yohanes Pembaptis yang masih dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan atas kehadiran Tuhan. Demikian juga menghadirkan Tuhan kepada para gembala sederhaana tetapi juga kepada 3 majus dari Timur yang bijaksana. Juga kepada warga Kana yang kehabisan anggur saat pesta, Tuhan meluluskan kehendak Maria dan melakukan mukjizatnya yang pertama. Terlebih lagi Maria berdiri di kaki Salib Putera-Nya memberi-Nya dukungan dan berbagi derita lewat kasihnya seperti yang halnya diberikan oleh seorang ibu. Dan akhirnya Maria ada bersama para rasul pada hari pentakosta ketika roh kudus turun atas para rasul dan kelahiran Gereja. Kita masing-masing dapat melihat serta merenungkan Maria sebagai hamba Allah yang setia, yang ikut ambil bagian secara intim dalam kelahiran, kehidupan, wafat dan kebangkitan Tuhan.
Dari sini kita yakin sebagaimana yang diajarkan dalam kekatolikan bahwa janji Tuhan yang diberikan kepada setiap kita akan ikut serta dalam kehidupan yang kekal, termasuk kebangkitan badan, digenapi dalam diri Maria. Maria diangkat ke surga sebenarnya sebagai konsekwensi dari perkandungannya tanpa noda.  Kita meykini bahwa mati dan kehancuran badan adalah akibat dosa. Dan karena Maria tidak berdosa maka pasti Maria kalaupun mati itu berarti sebagai keikut sertaannya dalam kematian Kristus dan Dia tidak akan mengalami kerusakan badan. Maria turut serta dalam kematian Puterra-Nya dan juga turut serta dalam kebangkitnanya. Uskup Theoteknos dari Livias menyampaikan “Sebab Kristus mengambil kemanusian-Nya yang tak bernoda dari kemanusiaan Maria yang tak bernoda, dan apabila Ia telah mempersiapkan satu tempat di surga bagi para rasulnya, betapa terlebih lagi Dia mempersiapkan bagi Bunda-Nya, jika Henok telah diangkat dan Elia telah naik ke surga betapa lebih lagi Maria, yang bagaikan bulan bercahaya cemerlang diantara bintang-bintang dan mengungguli segala nabi dan rasul.
Dari bukti-bukti analogis dan teologis tentang Maria diangkat ke surga maka pada tanggal 1 November 1950 Paus Pius XII dalam Munificentissimus Deus memaklumkan bahwa “Bunda Allah yang tak bernoda dosa, Maria yang tetap perawan selamanya, sesudah menyelesaikan hidupnya di dunia ini, diangkat memasuki kemuliaan surga beserta badan dan jiwanya”. Dengan dogma yang baru ditetapkan ini maka  penghormatan kepada Maria yang semulanya muncul dari kalangan umat dan bukan dari para pemimpin Gereja semakin berkembang pesat. Gambar-gambar Maria telah dijumpai di dalam katakombe-katakombe Roma tempat umat Kristen bertemu, bahkan sejak abad keempat, dan  sejak saat itu devosi kepada Maria secara eksplisit berkembang dengan baik. Maria dipuja oleh umat Katolik Roma Ortodoks Timur dan Anglikan Agung.
 Satu hal yang perlu kita teladani dari tokoh Maria ialah bagaiman dengan kesederhanaan, kemurnian dan ketaatannya dalam menghadirkan Tuhan bagi semua orang. Kepada para gembala miskin sederhana dan juga kepada 3 majus dari Timur yang bijak. Kita sebagai pengikut Kristus sebenarnya diperkenankan meneladani contoh baik ini. Dalam pelayanan kita setiap hari tidak membatasi diri hanya bagi orang-orang tertentu tetapi untuk siapa saja. Mewartakan Injil Tuhan untuk mereka yang lemah tetapi juga untuk mereka yang kuat. Berani melayani mereka yang bijak bestari tetapi juga untuk orang yang pas-pasan. Menghadirkan Tuhan juga untuk yang miskin papa dan juga untuk yang kaya raya. Kehadiran kita jika itu membawa nama Tuhan pasti sangat berbahagia bagi mereka yang kita jumpai.
            Semoga permenungan ini semakin menambah wawasan kita tentang Maria yang di angkat ke surga dan kita juga terinspirasi untuk meneladani sikapnya teristimewa dalam menghadirkan Tuhan kepada sesama dengan tidak memandang status.. .. Mungkin dengan cara ini kita juga diakhirat nanti termasuk salah satu orang yang ditebus Tuhan dan menjadi orang yang juga mengalami kebangkitan badan seperti Maria. Amminnnn.

Rabu, 03 April 2019

Kapal Sudah Berlayar


sintus
Kapal Sudah Berlayar
Dan Dermaga Sudah Terbakar!

(Terkenang saudara Ollen Langkamua, Sisko Barus, Billy Suna,
Sobat Rurume, Vinsen Gou, Tony Waso, Faris Datho, Andre Fao mereka yang pernah ada
serta menginspirasi diriku, teman-teman dan Ordo Suci)

       Santiago teringat akan kata-kata Martin Heideger “Hidup adalah suatu keterlemparan”,[1] manusia tidak pernah mengingini untuk dilahirkan di mana, dari keluarga yang seperti apa, serta harus dibekali dengan bakat yang bagaimana? Siapakah yang pernah mengingini untuk dilahirkan ke dunia ini? Sebab kelahiran adalah suatu misteri, seperti juga kematian. Kehidupan hanyalah bentangan antara misteri kelahiran dan misteri kematian, maka kehidupan sebenarnya keterlemparan. Nihil dan kosong serta ketiadaan, apa yang terpenting dalam hidupmu? Hanyalah ketiadaan. Salah satu fakta yang memilukan manusia di era modern sekalipun adalah “mengetahui bahwa dia akan mati”.  Mengapa harus lahir jika dengan kelahiran itu aku akan mati lagi??? Mengapa?
          “Kapal sudah berlayar! Ketika engkau menoleh ke belakang, dermaga juga sudah terbakar! Engkau ada di dalam kapal, engkau ada di lautan lepas, tidak tahu ke mana, sebab daratanpun tidak engkau lihat! Tuhanpun tidak engkau lihat! [2] engkau sudah dilahirkan, itu yang harus diterima, jika diberi waktu untuk berpikir sebelum dilahirkan ke dunia ini, pasti banyak yang memilih untuk dilahirkan dari keluarga yang serba bahagia, dengan kesempurnaan fisik yang memikat, bakat yang banyak dan kemampuan yang melampau rata-rata. Siapa yang bisa kembali ke rahim ibunya untuk berpikir sebelum dilahirkan? Tidak ada ! Frederick Nietzche ratusan tahun yang lalu sudah memikirkan tentang situasi ketika manusia kehilangan nilai, kehilangan pegangan, harapan, ketika nihilisme menyelimuti manusia.  Nietzche bukan inspirator Nazi seperti yang diketahui kita selama ini, sebab Ia tidak percaya kepada satu ideologipun, ketidakpercayaan terhadap adanya Tuhan baginya sama dengan kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak ada, kepercayaan terhadap sesuatu itulah yang Nitzche tolak, termasuk kepercayaan terhadap Nazisme Hitler.
          Santiago sudah menghabiskan banyak hari bertapa dan berkontemplasi, ia rela meninggalkan segalanya yang menjadi penghalang pencarian dirinya. Satu saja yang ingin didapatkan Santiago yaitu “Deus” “God” Got” merasakan kehadirannya saja sudah cukup bagi Santiago. Tetapi memang hanyalah ketiadaan yang Ia temukan. Apakah God sama dengan ketiadaan? Apa pentingnya mencari sesuatu yang tidak ada? Apakah mungkin ketiadaan bisa didapatkan? Santiago menyangkal metafiska tradisional bahwa “Ada” itu ada, ketiadaan juga “ada” dari fakta yang ditemukannya afirmasi sementara bahwa ada itu memeng tiada.  Jika God itu ada, mengapa tidak dapat dirasakan? Mengapa God tidak menolong disaat aku lemah?” Tanya Santiago.
          Bukan hanya Santiago yang merasakan bahwa God itu tiada. Sahabat-sahabatnyapun merasakan ketiadaan itu, terlalu banyak waktu terkuras tanpa dirasakan bahwa God itu hadir. Para pertapa itu seorang demi seorang memutuskan untuk kembali ke dunia real, God tidak ada dalam Biara, God sudah mati di sana! Ignasius Loyola berujar bahwa “satu-satunya tempat yang memungkinkan engkau berjumpa dengan God hanyalah dunia”. Dunia. Dunia. God ada dalam dunia, bukan terkurung dalam kesempitan sell suci, bukan dalam kekakuan time table, bukan dalam rutinitas baku Ordo Suci! God ada dalam dunia, yah, dalam dunia kerja, dunia olahraga, dunia musik dan lain-lain. God ada di sana. Bukankan para murid juga diperintah Isa untuk kembali ke Galilea? Setelah Isa bangkit dari antara orang mati dan menampakkan diri kepada murid-muridnya, Ia memerintahkan mereka utuk kembali ke Galilea sebab mereka sedang berada di Yudea. Di galilealah mereka akan berjumpa Isa. Galilea tempat para murid menjalankan aktivitas harian mereka, bekerja, kembalilah ke dunia di sanalah God ada!
          Santiago hanya mengafirmasikan jangan sampai jalan yang dipilih oleh para saudarnya itu tepat bahwa God sebenarnya ada di dunia. Jangan-jangan hidup yang Ia jalani saat ini hanyalah ilusi, sebab segala sesuatu hanyalah ketidak pastian.
Sintuz Bezy
Penfui, 03/04/2019
Ollen, Egi dan Aris
aku dan sisko
andre




[1] Martin Heideger, (tulisan ini bukan tulisan ilmiah, jadi saya hanya menyebutkan siapa filsuf yang melontarkan kata-kata di atas, untuk mengetahui lebih alanjut silahkan cari di sumber-sumber terpercaya).
[2] Frederich Nietzche

Rabu, 06 Maret 2019

Perjuangan Ayahku




"PERJUANGAN AYAHKU.."


(Oleh: sdra. Billy)

Semilir angin yang berhembus dari arah taman bunga, begitu terasa di tubuhku yang masih bertelanjang dada sehabis mandi. Suasana dalam biara begitu sepi, sunyi, sehingga kadang  membosankan. Hanya sesekali terdengar bunyi music dari balik tembok biara. Musik itu diputar oleh anak-anak kost yang tinggal di sekitar Biara. Mereka adalah para pelajar yang sedang belajar di beberapa Universitas yang ada di kota Kupang.
Bagi mereka, hidup ini terasa begitu kejam, bengis dan tak berperasaan. Membutuhkan perjuangan keras untuk mendapat sesuap nasi di siang dan malam. Sehari makan sekali, bagai hidup pada masa rodi dan romusa. Tetapi sebenarnya itulah hidup. Untuk mencapai kesuksesan di hari kelak, maka harus ada perjuangan. Tidak ada satu hal pun yang gratis di dunia ini.        Ya, semuanya butuh perjuangan. Setidaknya itulah seutas kalimat yang aku timba dari ayah, ketika ayah masih hidup, lima tahun yang tahun yang lalu.
Kala itu aku masih menjadi seorang bocah kecil. Berat badanku hanya berkisar antara 15 sampai 20 kilo gram. Bocah ingusan, kurus, kering, kotor, dan sering sakit-sakitan. Suka memanjat pohon, mencuri buah mangga, bermain gasing, kalereng, dan berbagai macam permainan konyol lainya sampai harus bertengkar dan berdarah-darah. Hanya karena suka bermain, aku sering lupa makan, lupa minum, bahkan lupa berdoa. Hal mana, sudah sering diajarkan oleh ayahku dalam rumah. Suatu hari, aku pergi kebun bersama ayah. Aku menunggangi kerbau kesayanganku, sedang ayahku berjalan kaki di depan, sambil menarik tali kerbau yang aku tumpangi. Di tengah jalan, kerbau melihat kubangan yang ada di tepi jalan. Maka dengan naluri kebinatangannya, kerbau langsung berlari menuju kubangan.Selanjutnya apa boleh buat, aku dan kerbau sama-sama tercebur ke dalam kubangan. Ketika keluar dari kubangan, aku melihat ayah tertawah terkekeh-kekeh menatapku yang berdiri kaku di samping kerbau. “Sekarang kamu dan kerbau tidak ada perbedaan. Kerbau induknya, dan kamu anaknya.’ Canda ayah sambil mengikat kembali sarung parang pada pinggangnya. Tubuhku penuh lumpur. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Yang terlihat hanya gigi dan biji mata saja. Sejak saat itulah, ayah mulai menyapaku dengan nama “Anak Kerbau”.  Itulah kenangan manisku bersama ayah.
Lamunanku buyar ketika mendengar lonceng biara sebagai tanda pergantian aktivitas. Aku bergegas mengenakan pakayan dan langsung menuju kapela untuk memulai doa kunjungan Sakrament kudus. Sosok ayah yang gigih dalam kerja, semangat, dan teguh berkomitmen, tetap terpatri dalam pikiranku, mengiringi langkah kakiku menuju kapela. Di dalam doaku sore itu, aku memohon kepada Tuhan agar ayah diperkenankan mendapat tempat di surga bersama dengan orang-orang pilihanNya. Tetapi bukan kerana kehendaku, melainkan kehendak Dia yang terjadi. Dia yang memberi rahmat hidup dan mati manusia, Dia pula yang menghapus segala dosa dan kekilafan makluk ciptaanNya. “Ayah, aku sangat merindukanmu” gumam hatiku sambil menghapus kembali air mata yang membasahi pipiku.
Langkah ayah mulai goyah ketika aku masih duduk di bangku SD. Sebenarnya, ayahku mengidap penyakit pernafasan. Nafas ayah selalu terengah-engah pada malam hari ketika sedang tidur, duduk, berbicara, atau berjalan kaki. Namun setiap kali aku bertanya, ayah selalu menjawab bahwa itu hanya bercanda saja. Semua itu ayah lakukan, karena memang sifat dasarnya yang tidak suka merepotkan orang lain. Bertahun-tahun sudah ayah  menyembunyikan penyakit itu dari aku dan ibuku. Sesulit dan sesakit apapun penyakit yang ia derita, ayah tidak pernah terbuka. Berulang kali aku melihat ayah menangis sendiri di pematang sawah, mungkin karena mengerang rasa sakit yang begitu menusuk. Kadang membuat ayah sampai tertidur di tanah, menahan dada karena sesak nafas. Hanya saja,  saat itu aku masih kecil.  Aku tidak mengerti mengapa ayah sering berlaku seperti itu. Semua rasa sakit itu ayah terima, sebagai pengorbanan cintanya kepada keluargaku. Ayah berpikir, jika nanti ia harus kembali ke hadirat Allah, siapakah yang memberi makan anak dan istrinya? Aku masih terlalu kecil untuk dipaksa bekerja keras. Oleh karena itu, tidak ada cara lain, selain memaksa diri untuk terus bekerja dan bekerja.
Aku beranjak keluar dari kapela bersama kawan-kawanku yang lain. Selangkah di depanku, ada frater Koni dan frater Ulle. Mereka berjalan keluar sambil bersenggolan badan, menunjukan kekuatan siapa yang lebih hebat. “Walleee, kau ini”, kata frater Koni dengan logat Bajawa-nya yang kental, sambil meraih bahu frater Ulle. “Terus kau mau apa? Saya tunggu kau di boulefard ew!!!” ancam frater Ulle sambil mencekik leher frater Koni. Di belakangku, ada frater Sintus dan frater Patris, mereka tengah asik berdebat tentang politik di tanah air. Setidaknya, itulah sejumlah percakapan yang menyertai perjalanan kami dari kapela menuju ke kamar masing-masing.
Wajah ayah kembali menguasai pikiranku ketika aku membuka buku harianku.     Tanggal 16 mey 2014, jam tujuh malam, aku mendengar kabar dari kampung bahwa ayahku telah meninggal dunia. Kala itu, aku masih duduk di bangku SMA Negeri Satu, kelas 12, di Kecamatan Riung Barat, alias Maronggela, Kabupaten Ngada, Flores, NTT. Masih terngiang jelas di memoriku ketika ayah memberiku pesan sebelum berangkat ke Maronggela, “Emma, pergi jangan terlalu lama. Kalau sudah habis sekolah, pulang cepat ke sini, jaga mama dan adik-adikmu” kata ayah sambil membuat tanda salib di keningku sebagai berkat. Apa yang terjadi selanjutnya, belum sempat menyelesaikan sekolahku, ayah sudah meninggal dunia terlebih dahulu. Itulah yang menyayat hatiku sampai tak mampu menahan derain air mata di pipiku senja itu. Aku meresa kehilangan yang begitu besar dalam sejarah. Hampa di tengah gelapnya hidup yang kian menyiksa. Aku merasa ayah terlalu tega meninggalkan kami sendirian. Semuanya terasa begitu sulit untuk menerima kenyataan pahit ini. “Ayah, aku belum tamat SMA, mengapa ayah sudah meninggalkan aku. Ayah, janjiku belum kupenuhi” tangisku di samping pembaringan ayah kala itu.
Setelah ayah dikuburkan, orang-orang mulai pulang ke rumah masing-masing. Hanya aku yang masih duduk di samping kubur ayah. Aku membayangkan betapa berat tanggung jawabku sebagai anak pertama.  Apa yang harus aku lakukan untuk membiayai hidup keluargaku. Tidak ada warisan dari nenek moyangku yang masih ada sampai saat ini, bahkan rumahpun masih berdinding pelupu. Haruskah aku berhenti sekolah, pergi merantau ke Malaysia mencari uang?
Seminggu kemudian, semua keluargaku berkumpul kembali untuk membahas tentang masa depanku. Mereka memutuskan agar aku tetap melanjutkan pendidikanku samapai selesai. Mengenai biaya setelah tamat SMA, mereka akan berjuang keras mengumpulkan uang agar aku tetap sekolah. “Fian, kami hidup susah tidak apa-apa. Hanya makan pisang bakar dan lombok juga tidak masalah, asalakan bisa hidup. Hidup susah bagi kami itu biasa, bahkan sandal jepit sepasangpun tidak bisa beli, masih dianggap biasa. Inilah kami yang tidak sekolah. Olah karena itu, kamu yang sekolah ini, berjuanglah sampai selesai.” Kata Bapa kecilku yang duduk di hadapanku dalam lingkaran usai makan malam. “Ema,orang cap kami manusia bodoh, juga kami terima. Karena memang kami tidak sekolah. Maka, kamu yang sekolah ini harus sampai selesai, supaya bisa bela kami. Setidaknya bisa mengangkat martabat keluarga kita yang kurang dihargai” Lanjut Ejaku sambil menyalakan api pada ujung batang rokoknya. Aku menatap keluargaku yang lain satu persatu. Ibuku hanya diam saja, berusaha menahan air mata. Sedang yang lain kebanyakan menunduk kepala, sambil sesekali meneguk kopi yang ada dalam gelas. Bibi dan Tantaku juga diam. Hanya diamnya mereka sambil terus memamah siri pinang. Aku melirik adik-adiku yang ada di sebelah kananku. Mereka tanpak begitu terlelap dalam tidurnya, setelah puas bermain karet gelang. Keesokan harinya, aku kembali ke Maronggela, melanjutkan sekolahku hingga tamat SMA.
Kini, lima tahun sudah setelah kepergian ayah. Namun semua kenangan bersama ayah masih terlukis jelas di benakku. Juga semua pesan-pesan keluargaku malam itu, masih kuingat dengan begitu detail. Wajah kusam mereka karena beban kerja, dipadu dengan gigi-gigi merah karena siri pinang.  Tulang pipi yang keriput. Kulit yang terbakar matahari, rambut mogi yang kurang terurus, dan semua kenanganku bersama mereka, mengalun dan mengalir dalam setiap derap langkahku dalam Biara. Tuhan, hapuskanlah dosa ayahku, dan terimalah ia dalam cahaya wajahmu. Dan juga mohon berkatmu untuk seluruh keluargaku di kampungku, Tajo, kecamatan Wolomeze, kabupaten Ngada. Itulah kisahku, sang “Anak kerbau”, yang kini menjadi Frater Karmel OCD Indonesia, tinggal di Biara Karmel San Juan, Penfui Kupang.

Berdasarkan kisah nyata dari Frater Fian Noy, OCD.
Ditulis dan dirangkai oleh Frater Billy Suna, OCD.



  N a s kah   A ct u s   P a s kah   202                                                 H A R A P AN   T I D AK   PE R N AH   MATI   ADEGAN...